Showing posts with label ShouXHiroto. Show all posts
Showing posts with label ShouXHiroto. Show all posts

Saturday, June 4, 2016

Fanfic Alice Nine: Trapped [DISCONTINUED]



Title: Trapped
Author:
Eri Matsumoto
Status: DISCONTINUED
Pairings:
ShouXHiroto
A/N:
Salah satu discontinued fanfic gw yang masih keselip di folder “On Going”. Tapi akhirnya gw udah nyerah sama ini fic dan ga punya niat buat ngelanjutin. FF ini ditulis tanggal 15 Oktober 2013. 

Summary: “Apa tidak ada yang lebih buruk dari ini?” batin Hiroto frustasi.



***
Trapped
DIV – Taste of Life


Pada awalnya Hiroto Ogata hanyalah pelajar SMA biasa dengan kegiatan yang itu-itu saja. Seperti berangkat pagi, mengerjakan tugas dan menikmati bentonya saat jam makan siang.Tapi kehidupannya mulai berubah saat ia bertemu dengan manusia berwajah malaikat berhati setan bernama Shou. Hidupnya benar-benar berubah total.

Semua berawal di hari Kamis pagi itu, Hiroto sudah akan bersiap pergi ke sekolah dengan sepeda. Tiba-tiba sebuah mobil melintas di sampingnya dan menabraknya. Hiroto terjatuh dengan keras ke arah pembatas jalan. Seketika mobil hitam berkelas itu berhenti.

Tak hentinya Hiroto mengaduh kesakitan dan mengumpati si pengendara mobil. Akibatnya lengan dan lutut Hiroto menjadi berdarah karena langsung bersentuhan dengan aspal. Di lain tempat, pintu mobil mewah itu terbuka dan menampilkan sosok lelaki tinggi dengan kacamata mahal yang melindungi kedua matanya.

Laki-laki itu kemudian menghampiri Hiroto dan merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Hiroto yang terjatuh. 

hey kamu gak apa apa?” sungguh sebuah pertanyaan dengan nada tak berdosa.

Sukses Hiroto melotot tak terima. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu?? Padahal terlihat jelas ada darah segar di lengan dan lututnya.

“kamu gak lihat tangan kakiku ini??!” Hiroto menunjukkan lengan kirinya dekat-dekat.
“oh maafkan aku. Tapi mobilku jadi lecet karena sepeda bututmu itu”

‘YANG BENAR SAJA??!!!!’ Teriak Hiroto dalam hati. Laki-laki itu lebih mementingkan mobilnya daripada korban bernama Hiroto yang mungkin bisa saja nyawanya melayang karena dia.

“dasar gak bertanggung jawab! Akan kulaporkan polisi karena kau menabrakku!” Hiroto benar-benar marah. Meski dengan tertatih-tatih, ia segera mengambil ponsel di tasnya yang jatuh tak jauh darinya.

“halo kepolisian, di sini ada kecelaka—”
“oke oke.. aku akan tanggung jawab
!” dengan kuat lelaki itu membungkam mulut Hiroto yang sedari tadi bicara tanpa henti.
“Itu hanya luka kecil diobati sedikit juga beres” sambungnya tanpa rasa penyesalan. Makin membuat Hiroto jengah dan menyumpahi laki-laki sombong ini.

“kamu bisa jalan gak?” tanyanya tanpa mengurangi kadar kesombongannya.
“masih tanya? Halo kepolisia—” Hiroto berpura-pura menelepon ke kantor polisi, dan si pria sombong itu kembali menurut. “tsk. Sekarang kau kuantar ke rumah sakit. Tapi jangan telepon polisi”
Hiroto tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil membuat orang ini takut. Dengan begini mungkin saja keinginannya akan dipenuhi. Jika menolak, telepon polisi saja.

Saat pria itu akan membopong Hiroto, tangannya pun dipukul pelan.“hey hey! Gak perlu ke rumah sakit. Belikan aku perban dan antarkan aku ke sekolah!”

“tsk. Dasar bocah! Menurut saja, lagipula kau tak bisa masuk ke mobilku dengan kakimu itu, kan?” ucapnya datar.

Hiroto pun merelakan tangan besar pria itu mengangkat tubuhnya masuk ke mobil. Di kursi depan bersebelahan dengan si pengemudi. Pria itu sudah bersiap menyalakan mesin dan langsung mendapat protes keras dari Hiroto.

“memangnya sepedaku bukan barang bukti?!”

Si pria sombong menghembuskan nafasnya kesal. Baru kali ini ia dipermainkan anak kecil miskin tak berkelas seperti Hiroto. Dan sepeda butut Hiroto segera dipindahkannya ke dalam bagasi mobil.

“jangan lamban! Sebentar lagi kelas pertamaku akan mulai!”

“dasar cerewet!”.

***

Suara riuh histeris dari para gadis di sekolah Hiroto pun pecah saat seorang lelaki tampan dengan gayanya yang keren masuk ke gedung sekolah Hiroto.

Hiroto kini sudah seperti mumi, lengan kanan diperban, kakinya banyak tambalan plester, ditambah cara jalannnya yang seperti robot. Karena sebelumnya ia diantar pergi ke klinik terdekat untuk mengobati luka-lukanya. Pagi yang mengenaskan bagi hiroto.

‘dasar penipu!’ umpat Hiroto dalam hati. Ia melihat laki-laki yang baru saja menabraknya dua puluh menit yang lalu itu tengah menebar senyuman maut kepada gadis-gadis di sana. Bertolak belakang dengan sifatnya yang sudah Hiroto rasakan tadi. Hiroto semakin kesal saat gadis-gadis itu menubruk dirinya hanya untuk bisa berdekatan dengan pria tampan di sebelahnya. ‘memangnya aku ini apa?! Seenaknya saja main tubruk!’

'Apa tidak ada yang lebih buruk dari ini?' batin Hiroto frustasi.

Mereka pun sudah sampai di kelas Hiroto dengan raut wajah keduanya yang saling berbanding terbalik.

“aku sudah mengantarmu tepat waktu. Jadi semuanya selesai”
Hiroto tersenyum licik “belum semuanya. Karena bukti kecelakaan ini masih belum sembuh. Kau juga harus bertanggung jawab sampai ini benar-benar pulih!” ancam Hiroto sambil menunjuk-nunjuk lengannya yang terbalut perban.
 
“kau...” ucap lelaki itu geram. Ia merutuki dirinya sendiri karena lalai mengendarai mobil. Kecerobohannya justru berakhir seperti ini.

“mana kartu namamu?” Hiroto menengadahkan tangan kanannya dengan ketiga jari yang ia julurkan. “untuk apa?”
“berikan saja atau aku akan menelepon polisi lagi”. Sekali lagi laki-laki itu menurut dan menyerahkan kartu nama dari balik dompet tebalnya.

Hiroto menyimak depan belakang kartu nama orang itu dengan seksama.
Shou Ohara, General Manager Fashion Agent—” ucap Hiroto tanpa sadar. Dan ia tersadar sepenuhnya saat ia mengingat kembali nama Fashion Agent.

“APPAAAA?!!!” teriaknya spontan. Membuat semua yang ada di kelas tak terkecuali Shou menjadi kaget.
“kenapa kau berteriak?”
“kk..kau.. GM Fashion Agent yang terkenal itu?”
Hiroto tak percaya bukan main. Pria sombong yang berdiri di depannya ini adalah General Manager Fashion Agent?? Oh, majalah fashion itu bahkan sering diributkan oleh adik perempuan Hiroto karena menampilkan baju-baju yang bagus kesukaannya. Adiknya selalu cerewet ingin dibelikan baju-baju yang ada di sana. Dan sekarang, kesempatan emas bagi Hiroto agar bisa membuat Shou lebih mau menurut lagi padanya.

Shou hanya memutar matanya malas. Ia sudah sering mendapat respon serupa saat orang-orang tahu dialah sang General Manager majalah fashion itu. “memangnya kenapa? Jangan norak”

“ck, dasar sombong! Kau, Shou Ohara, mulai sekarang hidupmu ada di tanganku. Jadi berbaik hatilah dan jangan terlalu sombong. Namaku  Hiroto Ogata.”
Kening Shou berkerut hendak protes, “apa maksudmu?”
 
“yah,, selama luka ini belum sembuh, kau masih bertanggung jawab atas ini.” ucapnya tenang. Hiroto bisa beruntung sekali ditabrak oleh orang kaya seperti Shou. Walaupun rasanya ditabrak mobil itu sakit sekali.
 
“terserah kau. Kalau kau butuh sesuatu, cukup telepon nomorku”
Seulas raut kebahagiaan tergambar jelas di wajah
Hiroto “baik.. sampai jumpa lain waktu, Shou-san”

Tanpa banyak bicara Shou pergi dan akan melanjutkan tugasnya di perusahaan yang tertunda, namun Hiroto kembali mencegahnya  “aa tunggu dulu..”
“apa lagi?”
Shou menoleh dengan wajah geramnya
“jangan lupa sepedaku diperbaiki, yah. Terima kasih tuan manager..” ucap
Hiroto dengan sebuah kekehan kecil di akhir kalimat.

Hiroto puas sekali bisa mengerjai Shou -sang tuan besar manager perusahaan majalah fashion internasional-. Dengan begini keinginan adiknya untuk bisa mendapat baju-baju bermerk dari Fashion Agent sudah di depan mata. Terlebih lagi ia bisa memberi pelajaran kepada Shou agar tidak bersikap sombong lagi.

Nyatanya, Shou tidak sebodoh itu. Ia sudah menduga kalau anak bernama Hiroto itu akan ‘memeras’ hartanya. Untuk Shou, hal seperti itu tak masalah. Dan sebaliknya, ia akan mudah bermain-main dengan bocah SMA itu.

***

Seminggu sudah sejak insiden penabrakan yang dilakukan Shou terhadap Hiroto. Dengan kemauan sendiri, Shou setiap harinya mengantar dan menjemput Hiroto ke sekolah. Padahal Hiroto hanya menyuruhnya untuk menjemputnya di persimpangan sekolah.  Hiroto tak merasakan ada hal yang aneh pada Shou, dan ia juga tak mau ambil pusing. Selama Shou masih ada bersamanya, maka ia bisa meminta sesuatu darinya.

“hai!” dengan senyum khas malaikatnya, Shou melambaikan tangannya saat melihat sosok anak SMA berrambut pirang dari jauh. Siapa lagi kalau bukan Hiroto.

Hiroto menghampiri Shou dengan heran “kau ini orang besar di perusahaan kenapa tingkahmu norak, sih?”

kenapa, aku hanya ingin menyapa kok. Oh ya, aku ingin mengajakmu makan siang di restoran Perancis. Pasti kau suka” ajak Shou sekali lagi dengan senyumannya yang menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya.

“tidak. Aku tidak lapar..” tolak Hiroto halus. Sejujurnya Hiroto memang tidak lapar sama sekali karena ia sudah makan siang dengan bekal bentonya.

Tapi Shou tidak menyerah. Ia ingin mainannya menuruti kemauannya. “ayolah, aku jamin makanannya cocok denganmu.”
Hiroto menaikkan sebelah alisnya-merasa direndahkan- “apa maksudmu? Kau mau bilang kalau aku ini kampungan dan gak cocok makan makanan mahal? Iya, begitu?”
Shou menyadari perkataannya yang ternyata salah dan segera meralatnya “bukan bukan.. maksudku, makanannya pasti cocok dengan lidah orang Jepang..”
“terserahlah. Tapi setelah itu aku mau pulang”

Shou mendapatkan mainannya lagi. Tanpa adanya kecurigaan dari Hiroto.

Pon chan..

“uhuk..uhukk!” Karena terlalu kaget, Hiroto sampai terbatuk mendengarnya. Ia pantas curiga dengan perkataan Shou barusan. “kenapa kau memanggilku seperti itu?!”

Shou tersenyum “aku sering dengar teman-temanmu memanggilmu begitu. Lagipula itu manis, cocok untukmu”

“kau menghinaku, ya?” ucap Hiroto acuh.

“tidak. Aku jarang sekali melihat orang dengan ekspresi wajah sepertimu”. Hiroto justru cemberut karenanya. Shou si lelaki tampan berhati setan itu barusan memujinya? Tidak bisa dipercaya, paling-paling dia berbohong-pikirnya.

“sudahlah, Shou-san. Aku tau sifatmu sejak dari insiden kemarin. Jangan membohongiku karena aku masih anak kecil.”

“No, I just said the reality…
“… dan sebenarnya a
ku ingin kamu jadi asistenku, bisa kan?”

“HEEEE??!!!!”

“kau ini tukang berteriak rupanya”
“ah! Aku –cuma kaget. Kenapa tiba-tiba? … Hey, aku masih sekolah” tanya Hiroto terbata-bata.

“kau butuh uang kan?” sekejap pertanyaan Shou membuat Hiroto menghentikan aktifitasnya. Berpikir curiga bahwa Shou sudah mulai tahu tujuan Hiroto sebenarnya.

“aku tak akan memberikan pekerjaan berat untukmu. Cukup menjadi asistenku, dan kau akan mendapat uang yang cukup. Ini pekerjaan gampang” ucap Shou meyakinkan.

Hiroto terus berpikir apa maksud Shou menawarinya pekerjaan. Di satu sisi ia merasa ragu jika ia nantinya akan ditipu atau semacamnya, tapi di satu sisi ia memang butuh uang untuk keperluannya meneruskan pendidikan ke Universitas. Hiroto sangat bingung di antara dua pilihan itu, menolak atau menerima??

“kapanpun kau bisa, aku akan menerimamu” Shou tersenyum manis seperti biasa, entah rencana apa yang akan ia lakukan di balik senyuman itu.

“akan kupikirkan nanti”

Senyuman kecil terukir di bibir Shou setelahnya. Ia hanya perlu menunggu, dan ia sangat yakin kalau Hiroto akan mengambil pekerjaan itu.

***


Notes: iya udah segitu doang. Selanjutnya silakan berimajinasi sendiri www~

Monday, November 17, 2014

Banner Baluuu~

Gw akhirnya ganti banner blog juga, temanya tetep pake Shoupon xDD kepikiran bikin banner baru gegara A9 (sekarang alice nine ganti nama cyinn) aplod video officialnya ke youtube. Gw donlot dan gw screencap lah itu video. Thiss..


Walaupun cuma trailer rasanya indah banget mereka di video itu. Mereka makin mature *////*, sepuluh tahun lebih sahabatan keren banget bisa awet sampe sekarang.. mungkin gw lebay, tapi pas nonton part mereka di shoot close up atu atu, gw nangis boo' *cengeng amat gw*, cuma ngeluarin air mata dikit sih karena terharu apalagi pas scene terakhirnya tuh adaoww *w* gak nyesel gw ngefans alice nine selama ini :")

back to banner, well gw ambil poto mereka berdua dari ini


dan ini


Gw fusion+edit maso keduanya jadi begini


kapan-kapan nyoba pake ToSa semoga berhasil fufufu~~

Wednesday, November 12, 2014

Fanfic Alice Nine: The Truth (Oneshot)

Title: The Truth
Author: Eri Matsumoto
Pairings: ShouXHiroto
Genre: angst, sho-ai, fluff
Chapter: Oneshot
A/N: fanfic baru yeeeyy \^^/ Ini adalah ff yang muncul di saat kemaren gw ikut talkshow nya bang Raditya Dika dan materinya seputar menulis. Gw pun semangat nulis lagi, dan ini cukup meredakan hasrat (?) nulis ff gw. Walaupun masih jauh dari kata bener baik dari segi penulisan, karakter dll. betewe, ini fic pendek cuma jadi 5 halaman doang (buat pemanasan ceritanya, halah XD) Happy reading
J


The Truth
Sigur ros - Samskeyti



Tidak ada hal yang berarti bagi Shou saat ia bertemu dengan bocah pirang itu. Tidak ada yang spesial pikirnya. Namun mungkin saja ia keliru, bisa jadi perkenalannya dengan Hiroto adalah momen yang akan menentukan kehidupannya selanjutnya.

Nobody knows.
***
Hiroto mengetahui segala sesuatu tentang Shou. Apapun itu. Segala hal yang Shou sukai, yang Shou benci, sampai rasa cinta Shou kepada orang bernama Saga Hiroto juga mengetahuinya. Bukan sesuatu yang mengenakkan bagi Hiroto untuk tau siapa peran Saga di hidup Shou. Sementara ia sendiri tengah dilanda konflik batin yang hebat antara perasaannya terhadap Shou. Mungkin bagi Shou, ia sama sekali tak mengingat saat-saat ia bertemu dengan Hiroto. Namun Hiroto menganggapnya berbeda. Bocah pirang itu mengingatnya-sangat mengingatnya-, saat tangan Shou terulur memberikan bantuan kepada Hiroto yang terjatuh, saat suara malaikat itu ingin tahu apa Hiroto baik-baik saja, dan sebuah senyuman tersungging di bibir Shou saat tahu kalau Hiroto tidak terluka sedikitpun.

Mungkin Shou memang baik pada siapapun, bukan hanya Hiroto seorang. Tapi kebaikan itulah yang membuat Hiroto tak bisa menghindar. Shou terlalu baik, bahkan Hiroto pernah melihat sendiri ketika Shou berhenti di taman kota hanya untuk menenangkan gadis kecil yang tertinggal orang tuanya. Padahal saat itu Shou nyaris terlambat masuk sekolah, dan Hiroto tahu akan hal itu. Itulah sebabnya mereka terlambat masuk sekolah bersamaan, dan dihukum berdiri di koridor bersamaan pula. Satu momen indah bagi Hiroto, tapi mungkin tidak bagi Shou.

Mereka tidak terlalu dekat saat di kelas karena Hiroto yang cenderung ‘mengisolasi’ diri dari yang lain. Namun di beberapa kesempatan, Hiroto mencoba untuk berbaur-terutama pada Shou-. Ia seringkali berbohong dengan sengaja, berpura-pura menghilangkan pulpennya atau sekadar meminjam catatan Shou. Menurutnya itu sudah lebih baik daripada ia hanya menjadi ‘stalker’ kampungan yang tiap harinya hanya melihat Shou dari jarak jauh.

Hiroto sama sekali tidak mempermasalahkan keputusan Shou saat mengencani Saga seminggu yang lalu. Ia bahkan rela jika ia diminta untuk menjadi sekadar ‘obat nyamuk’ di antara mereka berdua. Tapi satu hal yang Hiroto tak bisa hanya berdiam diri saja. Saga mengkhianati Shou. Efek sakit hati yang mendalam tak hanya dirasakan Shou semata, tapi Hiroto merasakannya. Sakit. Lebih sakit saat Hiroto melihat Shou memeluk dan mencium Saga selama ini.

Satu tindakan nekad yang Hiroto lakukan saat itu adalah memukul perut Saga tepat di hadapan Shou. Hiroto tiba-tiba saja datang saat mereka tengah berdua yang Hiroto yakini sebagai pengakuan Saga telah mengkhianati Shou selama ini. Shou dan Saga dengan segala kebingungannya melihat Hiroto dengan penuh tanda tanya. Shou hanya mengenal Hiroto sebagai classmate yang akhir-akhir ini sering berbincang padanya, dan Saga hanya mengenal Hiroto sebagai bocah introvert yang tidak penting di kelas. Namun semua ekspektasi Saga mengenai Hiroto berubah seketika saat bocah pirang di depannya  ini berteriak padanya dan menangis. Di situlah Shou dan Saga tahu bahwa selama ini Hiroto menyukai Shou teramat dalam.

“aku menyukaimu Shou..”

Shou hanya diam. Saga melihat anak ini bercampur kesal dan kasihan. Ia merasa bersalah kepada Shou dan juga Hiroto. Kebaikan Shou tak pantas dibalas pengkhianatan Saga, itulah hal yang mendorong Hiroto berbuat nekad seperti itu. Namun sejak pengakuan Hiroto, ada keheningan yang cukup lama. Hiroto tau ia tak akan bisa meraih Shou, dan ia sudah salah dengan perbuatannya tadi.  Ia pun memilih pergi dari sana, meninggalkan bekas rasa sakit di perut Saga dan meninggalkan Shou dengan keterkejutannya. Hiroto sudah membuat image nya jelek di depan Shou, satu hal yang Hiroto sesali..

***

Bukan perkara yang mudah mengembalikan suasana dingin di antara Shou dan Hiroto. Shou masih belum percaya jika Hiroto benar-benar menyukainya. Ia lebih baik memilih diam, dan mungkin akan terus diam jika Hiroto tak berkata padanya lebih lanjut.

Hiroto tak tahan dengan kondisi seperti ini, dua minggu sudah sejak insiden hari itu, insiden di mana Shou resmi berpisah dengan Saga dan insiden pengakuan Hiroto yang tiba-tiba di depan mereka. Hiroto sudah menerima resiko yang akan ia hadapi nanti, yang jelas ia ingin membuat masalah ini cepat selesai.

“maafkan aku. Aku terlalu egois” momen yang tepat dipilih Hiroto, saat semuanya sudah meninggalkan kelas dan hanya menyisakan mereka berdua di sana.

“aku hanya bermaksud untuk membelamu. Aku...aku..”

Shou tetap diam, ia menunggu Hiroto berbicara lagi. Sampai Hiroto sudah tak sanggup dengan kalimat yang ia rangkai sejak semalam, Shou akhirnya berbicara.

“sudah sejak kapan kau menyukaiku?” nada yang tidak pernah Hiroto dengar sebelumnya dari mulut Shou. Dingin sekali. Ia bahkan merasa nyeri di dada kirinya.

“saat kau menolongku waktu itu”

Hiroto bisa melihat dahi Shou yang berkerut. Ia sudah mengiranya, Shou pasti sudah lupa. 
“saat kita pertama kali bertemu”

Dan sepertinya Shou nampak menyadari akan hal itu. Sungguh, itu sudah lama sekali batinnya. Ia kembali mengingat kapan mereka bertemu untuk pertama kali.

Dua tahun yang lalu di persimpangan jalan menuju sekolah. Hiroto terjatuh dari sepedanya karena menghindar portal yang baru saja di pasang semalam. Banyak yang melihat kejadian itu, tapi tak ada satupun yang membantu Hiroto sekadar berdiri. Kecuali lelaki itu. Lelaki berseragam sama dengan Hiroto yang dengan kebaikan hatinya mau menolong Hiroto. Ia tidak tau bahwa Hiroto satu sekolah dengannya, karena di hari itulah Hiroto mulai bersekolah di tempat yang sama dengan si lelaki tadi.
“kau tidak apa-apa?” suara kekhawatiran yang tiba-tiba muncul membuat Hiroto berpaling dan melihat siapa pemilik suara indah ini.

Jari-jari tangan yang panjang dengan pergelangan tangan yang terbalut handband kain bergaris hitam-putih itu terulur di depan Hiroto yang masih sedikit shock. Ditambah sosok seorang lelaki berrambut coklat gelap yang poninya sedikit menutupi sepasang mata bulatnya, dan tulang dagunya yang cukup runcing. Hiroto tersentak melihatnya.

“tidak.. aku tidak apa-apa..”

Lelaki tadi pun tersenyum lega dan segera membantu Hiroto berdiri. Dalam hati Hiroto sangat senang jika orang ini satu sekolah dengannya. Masih ada orang baik di sini batinnya.

“kamu kelas berapa? Rasanya aku tak pernah melihatmu di sekolah?”

Masih membenarkan posisi sepedanya, Hiroto sedikit canggung atas obrolan perdananya pada orang di Hokkaido “maaf, aku baru pindah dari Tokyo”
“oh! Bagaimana kalau ke sekolah bareng ? Kau mungkin belum tau areanya”
“terima kasih banyak..”
“aku Shou, kamu ?”
“Hiroto. Ogata Hiroto.”

Salah satu dari mereka tidak ada yang menyangka kalau Hiroto akan satu kelas dengan Shou. Kenyataan Hiroto untuk bisa satu sekolah dengan Shou ternyata lebih baik dari itu. Teman baru Hiroto menyambutnya dengan berbagai macam reaksi. Anak-anak perempuan saling berbisik membicarakan Hiroto, mereka senang melihat wajahnya yang seperti masih SMP, sementara Shou menyambut Hiroto dengan hangat. Sengaja atau tidak, Shou tersenyum manis dan sedikit melambaikan tangan pada Hiroto yang tengah memperkenalkan diri di kelas.

Seiring berjalannya waktu, Hiroto agak sulit beradaptasi dengan teman-teman barunya. Karena rambut pirangnya itu ia sering dibully yang kebanyakan dari murid laki-laki. Seperti mengolok-olok dengan sebutan ‘the lost gaijin’ (bule nyasar) di manapun Hiroto berada. Maka dari itu Hiroto lebih nyaman berada di kelas saat istirahat tiba. Sama halnya yang terjadi di lokernya, beberapa sampah sepertinya memang sengaja dibuang di sana. dengan sabar Hiroto mencoba untuk tetap tenang, ia tak mau membuang energinya percuma untuk mengajak duel dengan orang-orang yang membulllynya.

Hiroto yang semakin tenggelam dengan dunianya sendiri lambat laun membuat para siswi di kelasnya kurang memperhatikan Hiroto lagi. Hanya sesekali, selebihnya Hiroto menjadi introvert. Shou pun sama saja, bukan karena Shou yang tidak ingin lebih dekat dengan Hiroto. Tapi Hiroto sendirilah yang berusaha menutup diri. Namun dibalik itu, diam-diam Hiroto mulai memperhatikan Shou. Membuat catatan khusus tentang Shou dan perlahan ia merasa sudah menyukai Shou lebih dari sekadar teman.

“Shou, boleh pinjam pulpennya?” pertanyaan Hiroto sukses membuat Shou agak keheranan. Tidak biasanya Hiroto meminjam barang orang lain di kelasnya. Dengan cepat Shou mengambil sebuah pulpen yang tersimpan di laci mejanya, memberikannya kepada Hiroto dengan tersenyum kecil. Di saat yang bersamaan tangan mereka bersentuhan, seperti adegan romantis di novel teenlit yang berujung manis. Hanya Hiroto yang merasakannya berbeda, menjadi istimewa saat tangannya bersentuhan langsung dengan tangan Shou.

Selama ini Hiroto hanya ‘menyukai’ Shou secara sepihak, karena Shou sudah memiliki kekasih bernama Saga. Tak ada keberanian Hiroto untuk mengungkapkan perasannya.

Hingga saat ini.

“aku senang saat ada yang mau membantuku”

“..dan aku teramat senang saat tau bahwa kaulah orangnya..”

Ekspresi Shou tidak berubah, matanya menatap lurus ke arah Hiroto seakan ingin terus menggali lebih dalam lagi apa yang selama ini Hiroto sembunyikan darinya. “jika seandainya orang yang menolongmu saat itu bukan aku,?”

“kau berbeda Shou..”

Binar harapan terlihat jelas di mata Hiroto. Shou melihat sebuah kejujuran di setiap ucapannya. Ia tidak bisa mengelak, lelaki kecil berrambut pirang di depannya ini sudah berkata jujur sedemikian rupa.

“ya, memang aku yang salah”

Hiroto bersiap hendak pulang, mengambil tasnya yang masih tergeletak di kursi. Ia berharap tangan itu yang menahannya pergi. Hingga ia keluar kelas pun tak ada respon berarti dari Shou. Seperti yang sudah ia ramalkan sebelumnya.

***

Sepi.

Shou menjadi seorang diri di kelas, sejak ditinggal Hiroto beberapa menit yang lalu. Ia diam bukan sedang tidak memikirkan sesuatu. Ia sedang mencerna kembali pengakuan Hiroto padanya. Sebegitu berartinya kah dirinya bagi Hiroto?

Jauh kembali mengingat ada momen dirinya bersama Hiroto satu per satu. Ketika Shou menyadari jika ia bukanlah satu-satunya yang terlambat masuk kelas, ada Hiroto di belakangnya yang akan menjalani hukuman bersamanya. Ia juga sadar bahwa Hiroto terlihat begitu nyaman saat berbicara dengannya. Sesutu hal yang baru ia rasakan sekarang, perasaan aneh yang melandanya saat ia bersama Hiroto terjawab sudah.

‘aku terlalu naif..’

Secepat yang ia bisa, Shou berlari dari dalam kelas mengejar Hiroto. Ia susuri koridor yang sudah sepi, menuruni anak tangga hingg ia keluar dan tiba di depan sekolah. Shou menemukannya.

Sosok yang ia cari.

Hiroto merasakan ada sebuah tangan menariknya cepat dan tangan yang lain mendekapnya di pelukan seseorang. Seseorang yang ia kenal sebagai Shou tengah memeluknya erat, seakan tak ingin dilepas. Dagu runcing Shou mendarat di bahu kanan Hiroto, degup jantungnya seakan berirama tak karuan. Wajahnya mulai memanas, Hiroto masih belum percaya akan hal ini sepenuhnya.

Cukup lama Shou menarik Hiroto dalam dekapannya, ia merasa nyaman karenanya. Dalam pelukannya Shou berbisik, “aku tidak pernah menyalahkanmu”. Mata Hiroto membesar mendengarnya. Suara berat Shou mampu memberhentikan kerja sistem otak Hiroto sementara, ia pun tak membuat pergerakan atas pelukan ini.

“..karena kau tak berbuat salah..” lanjutnya

Sedikit keheningan menyeruak di antara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“sudahkah kubilang aku mencintaimu, Shou ?” tanya Hiroto tiba-tiba.
Hiroto tau kalau Shou sedang tersenyum, helaan nafasnya terasa di bahunya. “kau baru saja mengatakannya..”

Hiroto tak mampu lagi untuk tak tersenyum, ia berhasil mengatakannya. Ia mengira Shou tidak akan membuka hatinya untuk Hiroto. Namun kenyataannya tidak berkata demikian. Shou yang selama ini ia lihat dari jauh, kini sedang memeluknya. Sungguh, Hiroto tak ingin momen ini berakhir.

Shou melepas pelukannya perlahan, namun kedua tangannya masih memegangi pinggang mungil Hiroto. Kedua mata mereka saling bertemu. Hiroto bisa melihat dirinya di iris mata Shou, begitu sebaliknya. Dengan saling melempar senyum satu sama lain.

Tiupan angin di awal musim gugur yang mulai menghangat, tidak serta merta membuat mereka menyudahinya segera. Justru membuat mereka kembali dalam kehangatan sebuah pelukan.

Bukan suatu kesengajaan, dan bukan suatu yang dipaksakan.

They only knows.


Owari
2014/11/12