Showing posts with label ToraXSaga. Show all posts
Showing posts with label ToraXSaga. Show all posts

Friday, August 29, 2014

Alice Nine dan 10 Tahun Ini

Mumpung saya masih stay di blog, mau nulis lagi ini ceritanya hahahah XD

Tentang Arisu nain yang udah lepas kontrak sama PSC akhir Agustus ini. Efek samping (?) nya banyak ternyata, Club Alice bubar, Alice Nine Channel berhenti tayang (terakhir akan airing tanggal 30 September depan, semua akun twitter Shou cs ditutup dan sebagai penggantinya mereka bikin akun twitter baru. Sampai sekarang baru Shou (@A9Show), Hiroto (@hrt_A9), Saga (@Saga_A9), dan Nao (@Nao_A9). Tinggal Tora doang yang belum bikin hihi..

Shou udah ganti nama jadi Show, dia pun bikin akun instagram sama page fb. hmmm, dia bener-bener ngerasa bebas sekarang. Bisa ini itu tanpa paksaan dari tante Ozaki. Ulang tahun Alice Nine yang ke 10 juga banyak momen indahnya ^^, ngadain live di outdoor hujan-hujannan tapi mereka bisa mengatasinya dengan profesional. Mereka pun ngadain after party, minum2, foto2 dll, bahkan OTP saya makin berani ngasih fanserv >////< senang rasanya mereka bisa menikmati 10 tahun ini dengan 'kebebasan'.

Ohya, akun twitter @GAJEliceNine juga bikin project kemarin buat ultah alice nine ke 10. Kami hanya bikin foto dengan barang ori arisu/fanart dengan pesan yang mau diucapin. Hasilnya keren, cover lagu buat BGM nya saya sukaaaa banget. Rasanya pengen nangis pas nonton videonya. Seneng banget pas videonya dilihat Hiropon, entah apa ekspresia pas dia lihat itu. Saya bangga jadi Number Six walaupun baru enam tahun suka Alice Nine. Mungkin itu juga yang dirasakan para Number Six lainnya.

Semoga Alice Nine bisa terus berkarya lebih dari 10 tahun lagi, jangan pernah ada kata bubar. Kami selalu mencintai kalian.

Proud to be Number Six :')

Friday, January 24, 2014

Fanfic alice nine: Kimi to Boku -You and I- [chapter 1]



Title: Kimi to Boku -You and I-
Author: Eri Tonooka
Chapter: 1/2
Pairings: ShouXHiroto, ShouXHiroki, ToraXSaga (slight)
Genre: Romance, Slice of Life, Fluff
A/N: Kalau ada sedikit kemiripan plot di ff ini dengan anime Kimi to Boku, maklumilah saja karena saya memang terinspirasi dari anime itu *nyengir kuda*. Oiya, POV disini ada dua karakter, semoga ga bingungin /plak

Kimi to Boku -You and I-
LUCHe. -Kokoro no Koe-
chapter 1



“Hirokiiiiii !!!!!! percepat mandimu, nanti aku telat !” akh,, suara nii-chan memang sangat keras saat seperti ini. Tapi bukan aku namanya kalau tak membuat sedikit saja kejahilan pada nii-chan. Sepuluh menit lagi aku akan keluar nii-chan, siapkanlah amunisi untuk memarahiku nanti.. hahahaha..

“sebentar lagi nii-chan, aku baru saja masuk lho” ucapku sambil terkikik pelan. Aku tak bisa membayangkan ekspresi marah besar nii-chan seperti apa. Karena sulit sekali membuatnya marah besar apapun masalahnya. Mungkin saja kepalanya akan tumbuh dua tanduk dengan wajah yang sudah merah dan telinga mengeluarkan asap. 

“baiklah kalau kau tidak mau keluar, nii-chan tidak akan membelikanmu kue manju lagi”

Gawat, nii-chan mulai mengancamku! Pintu kamar mandipun segera kubuka, dan melihat sosok nii-chan berdiri di sana masih dengan rambut kusutnya serta handuk yang tergantung dilehernya.

“ah iya, nii-chan maaf membuatmu menunggu lama.hehehe,, silakan pakai kamar mandinya..”

Nii-chan sudah sangat hapal kebiasaanku. Yah, walaupun kami saudara kembar dengan ia yang lebih dulu terlahir tiga menit dariku, bukan berarti kami memiliki semua persamaan. Berbeda denganku yang lebih atraktif, nii-chan cenderung pendiam dan kalem. Dari selera makanan pun juga, aku sangat menyukai makanan manis  seperti kue manju favoritku, sedangkan nii-chan lebih suka makanan asin seperti keripik dan salah satunya adalah keripik kentang yang dijual di konbini perempatan jalan sana. Dia terlihat seperti orang tua bila dibandingkan denganku yang lebih modis dan keren ini.

Kami terlahir di keluarga bermarga Ogata dengan nii-chan bernama Hiroto dan aku adiknya bernama Hiroki. Hal mudah yang dapat membedakan kami adalah terletak di warna rambut kami. Aku sengaja mengecatnya dari SMP agar teman-temanku ataupun teman-teman nii-chan tidak kesulitan mengenali. Dari lahir, kami memiliki warna rambut hitam, tapi aku merubahnya menjadi cokelat dan membiarkannya panjang seperti ini, dan karena itulah Okaa-san memarahiku hampir seminggu lamanya. Aku dan nii-chan memang tidak satu kelas semenjak masuk SMA ini, tapi itu bukan berarti kami tidak berangkat dan pulang bersama. Jika nii-chan pulang lebih dulu, ia akan menungguku, begitu pun sebaliknya.

Ishigaru Gakuen merupakan sekolah kami, dan sekarang aku berada di kelas 2.4 dan nii-chan di kelas 2.1. Jujur saja, sebenarnya aku sudah akan ditempatkan di kelas yang sama dengan nii-chan, tapi karena aku yang terlalu nakal dan lebih sering bermain game, maka jadilah aku berada di kelas ini. Dan tentu saja aku tak menyesalinya karena aku memiliki teman baik di sini. Dia cowok tinggi kurus yang wajahnya seperti perempuan, dan terlihat cukup manis jika kau bertemu dengannya.

Akh, kenapa aku harus menjelaskan Saga padamu? Lihatlah saja nanti saat tiba di sekolah.

Aku sudah selesai memakai seragam ini dan akan bergegas ke meja makan, sedangkan nii-chan baru saja keluar kamar mandi. Kasihan sekali kakak kembarku ini, selalu saja bisa kukerjai.

“Ohayou !” sapaku pada Okaa-san yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
“Ohayou Hiroki. Mana kakakmu?” tanya Okaasan sedikit menoleh ke arahku.
“masih bersiap-siap. Sebentar lagi juga turun” jawabku santai sambil menggigit roti tawar dengan selai coklat di tengahnya.

“memangnya karena siapa aku telat mandi, Hiroki?” yak, nii-chan ternyata sudah berada di belakangku. “..gomen ne nii-chan. Janji deh gak akan gitu lagi” bujukku.
“iya kumaafkan. Oh ya, Otou-san sudah berangkat kerja?” tanya nii-chan sembari duduk dan mulai menyantap roti panggang sarapannya.

“setengah jam yang lalu ayahmu sudah berangkat. Hari ini dia mendapat jabatan cukup tinggi di kantor, jadi ia tak ingin membuat kesan buruk terhadap bosnya” tutur Okaa-san.

“oh begitu..” aku hanya mengangguk sambil menghabiskan roti panggang ini. “nii-chan, hari ini aku ada jam tambahan sampai sore. Nii-chan pulang duluan saja”. Kulihat nii-chan tak merespon ucapanku, ia lebih fokus pada makannanya. Menyebalkan. “nii-chan, kau dengar tidak?”

“aku dengar Hiroki. Tapi ingat, setelah selesai langsung pulang” nii-chan seperti orang tua saja, dan Okaa-san hanya tertawa kecil melihatnya.

“aku mengerti. Okaa-san, aku sudah selesai. Nii-chan ayo berangkat!” aku pun bergegas dari kursi dan keluar, sementara nii-chan mengikutiku dari belakang.

“kami berangkat Okaa-san !!”

***

Aku dan nii-chan akhirnya tiba di sekolah tanpa terlambat seperti yang nii-chan cemaskan. Kami pun berpisah di koridor kelas menuju kelas masing-masing.

“Hiroki ! Ohayou~” aku kenal suara ini. Suara yang selalu menyapaku saat aku memasuki kelas.

“yo!” jawabku sekenanya dengan sedikit mengangkat tangan ke arahnya.

“hei hei hei.. kenapa tidak semangat? Ada masalah?” cowok tinggi bernama Saga yang sekaligus menjabat sebagai teman baikku ini seperti polisi saja. Menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan.

“tidak. aku hanya malas menghabiskan waktuku dengan jam tambahan nanti” Saga memanyunkan bibirnya dan mengangguk kecil. Sepertinya dia paham apa yang kurasakan sekarang. “..padahal aku akan menamatkan game Dragon Quest versi terbaru sepulang nanti. Akh.. menyebalkan!” umpatku sambil melempar tas ke atas meja.

“daripada memikirkan itu, aku punya sesuatu untukmu” Saga kemudian pergi ke arah mejanya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “ini, makanlah. Semalam adikku membuat ini untuk pacarnya, tapi karena terlalu banyak ia memberikannya padaku” Saga menyerahkan padaku sebuah kotak yang berisi bola-bola coklat yang kelihatannya enak.

“coklat? Ah, benar! Hari ini valentine!” aku langsung teringat kalau hari ini tanggal 14 Februari. Tapi sayang, aku belum punya pacar sama sekali sejak dua tahun terakhir. Untuk Saga, tentu saja dia punya. Seorang laki-laki lah yang berhasil memikat hati Saga, bukan seorang perempuan. Memang kedengarannya aneh, sangat aneh tapi tidak masalah karena Saga selalu aman-aman saja berpacaran dengan laki-laki itu.

“cepatlah cari pacar Hiroki, masa mudamu di SMA sangatlah berharga. Perempuan dan laki-laki tidak masalah..”
“apa kau bilang? Seenaknya saja tidak mempermasalahkan gender? Aku masih normal tau!” omelku di depannya, dan Saga cuma cengengesan tidak jelas.

“cari pacar tidak segampang yang kau kira Saga-kun. Sama sepertimu yang memilih-milih pacar sebelum akhirnya kau jatuh cinta pada Tora-san” ungkapku sedikit pasrah dengan keadaan. Aku masih sakit saat pacarku yang sebelumnya memutuskanku tiba-tiba. Masalahnya hanya sepele, dia bilang aku lebih mencintai game daripada dia. Ish, dianya saja yang tak tau dunia lelaki.

“hmm..entah mengapa aku rasa, sebentar lagi kau akan jatuh cinta dengan seseorang. Aku juga tak bisa memastikan sih.” ucap Saga yang terdengar seperti peramal jaman dulu yang ketepatannya seratus persen akurat. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri saat ia berbicara begitu.

Suara riuh di kelas pun mendadak berhenti saat kulihat sensei berkepala botak itu memasuki kelas. Pelajaran membosankan pun dimulai, Hiroki !

***

Huftt... pelajaran hari ini cukup melelahkan. Kasihan Hiroki, pasti ia sangat kebosanan dengan pelajaran tambahannya. Aku harap ia tidak kabur lewat pintu rahasia di belakang gudang.

Drrrt...drrrtt...drrt...

Ponselku bergetar, seseorang menelponku. Tahu saja aku baru selesai sekolah. Kulihat nama kontak yang tertera di layar.

Shou.

“moshi moshi~” sapaku.
“moshi moshi, Hiroto”
“doushite Shou-kun?”
“kamu sudah pulang sekolah?”
“iya, baru saja”
“hmm, kalau gak keberatan setelah ini kita ketemuan di kafe biasa. Bagaimana?”
“etto. Aku minta izin Okaa-san dulu”
“ah oke! Aku tunggu di sana. bye”

Sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini. Bahkan mungkin saja Hiroki akan pulang lebih dulu. Kutelepon Okaa-san di rumah dan akhirnya izin pun kudapatkan. Segera ku pergi ke kafe yang Shou maksud.

Shou, cowok tinggi yang selalu menebar senyum itu adalah teman ku saat aku duduk di Sekolah Dasar. Kami bertemu secara tidak sengaja saat aku sedang sendirian di konbini. Aku yang saat itu akan membeli keripik kentang favoritku tiba-tiba mendengar samar suara tangisan anak kecil dari balik rak penjualan kaleng minuman. Karena penasaran, aku pun pergi menengoknya, dan ternyata ada seorang anak kecil seusiaku sedang meringkuk dengan badan yang gemetaran. Walaupun agak takut, aku tetap menghampirinya.

Aku memanggilnya pelan dan anak itu mendongakkan kepalanya melihatku. Anak yang malang pikirku. Aku kembali mengajaknya berbicara dan ternyata penyebab ia menangis sendirian di sana adalah ia tertinggal Ibunya dan tersesat hingga sampai ke sini.

Kami melaporkannya ke pos polisi dan membuahkan hasil dengan menunggu sekitar dua jam. Shou terlihat senang sekali dan kami pun berkenalan. Aku baru tau juga ternyata Shou bukan anak yang tinggal di sekitar sini. Ia ke Tokyo untuk liburan musim panas dan hari ini ia dan keluarganya akan pulang ke Kanagawa. Setelah itu kami tak pernah bertemu hingga pada akhirnya kami bertemu lagi di tahun pertama SMA. Walaupun kami berbeda sekolah, tapi kami masih saling berhubungan lewat telepon seperti tadi dan sesekali kami pergi bersama. Shou hanya tau kalau aku mempunyai adik, tapi ia tak tau kalau adikku itu saudara kembarku.

Sebuah kafe bernuansa vintage dengan alunan musik klasik inilah tempat favorit yang sering aku dan Shou gunakan sebagai tempat menghabiskan waktu senggang. Kulihat ke dalam dan kutemukan sesosok laki-laki berkacamata coklat tengah duduk di sana. Shou sedang asyik menikmati minumannya.

“maaf membuatmu menunggu lama” aku langsung duduk di seberang kursi yang Shou duduki dan meletakkan tasku di bawah.
 “gak apa-apa kok. Kamu sudah makan?”
Aku mengangguk. “mau pesan kopi?” tawarnya.
“smoothie saja. Aku sedang tidak ingin tidur larut malam, kantung mataku akan menebal lagi” yah, aku sudah mulai membiasakan untuk tidak minum kopi lagi.
“hahaha,, walaupun matamu begitu kau tetap lucu” ucapnya dengan kekehan khasnya seperti biasa.

Strawberry smoothie pun dipesan, hanya menunggu saja minuman itu akan datang.

“sekarang Shou-kun mau bicara apa?”
“hmm, aku rasa ini akan sulit kau jawab. Tapi aku harus memberitahumu hal ini” dari apa yang dibicarakan, ia sangat serius. Semoga bukan masalah yang rumit.

“untuk itu, terimalah ini”
Shou merogoh sesuatu  dari kantung jaketnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kertas emas yang tak pernah kulihat sebelumnya. Shou menyodorkannya ke arahku.

“bukalah ini di rumah, dan kamu bisa menjawabnya besok.” Ucapnya.

“kenapa harus besok?” tanyaku karena memang aku sungguh penasaran dengan ini.
“karena ini pertanyaan yang sulit. Besok kita akan bertemu lagi di sini.”

Bertepatan dengan itu, segelas strawberry smoothie pesananku sudah datang. Entah mengapa perasaanku jadi berdebar-debar seperti ini. Apa mungkin karena gelagat Shou yang berbeda hari ini? ah entahlah..

***

Apa yang sebenarnya ada di dalam kotak ini? Melihat ekspresi Shou tadi siang, aku tak  bisa menebaknya. Aku sangat lelah hari ini, seharusnya aku bisa pulang ke rumah pukul tiga tadi. Sampai di rumah aku akan tidur...

“tadaiima..”

Sepi, tidak ada orang. Okaa-san mungkin sudah tidur, Otou-san akan pulang larut. Hiroki? Kemana anak itu?

Kunaiki tangga menuju kamar dan membuka pintunya yang tak terkunci seperti biasa. Kulihat hiroki berbaring santai di futonnya di atas sambil bermain ponsel. Ah, anak ini sulit sekali untuk belajar.

“Hiroki?”

“hmm.. okaeri nii-chan. Dari mana saja?” tanyanya tanpa melihat ke arahku.

“dari bertemu teman. Kamu tidak kabur ‘kan saat pelajaran tambahan?” aku melenggang ke arah lemari pakaian dan mengganti seragam ini dengan kaos beserta celana santaiku.

“tidak lah nii-chan. Oh ya, Saga memberiku coklat. Nii-chan mau?”. Coklat? Di hari valentine ini Saga memberinya coklat? Lucu sekali dia. “itu ada di atas meja, makanlah. Aku sudah kenyang” tambahnya.

Tergeletak di atas meja belajar sebuah kotak yang biasa ditemui di toko-toko makanan dengan isi beberapa potong coklat yang tersisa. Aku pun mencicipinya.

“enak. Saga membuatnya untukmu?”

“tentu saja bukan! Adiknya yang membuat ini, karena terlalu banyak jadi diberikan padaku” jelasnya. Kupikir Saga yang membuanya, tak bisa kubayangkan.

Merasa gerah, aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan badan setelah seharian ini. Menyegarkan saat air dingin mengucur dari shower. Setelah selesai dan keluar aku pun beranjak ke futon ku yang berada di lantai bawah tempat tidur tingkat kami.

“aku mau tidur. Jangan lupa matikan lampunya”

Sejujurnya aku belum akan tidur. Aku menutupi diriku sepenuhnya dengan selimut. Di dalam selimut, aku masih bisa melihat cahaya samar-samar dari lampu kamar. Segera kubuka kotak pemberian Shou tadi. Ah, aku sengaja tak memberi tau Hiroki soal ini.

Apa yang kulihat di dalam kotak sama sekali tak terbesit di pikiranku. Sebuah cincin perak dan secarik kertas berada di sisinya. Kertas itu sungguh membuatku bingung, yang bertuliskan:

‘Happy V-Day, aku mencintaimu Hiroto.
Pakailah ini jika kau mencintaiku’

Perasaan apa ini? Jantungku berdegup lebih kencang. Perasaan senang kah? Shou menyatakan perasaannya padaku? Sangat romantis..

“nii-chan? Kenapa belum tidur?”

Akh Hiroki! Nyaris saja ketahuan, semoga ia tak melihat kotak ini. “tidak apa-apa Hiroki. Oyasumi..”
Aku harap besok semua akan baik-baik saja.

***

“oy Saga-kun, jam kedua aku akan kabur. Game Black Ship versi terbaru sudah keluar !” ucapku pada Saga yang tengah mengerjakan tugas di laptop.

“maaf aku tak bisa menemanimu. Banyak hal yang harus kuselesaikan”
 
“terserah kau saja. Tapi tenang, setelah selesai aku akan kembali kok” janjiku. Yah, sebenarnya jika permainannya lebih menantang, aku tak akan kembali.

“dewasalah sedikit Hiroki. Sebentar lagi kita kelas tiga. Kau tak mau nilaimu jelek, kan?” Saga kembali menyeramahiku. Bagaikan melihat refleksi nii-chan di tubuh Saga.
“urusan nilai gampang. Kan aku punya nii-chan. Ia akan senang hati mengajariku” balasku dengan menjulurkan lidah padanya.

“baiklah kau menang. Aku sangat sibuk sekarang, jangan mengganggu”
“dasar tuan sok sibuk.. wweee” aku pun pergi keluar kelas sekedar melihat situasi pintu rahasia yang akan kugunakan untuk kabur nanti.

Gudang belakang yang jarang sekali tersentuh manusia, mungkin yang melewati pintu ini hanya anjing dan kucing yang berkeliaran. Palang pintu yang sedikit terbuka itu pun kubuka sepenuhnya. Agar proses kaburku berjalan dengan cepat. Dan sepertinya kabur sekarang tidak masalah. Ah, benar juga! Kalau sekarang pasti waktuku untuk bermain juga akan bertambah! Hahahaha...

Segera aku kembali ke kelas dan mengambil tas. “yo, aku pergi Saga-kun!” berlari secepat mungkin agar tidak ketahuan.

“oy Hiroki!!!”

Aku berhasil kabur hari ini,, yeah!!!!

Hanya perlu berjalan dua ratus meter ke seberang jalan dan sampailah di game center. Sembari menunggu lampu merah untuk pengendara, tak ada salahnya membaca komik Dragon Ball ini. Yah, kau memang gamer dan pecinta manga Hiroki !

Tapi tunggu dulu, apa ini? Selembar kertas kecil terselip di antara lembaran komik? Milik siapa?.
Saat hendak kubaca, tiba-tiba angin berhembus cukup kencang dan menerbangkan kertas itu ke tengah jalan. Aku pun berusaha mengambilnya dan berlari ke seberang jalan.

Dan aku baru menyadari lampu lalu lintas masih berwarna hijau. Tubuhku tak bisa bergerak, aku tinggal menunggu mobil itu menghantamku.

Hidupmu tamat sekarang Hiroki..!

Maafkan aku Okaa-san, Otou-san, nii-chan...dan juga Saga-kun, maafkan atas semua kesalahanku selama ini...

To Be Continue..
***

Sunday, December 1, 2013

Fanfic alice nine.: I’m In Love With You



Title: I’m In Love With You
Author: Eri Tonooka
Chapter: OneShot
Pairings: ShouXHiroto (lovers), SagaXHiroto (blur), ToraXSaga (lovers)
Genre: Angst, Romance, Slice of Life,  SHOUnnen-Ai of course
A/N: ini fic awal yang niatnya cuman nuang ide dan ngestuck di tengah jalan. Karena mamih Haru minta fic apapun sebagai imbalan atas videonya Mpon, maka jadilah ini.. maap mih kalo ini cerita rada maksa.


I’m In Love With You
Avril Lavigne – Fall to Pieces


Aku baru saja dipersilakan masuk oleh Saga untuk mengunjungi kediamannya. Rumah bergaya Jepang semi-modern dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar. Jauh dari kata berantakan-atau mungkin hanya ruang tamunya saja yang sengaja diperlihatkan rapi-. Entahlah. Walaupun sudah berusia dua puluh tiga tahun, tapi ia masih tinggal di rumah masa kecilnya bersama Ibu dan kedua kakak perempuan. Hanya Saga manusia laki-laki di rumah ini.

Kami hanya mengobrol tentang studi di Universitas, dan alasan aku bisa ada di rumah Saga adalah karena sifat manja Saga yang tak hilang itu. Ia ingin ditemani bermain game sementara Ibunya pergi ke makam sang Ayah di Kanagawa sana. Seperti anak kecil, bukan?

Sudah ke tiga kalinya Saga kalah bermain game denganku. Jelas saja, Saga tidak ahli sepertiku yang selalu menang bermain game ini. Dia salah memilih lawan bermain, tentu saja. Karena terlalu asyik, Saga menghentikan permainannya dan tidak melanjutkannya lagi.

“hey, mau ke mana? Permainan belum selesai” ucapku protes. Saga memutar kedua bola matanya dan berdecak kesal. “kau terlalu menghayati game sampai kau tak mendengar suara bel rumahku berbunyi.”

Aku tersenyum bodoh padanya, yah begitulah aku terlalu sibuk pada game. “baiklah, kau duduk di sini saja. Biarkan aku yang membukakan pintu untukmu”. Saga hanya memanyunkan bibirnya dan menuruti perkataanku.

Begitu kubuka pintu, nampak seseorang yang lebih pendek dariku sedang membawa sebuah mangkuk besar yang aku tak tau itu apa isinya. Dia tersenyum ramah dan sesekali kulihat dia mencuri-curi pandang ke arah dalam rumah.

“Saga-san ada di dalam?” tanyanya. Anak laki-laki yang suaranya lebih berat dari yang kukira.
“ya, dia di sana. Masuklah.”

Aku mempersilakannya masuk. Ku panggil Saga yang masih sedikit tidak terima atas kekalahannya tadi.

“Pon!” Saga terlihat senang saat anak itu bertamu ke rumahnya. Ia menghampiri anak itu dan mengajaknya duduk di ruang tamu.

“nee, Saga-san. Aku bawakan ini untukmu. Karena aku tau Bibi Ai sedang pergi jadi aku buatkan ini..” ucapnya malu-malu. Terlihat dari wajahnya yang kemerahan.

 “wow, sup miso! Terima kasih Pon” Saga mengacak pelan rambut anak bernama Pon itu dan membawa mangkuk berisi sup miso itu ke dapur. Hanya aku dan Pon tersisa di ruang tamu.

Entah mengapa aku rasa anak ini menyukai Saga. Aku sudah cukup sering melihat hal-hal seperti ini, jadi aku tak pernah salah menilai orang yang sedang jatuh cinta. Seperti halnya Pon, bahkan tadi dia mengatakan bahwa ia tahu kalau Ibu Saga sedang pergi. Yah, mungkin saja ia memang diberitahu sebelumnya. Tapi, laki-laki mana yang mau membuatkan sup miso dengan sikap malu-malu kepada laki-laki lain? Hanya orang yang jatuh cinta yang bisa melakukannya.

Lama dengan pikiranku sendiri, Saga sudah muncul kembali dari dapur.

“hey, Pon. Kenalkan, ini temanku di Universitas. Namanya Shou. Dan Shou, ini Pon adik tetangga sebelah” terlihat Pon sedikit berubah ekspresi saat Saga mengucapkan kata ‘adik tetangga’. Apa Cuma perasaanku? Ah tidak tidak. Ini begitu jelas. Pon tidak sebahagia saat pertama kali masuk.

“Saga-san, aku harus kembali pulang.” Dan senyumnya pun tidak seramah tadi. Senyum keterpaksaan yang ia tunjukkan.

Dirasa Pon sudah benar-benar pulang, aku baru berani bertanya hal ini kepada Saga. “dia benar hanya adik tetangga mu?” Saga sedikit kaget mendengarnya.
“kenapa kau tanyakan hal itu?”
“apa dia sering memberimu makanan seperti tadi?”
“yah.. kadang-kadang. Kalau Ibu sedang pergi lama, dia baru memberiku makan gratis”
“kamu itu tidak peka”
Saga mengangkat sebelah alisnya “aku? Tidak peka? Kenapa??”
“ah sudahlah. Kau tak akan mengerti”
“oi oi! Seenaknya saja mengataiku!”
“itu memang benar, kan? Sudahlah, aku mau makan sup miso anak itu tadi”
“dasar kau!”

Apa memang seharusnya aku tidak memberitahu Saga soal Pon yang menyukainya, ya? Padahal aku baru kenal dengan Pon, tapi rasanya aku ingin melindungi anak itu. Apa jadinya kalau Pon tau kalau Saga tak menyukainya? Anak itu sudah banyak berkorban untuk Saga, dan sepertinya Saga tak memberikan umpan balik untuk Pon. Yang aku tau, Saga sudah lama mencintai seseorang teman kami. Tora namanya.

***

Hari ini aku pulang kuliah tidak bersama Saga. Hanya ada satu alasan Saga tidak pulang bersamaku. Tora sudah membuat janji dengan Saga sehabis pulang ini. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Dan kau tau bagaimana bahagianya Saga mendapat ajakan itu? Pipiku sampai sakit dibuatnya karena terlalu senang.

Di persimpangan jalan, mataku menangkap sesosok anak laki-laki yang familiar. Rambut hitam bergaya ala remaja Tokyo berseragam SMA sedang menuntun sepedanya. Kuhampiri anak itu dan ternyata memang benar. Dia Pon.

“hey, kenapa tidak dinaiki saja sepedanya?” tanyaku.
“bannya bocor” jawabnya singkat.
“kita ke bengkel saja. Di ujung sana ada bengkel. Aku bisa mengantarmu.”
“aku memang akan ke sana”

Ucapannya kenapa acuh begitu? Aku kan sudah berbaik hati mau mengantarnya? Sabar Shou.

Sampai di bengkel, ia sama sekali tak bicara padaku. Saat kutanya pun ia hanya mengangguk sekenanya. Menyebalkan, tapi karena dia manis kumaafkan saja.

“aku akan mengantarmu pulang, kebetulan aku juga ingin mampir ke rumah Saga—”

“tidak perlu!”

Aku kaget. Ucapannya tiba-tiba menjadi ketus dan setengah berteriak. Apa ada yang salah dengan perkataanku?. Sampai kulihat ia menunduk dan meremas-remas ujung seragamnya. Tak lama bahunya sedikit bergetar. Seperti menangis.

“kamu ada hubungan apa dengan Saga-san?” ucapnya dengan suara serak. Dia menahan tangis.

“aku? Kami hanya teman. Kau jangan salah mengira kalau aku menyukai Saga. Aku justru tahu kalau kaulah yang menyukai Saga”

Tangisannya berhenti seketika. Perkataanku tepat mengenai sasaran. Satu hal yang aku tahu dari anak ini memang benar. Dia mengangkat wajahnya yang sudah basah dan matanya yang merah, “jangan beritahu Saga-san.. kumohon..”

“kenapa aku harus?” ucapku sedikit tedengar malas, tapi aku hanya menggoda anak ini saja.
“kau harus menjaga rahasia ini. Kalau tidak—”
“hmm?”

Pon kembali menundukkan wajahnya takut “..Saga-san akan membenciku..”

Anak ini begitu takut Saga nantinya akan membencinya hanya karena ini. Saga tak akan membenci seseorang sekalipun orang itu menyakitinya. Sungguh bodoh jika Saga sampai membenci anak baik seperti Pon.

“ah.. baiklah. Jangan menangis lagi, okey”

Sebuah senyuman tampak samar dari wajahnya yang tertunduk. Di saat Pon seperti itu tiba-tiba saja aku juga turut bahagia. Karena senyumnya dan kepolosan anak ini. Walaupun senyum itu bukan untukku.

***

“seberapa dekat kalian di Universitas?” tanya Pon tiba-tiba, memecah keheningan perjalanan pulang kami. Dengan berjalan kaki tentu saja, karena sepeda Pon sudah dititipkan ke bengkel. Dan sesuai janjiku, aku mengantarnya sampai rumah.
“kami bersahabat. Kau tau definisi nya, kan?”
“apa hanya kalian berdua saja?”

Melihatku bingung dengan maksud perkataannya, ia buru-buru mengulangi “..maksudku, apa hanya kalian berdua yang sangat dekat? Tidak ada teman lain lagi?”

Aku menggelengkan kepala pelan “ada satu teman kami, namanya Tora”

“oh, apa dia orang yang baik?”
“ya tentu saja.”
“baguslah...”

“sejak kapan kau menyukai Saga?”

Pandangannya tidak menentu. Ia tersenyum penuh arti di balik poni yang ia biarkan memanjang. Oh, apa inikah salah satu tanda orang yang sedang jatuh cinta?. Jujur, ada rasa yang aneh mengganjal di hatiku saat ia tersenyum seperti itu. Seperti rasa tidak suka.

“sejak keluargaku pindah ke sana tiga tahun lalu”

Yah, aku baru tahu itu. Ia mulai menceritakan semuanya dari awal. Saat pertama kali mereka bertemu yang kurasa kejadiannya cukup romantis. Pon bertemu Saga secara tidak sengaja, Pon yang waktu itu masih kelas dua SMP sebenarnya tidak ingin pindah rumah karena alasan ia tak mau pindah sekolah juga. Dengan keterpaksaan, Pon menuruti orang tuanya dan segera pindah rumah tepat di samping rumah Saga. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang marah karena ia benar-benar harus pindah sekolah, ia kemudian menangis di depan rumah barunya. Tak lama kemudian Saga datang dengan membawa sebatang cokelat dan diberikan kepada Pon. Ia juga bercerita kalau Saga datang dengan senyum termanis yang pernah ia lihat. Menurutnya, Saga adalah laki-laki baik yang datang di saat yang tepat untuk menghibur Pon.

Saga memang baik, aku akui itu.

“apa kau tak pernah mencoba menyatakan perasaanmu padanya?” tanyaku dengan sedikit jeda saat ia berhenti bercerita.

Pon menghela napas berat “aku tak bisa..aku tak berani..”

“suatu saat kau pasti akan mengatakannya. Jika tidak–” ucapanku menggantung. Sulit mengatakan kalau Saga menyukai Tora. Apa jadinya Pon kalau tahu itu.

“jika tidak apa?”

“ah lupakan saja”

“Shou-san tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?” Ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nama itu. Apa yang dia tanyakan tak bisa kujawab sekarang.

“tidak ada.” Tak terasa kami sudah di depan rumah Pon dan saatnya bagiku untuk berpisah dengannya.

“Shou-san, terimakasih untuk hari ini. Sampai ketemu lagi” Pon melangkahkan kakinya ke area rumahnya sambil melambaikan tangan kanannya. Nampak jelas perbedaan sikapnya dari empat puluh menit yang lalu.

Ah, ya! Saga! Ada yang ingin kubicarakan dengannya, tapi sepertinya Saga belum pulang. Beginilah jadinya saat ia bersama Tora. Lupa waktu. Mungkin sekarang ini mereka sedang di perpustakaan mencari buku untuk persiapan ujian musim ini. Dan bisa kuduga Saga menikmati momen itu dengan hanya melihat wajah serius Tora saat mencari dan membaca buku. Tidak lebih.

Sudah kuputuskan aku akan menunggu Saga di kamarnya, tentu saja aku bisa masuk karena izin dari kakak perempuannya yang cantik itu. Keluarga Sakamoto ini entah mengapa mempunyai wajah yang cantik, termasuk Saga. Oh yea, aku menyebut Saga cantik. Jangan salah paham karena hal ini, karena aku masih bisa melihat paras cantik Ibu dan kedua kakak perempuannya menurun kepada Saga. Pendapatku ini mungkin berbeda jika Pon yang meresponnya. Pon selalu bilang Saga itu tampan, ya memang.. tapi tidak lebih tampan dariku.

Berbicara soal Pon, menurutku ia berbeda dengan anak berseragam SMA lainnya yang pernah kutemui. Sikapnya, perhatiannya, dan tentu saja wajah manisnya membuatku susah melupakannya. Ekspresinya saat tersenyum di hari itu sangat polos, tak ada kesan pemarah dalam dirinya. Aku jadi terkesan membanggakan dirinya, padahal aku juga baru kenal. Wajar? Entahlah! Kurasa aku menyukainya..err..perasaan suka bisa kapan saja muncul, kan? Mengingatnya membuatku tersenyum sendiri seperti orang gila.

***

“Shou-san!!!” teriak Hiroto dari jauh. Saat ini ia sedang berada di taman bermain dekat rumahnya karena menunggu Shou. Sebelumnya Shou sudah menyanggupi permintaan untuk menemani Hiroto berbelanja.

“yo!” Shou menghampiri Hiroto. “kau dari tadi menungguku?”. Hiroto menggeleng. “ayo Shou-san, aku sudah tak sabar!”

Hiroto langsung menggandeng tangan Shou dan bergegas menuju pust perbelanjaan. Sampailah mereka di gift shop. Shou tak menyangka kalau ia akan dibawa ke tempat ini.

“Shou-san, aku ingin minta pendapatmu. Kira-kira Saga-san suka hadiah apa?”

Perasaan Shou berubah kecewa. Jadi ini tujuan Hiroto mengajaknya berbelanja. Hanya untuk meminta pendapat hadiah apa yang bagus untuk Saga. Shou hanya bisa memaksakan senyumnya. Sakit hati, jelas.

“Shou-san? Bagaimana menurutmu?” tanya Hiroto lagi.

“ah, aku rasa dia suka replika jam pasir ini” jawab Shou sekenanya. Ia juga tak mau membuat Hiroto lebih banyak tahu tentang kesukaan Saga. Walaupun Shou tahu Saga tak akan bisa menerima Hiroto, tapi ia tak bermaksud jahat untuk menjauhkan hubungan keduanya.

“okey, aku ambil ini. Kalau Shou-san suka apa?”

“aku?” Shou bingung menentukan barang apa yang bagus. Tak terlintas dipikirannya akan ditanya seperti itu. Matanya pun menangkap sebuah benda yang berkilauan tak jauh dari replika jam pasir tadi.

“aku suka ini” sebuah diorama kaca yang sederhana dipilih Shou.

Tanpa pertanyaan lagi, Hiroto segera mengambilnya, menuju kasir dan membayarnya.

“Shou-san, ini untukmu. Ini sebagai tanda pertemanan kita.” Hiroto menyerahkan diorama kaca yang tadi dipilih Shou.

“terima kasih Pon.” Padahal Shou hanya asal memilih, tapi ia merasa pilihan  asalnya itu menjadi berharga saat Hiroto yang memberikan.

Jam pasir yang sudah terbungkus kado itu Hiroto akan berikan kepada Saga. Di hari ulang tahunnya besok. Ia berharap dengan pemberiannya ini, Saga cepat mengerti perasaan Hiroto padanya.

Sesuai permintaan Hiroto, ia hanya minta Shou menemaninya berbelanja saja hari ini. setelah itu mereka kembali pulang.  Tapi pada saat mereka berjalan melewati game center, Hiroto tak sengaja melihat Saga di sana. Tidak sendiri. Saga bersama seorang lelaki tinggi yang sedang merangkul pundak Saga.

Hiroto pun memilih berhenti dan melihat lebih jelas. Shou yang berjalan di depan Hiroto menjadi berbalik dan ingin tahu apa yang sedang dilihat Hiroto. Shou begitu kaget saat Hiroto melihat Saga dan Tora tengah berpelukan di sana. Bingung Shou akan menjelaskan seperti apa pada Hiroto.

“Hiroto..” panggil Shou pelan.

“itu Saga-san, kan?” tanya Hiroto tak percaya. Ia bersikeras dalam hati kalau itu bukanlah Saga.

Shou tak bisa menjawab. Ia kasihan melihat Hiroto shock seperti itu. Tak lama Shou mendengar suara isakan kecil dari Hiroto. Refleks Shou menoleh dan mendapati wajah Hiroto sudah memerah dan ada air yang mengucur dari kedua matanya.

“Hiroto..maafkan aku..” nampak penyesalan di wajah Shou. Ia tak pernah menceritakan peranan Tora di hidup Saga.

“Shou-san tau siapa orang itu?” tanya Hiroto masih terisak. Shou mengangguk, tak kuat melihat wajah Hiroto yang menangis.

“dia Tora, teman kami di Universitas”

“Shou-san bahkan tak memberitahuku..”. Kecewa, marah, itulah perasaan Hiroto saat orang yang baru saja menjadi teman baiknya itu sudah mulai membuat kesan tidak baik padanya. Walaupun itu sebenarnya bukanlah kemauan Shou untuk merahasiakan hubungan Tora dan Saga dari Hiroto.

“Hiroto.. maaf..”

“Lebih baik aku pulang..”

Shou tak bisa mencegah Hiroto pulang, karena itu sama saja membuat mood Hiroto menjadi lebih buruk. Ia ingin sekali tadi memeluk Hiroto di saat anak itu menangisi Saga. Ia ingin menenangkan anak itu, dan tak ingin melihat Hiroto menangis seperti itu. Karena sadar atau tidak, Shou merasakan sesak di dadanya saat Hiroto menangis untuk Saga.

***

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Saga-san sudah bersama orang lain. Selama ini usahaku sia-sia menarik perhatiannya. Tidak ada lagi alasanku mengunjungi rumahnya dengan membawakan makanan untuknya. Selamanya Saga-san tak akan pernah mencintaiku..

Kembali aku terisak dalam kebodohanku sendiri.

“..Pon...”

“Hiropon..”

Samar aku mendengar seseorang memanggilku.

“Hiropon.. kenapa tidur jam segini?? Bangun sayang, ada yang mencarimu” akh, Ibu ternyata. Jangan sampai mataku yang sudah sembab ini terlihat olehnya. Butuh waktu sejam untuk menjelaskannya sampai tuntas.

“siapa?” tanyaku tanpa membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku.

“Ibu belum tanya, tapi dia bilang dia temannya Saga-kun”

‘ah, pasti Shou. Aku malas bertemu dengannya’

“kalau temannya Saga-kun, kenapa mencariku? Aku mau tidur lagi, Bu” jawabku penuh keengganan. Mood ku benar-benar kacau hari ini. Juga karena Shou yang tak memberitahuku soal Saga-san dan pacarnya itu.

“dia juga bilang kalau ia ingin bertemu denganmu. Sudah sana temui dia.”

“ish, menyebalkan! Bilang padanya tunggu sebentar”

Ibu pun pergi dengan suara hembusan nafasnya yang bisa kudengar seperti tidak suka dengan sikapku. Siapa peduli?

Kuintip sedikit ke arah ruang tamu dari balik pintu yang jaraknya memang tak jauh dari sana. Sudah kuduga, itu Shou. Bisa dibilang ini pertama kalinya ia berkunjung ke rumahku. Ah, aku harus bersikap biasa saja.

Aku pun keluar dari kamar dan perhatian Shou langsung menuju ke arahku. Sampai aku duduk pun ia terus mengikuti gerakku. Entah mengapa merasa diperhatikan seperti itu adrenalin ku semakin terpacu. Ada apa ini?

“Hiroto, kamu masih memikirkan Saga?”

“jangan bicarakan itu lagi Shou-san..”
“ah gomen”

Ada kecanggungan saat kami berbicara. Hanya karena masalah ini kami seperti orang yang tidak kenal sama sekali. “..kalau Shou-san ke sini hanya untuk menanyai keadaanku aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu saja.”

“tapi aku tidak percaya Hiroto” sergah Shou cepat. Aku tidak tahu harus berekspresi apa. Senang kah ada orang lain yang memerhatikan keadaanku? Atau sebaliknya?

Mendadak kepalaku terasa berat memikirkannya. Akh, migrain ku.. jangan sekarang...

“Hiroto? Daijobu desu ka?” bisa kurasakan Shou memegang tubuhku, aku sudah tak tahan lagi..dan aku pun bersandar di dadanya menahan sakit.

“bawa aku ke kamar itu” pintaku sambil menunjuk kamar di sebelah sana.

Shou segera membawanya masuk ke kamar Hiroto dan membaringkannya di tempat tidur. Shou sedikit takjub melihat suasana kamar Hiroto yang mayoritas bernuansa merah. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang lebih memilih warna gelap. Beruntung di hari pertama berkunjung ke rumah Hiroto, ia sudah bisa memasuki kamar Hiroto yang notabene adalah privasi pemuda itu.

Mata Hiroto masih terpejam dengan satu tangannya yang memijit-mijit kepalanya.

“aku belikan obat ya” ucap Shou sudah bersiap meninggalkan kamar Hiroto.

“tidak perlu. Ini hanya migrain, Shou-san tolong tutup tirai jendelanya. Cahayanya membuatku sakit.”

“ah ya..” Shou mengerti apa yang membuat Hiroto kesakitan seperti itu. Maka ia menutup semua akses cahaya yang masuk ke dalam kamar. Otomatis membuat kamar yang semula terang menjadi gelap. Menyisakan mereka berdua di dalam kamar dengan pintu yang terkunci.

Shou menghampiri Hiroto dan sebisa mungkin membuat Hiroto merasa lebih baik dengan membiarkan ia saja yang memijit kepala anak itu.

“Shou-san..” Hiroto menatap Shou dengan  mata yang setengah tertutup. “semoga ini membuatmu lebih baik”

“Shou-san kenapa begitu peduli padaku?”

Shou bingung akan menjawab seperti apa. Haruskah ia jujur sekarang dan mengatakan bahwa ia mencintai Hiroto? “jika aku mengatakannya, aku harap kau mengerti..”

“..aku mencintaimu Hiroto.”

Dan sukses membuat kamar gelap itu menjadi sunyi tanpa suara. Kedua tangan Shou yang semula memegang kepala Hiroto, secara perlahan Hiroto melepaskannya dan meletakkannya di samping tubuhnya yang masih terbaring.

“Hiroto, beri aku kesempatan untuk menggantikan posisi Saga di hatimu.” Shou menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Hiroto. Mendekatkan wajahnya perlahan dengan satu tujuan. Meraih bibir Hiroto sebagai bukti bahwa Shou benar-benar mencintainya.

Hiroto bahkan tak melawan ciuman sepihak itu. Ia juga tak merespon bibir Shou yang terasa dingin saat menyentuh bibirnya. Shou tidak melakukan deep kiss yang liar, karena itu bisa membuatnya dicap seperti lelaki penuh nafsu yang hanya mencintai orang lain hanya karena nafsu. Bukan itu yang ia lakukan sekarang.

Shou bisa melihat mata Hiroto yang terpejam saat ia menciumnya. Terkesan menikmati namun tanpa adanya perlawanan dan respon yang berarti. Yang Shou pikirkan sekarang adalah, Hiroto sudah memberikan lampu hijau padanya.

“aku mencintaimu” ucap Shou setelah menyelesaikan ciumannya.

“bukan karena kau kasihan padaku?”

“aku tulus mencintaimu Hiroto, sejak pertama kali kita bertemu. Dan kau pasti tak tahu saat kau membicarakan Saga di depanku, hatiku sakit.” Mata Shou menjadi sayu kembali mengingat kemarin betapa bahagianya Hiroto mencintai Saga.

Suasana kembali hening. Hiroto terlalu terkejut mendengar pengakuan Shou yang tiba-tiba ini. tak pernah terpikir olehnya, ternyata Shou lah yang mencintainya.

Hiroto pun membuka suara, “kumohon jangan kecewakan aku nantinya..”

“eh?” Shou kaget mendengar ucapan Hiroto barusan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya, sehingga ia kurang memahami apa maksud Hiroto.

“jangan kecewakan aku Shou..” sebuah panggilan tanpa embel-embel –san? Ini artinya?

Melihat Shou yang masih kebingungan, Hiroto segera menatakan apa maksud ucapannya tadi.

“aku juga mencintaimu...”

Senyum brunette itu pun terkembang manis. Ia tak bisa menutupi rasa bahagianya, segera ia memeluk Hiroto erat dan menciumi seluruh bagian wajah pemuda kecil itu. Mereka pun tersenyum saat menatap wajah satu sama lain. Terlihat samar rona merah menghiasi wajah  mereka.

“percaya padaku, aku tak akan membuatmu kecewa”

“pinky promise?” Hiroto mengacungkan jari kelingkingnya di depan Shou. “pinky promise” Shou pun langsung mengaitkan kelingkingnya dan jari keduanya saling bertaut.

Manis.

Bibir mereka kembali bertemu tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak. Dan kebahagiaan itu pun menyelimuti mereka, seiring ciuman yang semakin panas dan mengikuti irama desah nafas mereka. Permainan akhirnya berakhir dengan peluh yang membasahi tubuh masing-masing, saling memberikan tanda merah di tubuh bahwa mereka sudah terikat satu sama lain.

Hanya cinta yang bisa membuat Hiroto mau melakukannya, dan cinta lah yang sudah mempertemukannya dengan sang pemberi kebahagiaan untuknya.-Shou-.


Owari
***

n.b: ENDINGNYA MAKSAAAAAAA!!!!!! (gak pede waktu mau ngepost)