Wednesday, July 31, 2013

Fanfic Ketika Mereka Bertemu


Title: Ketika Mereka Bertemu
Author: orang cakep ini lagi *sfx: kambing*
Genre: Crack, Comedy, Abal, Krispi (?)
Bands: LUNA SEA (J), BORN (K)
A/N: terinspirasi dari banyaknya caleg yang udah mulai kampanye.

Ini adalah sepenggal cerita nista dari dua musisi beda dunia generasi. LUNA SEA dan BORN adalah band Jrock Visual kei yang sangat berjaya di masanya. Pada suatu saat seorang member LUNA SEA bertemu dengan seorang member BORN. Mereka adalah J sang bassis LUNA SEA dan lead gitaris BORN bernama K.
Dan di sanalah mereka bertemu, di sebuah debat pemilukada negeri antah berantah. Di mana K sedang mencalonkan diri sebagai wakil Bupati karena alasan mencari penghasilan tambahan selain nge band bareng Ryoga cs. Sementara J juga mencalonkan diri sebagai ketua Bupati di daerah tersebut dengan alasan ia ingin menebarkan ajaran Jrock kepada seluruh warganya kelak jika ia terpilih nanti.
Namun sangat disayangkan, pasangan calon mereka tiba-tiba mendadak tak bisa ikut acara sakral tersebut. Pasangan bakal ketua Bupati K terpaksa ga bisa melanjutkan pemilihan karena ternyata dia sedang menjalani rawat jalan sebagai pasien rumah sakit jiwa. Sedangkan pasangan bakal wakil J juga mengundurkan diri karena malam sebelumnya ia diracuni oleh saingan mereka sehingga menyebabkan ia tewas di toilet.
J dan K sudah kalang kabut menghadapi masalah super serius ini. Dan akhirnya, salah seorang di sana menyarankan untuk mereka bergabung saja menjadi satu kesatuan. Mereka berdua pun setuju karena merasa cocok juga.
Dan tibalah saatnya mereka berkampanye di depan para warga daerah yang norak-norak itu.
“ehhm, testing satu dua delapan..” J mencoba mengetes mikropon.
“baiklah, kita mulai saja” ucap K yang keren (?)
“saya J”
“dan saya K”
“kami berdua SINTA DAN JOJO”
Hening seketika.
“maaf, kami ulangi..”
“saya J”
“dan saya K”
“kami berdua JROCKER GAHOOL”
“misi kami adalah menyebarkan ajaran Jrock visual keism kepada seluruh warga dan menjadikan warga semua sebagai musisi rock metal yang profesional. Terima kasih”
Hening lagi.
Lima detik kemudian suara riuh tepuk tangan menggema ke seluruh penjuru.
Berdasarkan hasil quick count tiga hari setelahnya, pasangan JK akhirnya memenangkan pemilukada dan hari itu juga pasangan aneh ini mulai melatih para warganya menjadi musisi rock metal profesional.
The end (loh?)

Fanfic SCREW: Right Beside You [DISCONTINUED]


Title : Right Beside You
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Pairings : KazukiXManabu, ByouXManabu
Genre : School life, Drama, Romance, Angst
Warning: ini adalah fanfic discontinued yang sekiranya bisa untuk menuh2in blog (rese banget kan gue?)
A/N : sebenernya gue ga yakin juga mau publish ini, tapi karena pada dasarnya gue ga tahan liat fic numpuk di netbook, yasudahlah gue munculin aja di sini.

Right Beside You
Flyleaf – I’m so Sick

Di hari pertama tahun ajaran baru Kazuri High School, lapangan sekolah elite khusus laki-laki itu sudah penuh dengan siswa baru yang telah lulus ujian masuk sebelumnya. Tentu saja suasana di sana sangatlah ramai, penuh dengan siswa ber-almamater yang masih baru dan rapi. Ada yang senang masuk di kelas terbaik, dan ada yang biasa saja namanya tertera di kelas terakhir. Salah satu contohnya, Kazuki. Siswa dari Kanagawa ini sengaja memilih sekolah di Tokyo karena alasan ia ingin meneruskan sekolah ke tempat yang lebih baik di banding tempat kelahirannya itu. Dengan IQ yang lumayan, dia bisa masuk ke kelas A berbarengan dengan teman-teman barunya yang juga cerdas.

Ia sungguh senang, dengan begitu selangkah ia sudah bisa menapaki cita-citanya sebagai arsitek. Karena impiannya adalah membangun sebuah rumah untuk orang tuanya dan untuk dirinya kelak. Ia ingin seperti itu, dan ia bersungguh-sungguh akan belajar keras agar impiannya dapat terwujud.

Sepuluh menit sebelum pelajaran benar-benar dimulai, Kazuki yang melihat keluar kelas tak sengaja menangkap sosok anak laki-laki berseragam sama dengannya yang mulai masuk ke kelasnya. Tapi anehnya, anak itu masuk dengan ekspresi ketakutan dan nyaris kembali keluar. Kazuki makin memperhatikan anak itu. Dengan susah payah, ia masuk ke kelas sambil menundukkan kepalanya, dan sempat juga ia salah menempati kursi. Kazuki menjadi penasaran karenanya.

Akhirnya anak yang kelihatan lebih kecil dari Kazuki itu pun duduk di pojok kelas sambil terus menggenggam kedua tangannya.
‘kenapa dia?’ pikir Kazuki

Jam istirahat, semua siswa di Sekolah tak terkecuali kelas Kazuki berada pasti menuju ke cafetaria untuk makan siang. Namun berbeda halnya dengan anak yang Kazuki perhatikan tadi pagi. Kazuki sengaja mengintip dari luar jendela untuk melihat apa yang dilakukan anak itu. Dan ternyata dia membawa kotak bekal dan mulai memakan isinya. Masih saja dengan ekspresi takut, tapi terlihat agak berbeda dari yang tadi. Wajahnya terlihat lebih tenang dan mampu mengontrol dirinya.

Kazuki mengurungkan niatnya untuk ke cafetaria dan kembali ke kelas. Begitu mendengar suara langkah kaki dari luar, anak pembawa bento itu segera menyimpan kotak bekalnya ke dalam laci. Kazuki pun mendekati anak itu berusaha meyakinkan bahwa tak ada yang perlu ditakuti olehnya.

Anak itu tak berani melihat Kazuki yang sudah duduk di depannya.

“hai?” Kazuki membuka percakapan. Bukannya menjawab, anak itu malah makin menunduk takut. “jangan takut. Aku tak akan menyakitimu.. namamu siapa? Aku Kazuki” ucapnya ramah sambil menjulurkan tangan ke arah anak itu.

Anak itu tak merespon jabatan tangan Kazuki. Ia hanya berbicara pelan. “Manabu”

Manabu, anak yang mampu menarik perhatian Kazuki karena sikapnya yang bisa dibilang ‘aneh’ itu. “kenapa tidak jadi makan? Kau malu, ya?” tanya Kazuki sambil terus melihat wajah Manabu lekat-lekat. Ia menggeleng. “kalau begitu keluarkan.. aku ingin tau kau bawa bekal apa”

Perlahan Manabu mengambil bento yang tadi ia sembunyikan. Meletakkannya di atas meja dan membukanya lagi. Kazuki sumringah melihat jejeran lauk yang banyak itu “wahh,, kelihatannya enak..”

Manabu yang bersiap memakan telur gulungnya pun berhenti sejenak dan mendongak melihat ke arah Kazuki. Ia jadi tak enak begitu melihat Kazuki yang menatap makanannya terus.
“ambil saja kalau kau mau,,” tawar Manabu sambil menggeser kotak bekalnya ke depan.
“terima kasih, ya.” Manabu menyerahkan sumpitnya kepada Kazuki, dan langsung mengggunakannya untuk mengambil potongan sosis matang berwarna merah menyala itu.
“enak sekali..” puji Kazuki. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat menikmati.

Karena terlalu lama menikmati makanan enak itu, Kazuki jadi lupa kalau Manabu sendiri belum makan apapun.
“ah, gomen.. ini” Kazuki mengembalikan sumpit itu lagi, dan Manabu menerimanya dengan agak canggung. Manabu mulai memakan bekalnya pelan-pelan, sambil berpikir Kazuki akan segera pergi dari situ.

Tapi sampai Manabu selesai dengan makannya, Kazuki tak kunjung pergi dan sedari tadi ia terus saja memerhatikan Manabu yang sedang makan. Hingga Manabu benar-benar menghabiskan bekal makannya.
**
Jam kedua pelajaran hari ini baru saja masuk, semua teman Kazuki yang tadi pergi ke cafetaria langsung masuk ke kelas dan beberapa di antaranya menghampiri Kazuki dan mengajak Kazuki untuk kembali ke tempat duduknya semula.

Kazuki pun menuju kursinya lagi namun sesekali ia terus mencuri pandang ke arah Manabu.

“hei, Kazuki, kau tadi ngobrol dengan Manabu senpai?” tanya seorang anak laki-laki berparas manis itu pada Kazuki.
“ha? Apa maksudmu dengan memanggilnya senpai?.. dan sebenarnya kau sudah kenal dengannya, Rui?” Kazuki balik bertanya. Rui-anak berparas manis- itu memutar bola matanya dan menghela napas berat, “wajar saja kau tak tau. Manabu senpai itu sebenarnya kakak tingkat kita, beda setahun”

Kazuki menganga tak percaya, keningnya berkerut heran. Ia penasaran dan mendekatkan kursinya lebih dekat lagi dengan kursi Rui. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Manabu.

“dia seharusnya sudah duduk di kelas 2, tapi karena dia punya penyakit parah, jadi dia harus tinggal kelas karena harus berobat selama setahun penuh” jelas Rui serius.
“penyakit? Apa?” Kazuki makin dibuatnya penasaran.
“jangan beritahu siapapun, ya. Ini rahasia” ucap Rui, dan Kazuki mengiyakannya.
Rui langsung berbisik ke telinga Kazuki dan berucap sangat pelan,
Phobia keramaian...
“hee??” Kazuki tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Penyakit apa itu? Aneh. Pikirnya.
“sudah kuduga pasti kau tak akan percaya, tapi itu memang kenyataan. Dia jadi begitu karena trauma, sewaktu SMP ia pernah punya pacar, dan pacarnya meninggal di wahana roller coaster” ekspresi Rui kini berubah menjadi takut dan ngeri. Membayangkan yang sama dengan apa yang pernah Manabu lihat.

“Manabu senpai sangat mencintai Byou senpai. Bahkan aku juga sempat menyukai Byou senpai karena wajahnya yang sangat tampan itu” .. “bayangkan saja, Byou senpai itu punya darah Jerman dan terlebih ia kaya. Sosok yang sempurna untuk dijadikan pacar” jelasnya lagi.
“Byou? Itu nama pacarnya?”. Rui mengangguk. “jadi itu sebabnya, ia tak pergi ke cafetaria tadi?”. Rui mengangguk lagi.
“apa penyakitnya bisa disembuhkan?”. Sejenak Rui berpikir bahwa selama ini belum pernah ia mendengar hal apapun tentang bagaimana cara menyembuhkan traumatis seperti yang Manabu idap.
“aku tak tau. Tapi, mungkin saja dengan membawanya ke tempat yang ramai dan sedikit latihan, dia bisa sembuh”
Kazuki diam, sedikit ia menyetujui rencana Rui itu. “sepertinya bagus..”

 “ano, Manabu pulang bareng yuk. Aku bawa sepeda” Kazuki menawarkan diri di depan Manabu yang masih menunggu keadaan hingga sepi.
“rumahku jauh”
“tenang saja, aku akan mengantarmu sampai rumah.. sekalian aku bisa tau rumahmu”
“tidak perlu. Onii-san akan menjemputku sebentar lagi”
Harapan Kazuki jadi hilang. Mukanya berubah kecewa. “tapi apa aku boleh berkunjung ke rumahmu suatu saat nanti?”

“terserah kau saja” Mendadak wajahnya kembali bersemangat “ayo pulang, ku antar sampai depan”

Manabu mengangguk, keadaan juga dilihatnya sudah sepi jika dibandingkan dengan yang tadi.

Kazuki berjalan berbarengan dengan Manabu siang itu, menunggu kakak Manabu datang menjemput karena alasan ia tak ingin membiarkan Manabu sendirian mengingat phobia nya pada keramaian.

“itu dia” ucap Manabu tiba-tiba dan menunjuk sebuah mobil berwarna hitam yang menuju ke arah mereka.
Mobil itu pun berhenti di depan Manabu dan Kazuki, dan kaca depan pengemudi itu terbuka dan memperlihatkan sesosok laki-laki yang tampan berwajah tirus.

“ayo masuk, Manachan..” suruh orang itu yang sebelumnya memberikan senyum pada Kazuki.

“Kazuki, aku pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini..” Manabu pun masuk ke kursi belakang mobil dan mobil pun melaju meninggalkan Kazuki di sana.

‘pasti itu kakaknya...’

**
Sebelum Manabu datang, Kazuki sduah berrencana untuk memulai berteman lebih akrab dengan Manabu. Ia sudah membawa bekal bento agar Manabu tak sendirian memakan bekalya saat jam istirahat. Dan ia juga akan menemani Manabu menunggu kakaknya menjemput Manabu pulang.
“Kazuki!” panggil Rui dari jauh. Kazuki hanya berdehem keras tanpa melihat ke arah Rui, karena sekarang ini Kazuki sedang sibuk menyalin catatan yang tak sempat ia catat kemarin.

“aku punya tiket ke taman bermain, kau mau tidak?”

Spontan Kazuki menghentinkan menulisnya, ia melihat ke arah Rui dengan tatapan-tidak-salah-kah-kau-menawariku-ke-taman-bermain?-

“taman bermain? Memangnya aku anak SMP?”

“kakakku memberikan ini padaku, dan tentu saja aku tak mau. Dan kenapa aku menawarimu ini, itu karena Manabu senpai juga” Telinga Kazuki sangat peka jika nama Manabu disebut. Dan memang benar, dua hari terakhir ini ia selalu menyebut-nyebut nama Manabu saat bersama Rui atau temannya yang lain.

“kenapa Manabu?” tanya Kazuki. “masa kau lupa. Kau ingin menyembuhkan penyakit Manabu senpai, kan?”. Kazuki mengangguk.

“ini, kuberikan padamu, pas dua buah. Kau ajak Manabu senpai ke sana dan sembuhkanlah ia” pinta Rui. “dan jangan lupa kau bawa dia ke wahana roller coaster, buat dia bisa melupakan musibah kematian Byou senpai”

Kazuki akhirnya ingat, ia harus melakukan itu. Tapi ia merasa dirinya seperti diberi tugas berat dan harus melaksanakan hingga berhasil. Ia pun berani memenuhi suruhan Rui. Ini demi kesembuhan Manabu juga, pikirnya.

**

Jam makan siang, Kazuki mendekati ke kursi Manabu sambil menenteng kotak bekalnya. Ia duduk lagi di depan Manabu dan menaruh bentonya di meja.
“kau bawa bekal juga?” tanya Manabu sedikit heran.
“aku sedang ingin berhemat” Kazuki tersenyum “juga ingin menemanimu di sini. Pasti kau merasa sepi, kan?”

Mendadak raut muka Manabu menjadi dingin, begitu mendengar kalimat terakhir Kazuki barusan. “aku tidak kesepian,,”. Kazuki menengok ke arah Manabu “Manabu..”
“aku tidak kesepian. Karena Byou masih ada di sini.. hik..” tiba-tiba saja Manabu mulai terisak pelan.

“Manabu, maafkan aku...” secara tak sadar ia meraih tangan Manabu dan menggenggamnya, namun Manabu menjadi takut dan melepas genggaman Kazuki.

“Manabu, Byou itu pacarmu?”

Tak menjawab. Manabu justru diam dan matanya terfokus pada satu titik namun kosong.
“kalau kau tak mau cerita, tidak apa-apa. Ayo, makan bekalnya”

Pelan-pelan Manabu melihat ke arah Kazuki yang sedang membuka kotak bekalnya. Entah kenapa ada rasa hangat menjalar di tubuhnya saat ia melihat mata Kazuki. Manabu pun tak tau itu apa.

***
stuck on 10/02/2013

Monday, July 22, 2013

Fanfic Nembak Saga, MUST GO ON!! [ToraXSaga]


Title: Nembak Saga, MUST GO ON!!
Author: Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter: 1/1 –OneShot-
Pairings: ToraXSaga, KazukiXManabu (numpang di akhir cerita)
Genre: Comedy, Romance
Disclaimer: Tora dan Saga masih tetap menjabat sebagai memba alice nine. Gue gak ngaku-ngaku in mereka milik gue dan sebaliknya cerita ini milik gue *smile*
A/N: Bahasa yang digunakan bukan Bahasa yang sering kalian liat di novel2 mahal. Bisa dibaca semua umur tapi isinya sebaiknya JANGAN dibaca oleh semua umur.
Listening to: AND~Eccentric Agent~ - Fujindou


Nembak Saga, MUST GO ON!!

Siapa sangka kalau gitaris keturunan bule punya Alice Nine ternyata sudah lama cinlok sama Saga sang basis berparas manis. Tora pernah coba janjian sama Saga buat ketemuan di cafe. Katanya Tora sih mau bahas tur Alice Nine keliling Jepang, tapi ternyata Tora niat banget buat nembak Saga di sana.

Mereka udah duduk-duduk di cafe. Bingung mau ngomong, Tora dari tadi cuman nyesap-nyesap kopinya pelan-pelan. Biar ngulur-ngulurin waktu gitu, kan gak asik kalo ngobrol sama Saga kopinya keduluan abis. Dan sampe kopinya abis pun, Tora masih bingung. Saga juga jadi sebel dari tadi mereka ga ada ngomong.

“Tora, sebenernya lo ngajak gue ke sini buat ngomong apa sih? Tur? Atau yang lain?” Mulai ngambek dah tuh. Tora bingung, soalnya kebetulan cafenya lagi rame banget. Mau nembak malah malu duluan. Salah sendiri sih, mau nembak kok di cafe yang rame.

“engga. Kita cari tempat lain aja”

“kenapa? Cuma bahas tur doang kenapa musti pindah?”

“bukan itu masalahnya, cari yang sepi aja.. di sini ribut” alasan yang cukup logis dan bisa bikin Saga nurut.

Tempat yang dipilih Tora adalah cafe yang gak terlalu ramai. Cukup jauh sih dari cafe yang pertama, Tora musti ngeliat satu-satu cafe yang sepi dari jalan. Dan akhirnya meraka udah duduk berdua lagi di dalam cafe.

“udah kan nyari tempatnya?” Tora ketohok dengernya. Dia bikin Saga susah sih.
“etto,, sebenernya gue ngajak lo ke sini bukan bahas soal tur..” Tora jadi gugup, matanya gak bisa diem, natap sana natap sini dan natap author. Kakinya juga ga mau diem. Goyang sana goyang sini, naik turun terus. Kayak orang kebelet.

Saga geleng-geleng kepala, bingung sama tingkah Tora hari ini. “..terus mau ngomong apa?”. Tora celingak celinguk ngeliat orang di sekitar, antisipasi kalo ada yang denger. Bahkan dia langsung ngebunuh laler tanpa dosa yang bertamu di mejanya supaya ga bisa denger.

“gue cuma mau bilang sama lo kalau gue,, suka sama lo”

Mendadak hening, Tora keburu takut duluan, dan Saga.. dia sama sekali gak merasa takut atau marah dan sebagenya. Dia justru nanggepinnya dengan kata ‘oh’. Kenapa Saga bisa santai begitu?

“kalau cuma mau bilang itu, ngapain muter-muter Tokyo buat cari cafe doang? Di studio kan bisa”

Tora ga percaya Saga ngomong begitu sama dia, dan Saga ga marah... dunia serasa baik untuk Tora. “jadi lo terima gue?”

“terima apaan?” nah loh, Saga kenapa jadi pilon begini?. “kan lo ga marah, malah santai gitu jawabannya”.

“gue juga suka sama lo, tapi sebagai partner band. Shou, Pon sama Nao juga suka sama gue sebagai basis kesayangannya mereka. Memangnya yang lo pikir apaan?”

DWUEEENGG

Perkiraaan Tora salah. SALAH BESAR. Padahal sedetik lalu dia bagaikan terbang ke angkasa saking bahagianya, dan sekarang harus jatuh dengan keras ke dasar jurang terdalam gegara ucapan Saga. Pengen nangis, pengen mewek, pengen hidupin laler yang dia bunuh tadi. Tapi itu sia-sia. Saga gak punya feeling yang sama kea dia.

“Cuma ngomong itu aja, kan? Ayo pulang”. Ini lagi Saga pake ngajak pulang cepet-cepet, kaga tau apa kalo Tora udah mau bunuh diri??? Ga punya perasaan, pikir Tora.

Mau bagaimana lagi, Tora sudah pasang muka baik-baik aja sama Saga, dan Saga yang ga tau malah ngeloyor duluan pergi. Nasib nasib..

Ya begitulah kronologisnya Tora waktu nembak Saga yang ga berhasil. Sekarang Tora jadi secret admirer nya Saga akhir-akhir ini. Dia sering kasih macem-macem barang dari buket bunga sampe coklat batangan di tasnya Saga. Hampir seminggu lebih Tora sudah ngasih itu barang non-stop, bikin Saga jadi penasaran dan pengen tau siapa sih yang berani masukin barang keramat itu ke dalam tasnya?? Dan akhirnya dia pun ngumpulin temen-temennya buat nanya siapa pelakunya.

“jujur nih, siapa dari kalian yang ngirim barang-barang aneh ini ke tas gue?”. Tora jadi menciut seketika, masa’ Saga bilang barang-barang pemberiannya aneh? Gak berperasaan amat itu anak.

Pon diem aja, Shou geleng-geleng kepala, Nao naik-turunin bahunya, sementara Tora udah keringat dingin di pojokan.

“masa’ kalian ga ada yang tau? Sebelum gue masuk, kalian semua kan ada di sini?” Saga mulai curiga sama temen-temennya. “gue yakin pasti salah satu di antara kalian ada yang ngirim ini. Ayo ngaku!” wah, sedikit lagi Tora bakal kena nih.

Pon angkat bicara “sebelum lo masuk, banyak yang seliweran kok di sini. Ada Aoi, Ryouga, Manabu sama Hikaru”
“ngapain semua gitaris itu kemari?” Saga masih kesel. “mereka ngambil gitarnya yang dipinjem Tora. Tadi gue liat sih Tora ada deket-deket tas lo gitu” yak, Mpon tepat sasaran. Tora makin pucet dah tuh mukenye.

Saga udah yakin kalo yang ngirim itu semua adalah Tora. Sejurus matanya ngelirik Tora dalem banget. “Tora, ikut gue keluar”. Mau gak mau Tora musti nurut, dia udah kea anak ayam yang ngikutin induknya dari belakang. Sementara temen-temennya ngeliat dengan cengo dan bingung.

“memangnya lo liat Tora yang masukin itu barang ke tasnya Saga, Pon?” tanya Nao.
“iya. Waktu kita lagi sibuk, gue gak sengaja liat dia masukin sesuatu”
“jangan-jangan Tora suka sama Saga” tebak Nao.
“eeh? O_0” Shou pasang muka gak percaya, lebih ke shock sih.
“kenapa? Ga terima Tora suka sama Saga. Apa jangan-jangan lo yang suka sama Saga!” jiahh,, Pon cemberut jadinya.
“bukan bukan.. gue ga suka kok.. gue kan sukanya sama elo” mulai dah Shou ngegombal gembel. Nao jadi eneg sendiri liat mereka berdua. Dan mari kita lihat Tora dan Saga di luar.

Mereka udah bedua aja nih, mau ngomong empat mata ceritanya padahal tiga pasang mata udah ngintip dari balik tembok. Shou, Pon dan Nao pengen denger Saga bakal ngomel-ngomel ke Tora.

“bener lo yang ngirim ini ke tas gue?” Saga terus aja ngeliatin matanya Tora gak berenti, dan yang ditatap gak pengen liat itu mata indah Saga. “ayo jawab, gue ga bakal marah kalo lo yang ngirim ini”. langsung Tora balik natap Saga.

“lo ga marah gue yang kirim itu. Soalnya lo kan udah tau kalo gue suka sama lo” Tora ngebela diri. Saga keanya udah mulai ngebuka diri buat Tora, keliatan dari ekspresinya.

“tapi jangan diem-diem gini, gue kan bingung. Itu juga karena gue—”

“gue?” Tora penasaran sama lanjutan ucapannya Saga.

“gue—”

“gue?”

“gue juga suka sama lo” Saga berbisik cukup pelan. Tora udah mangap gak percaya, matanya udah hampir sebesar matanya Shou dan idungnya kembang kempis gak karuan. INI KEAJAIBAN, tereak Tora dalem ati.

Sementara itu ketiga orang tukang intip di sana masih terkejut dengernya. Shou senyum-senyum najong, Pon udah kea ngeliat kucing imut-malu sendiri-, dan Nao udah pengen muntah beneran.

Adegan Tora dan Saga ga berhenti sampe situ, mereka akan melanjutkan percakapan mereka dengan ehm ehm.. kisu doang ga lebih. Tora udah majuin kepalanya lebih dekat ke Saga, makin dekat makin pelan.. Shou yang ngeliat gerak-gerik mencurigakan Tora itu jadi ngerti apa tujuan Tora, buru-buru dia nutupin matanya Pon.

“Shou, kenapa jadi gelap begini. Aduhhh” Pon gak sadar kalo suaranya udah senyaring Mogu pas gonggong. Bikin aktifitas ngintip mereka jadi ketahuan.

“hoi! Ngapain kalian di sini? Nguping?” Tora pasang muka barongsai kesurupan. Gahar kea macan takut disunat. Tiga orang itu udah ketakutan dan ngibrit ke studio terdekat (studionya SCREW).

Tora dan Saga ngebiarin aja tiga kucrut itu kabur, karena mereka mau ngelanjutin kisu yang tertunda tadi. Ehmm ehmm ikutan dong.. *SLAPP*


Di studio SCREW,

Kazuki lagi khidmatnya penserpisan sama Manabu dan tiba-tiba kegiatannya di ganggu oleh tiga tamu yang tak diundang.

“ngapain kalian di sini?”

“O_0|||”

Owari

Kazuki: “penserpis sih penserpis, nape cuman di akhir doang?”
Gue: “ini kan fic nya ToSa. Gak usah protes deh lo”
Kazuki: : “lo udah jarang bikin penpic gue sama Manabon. Cepetan bikin!”
Gue: “kenape lo maksa? Abon aja nyante begeto”
Manabu: “gue udah capek dinistakan author somplak ini. Kenapa lo mau sih, Juk?”
Kazuki: “ya jelas lah gue mau, pan pairingnya sama elo Bon” *nyengir*
Gue: “diem lo pada! Jatah penpic kalian masih lama. Tunggu ultahnya Juki baru gue bikin”
Kazuki: “dasar lo! Biar ngomong gitu paling kelewat deadline lagi”
Gue: “ngehina gue lagi! Awas lo Juk, gue culik Abon nih!” *tangkep Abon*
Manabu: “Jukiii.. gue beneran diculik.. tolongin gue....”
Gue: *udah kabur naik shinkansen tujuan ke mars*
Kazuki: “tidakkk.. Manabon gue... dibawa lari author!!!!”