Pair : ShouXHiroto
Chapter : Oneshoot
A/N : ni penpic bikin ilfil. Bukan karena smut or lemon dan sekeluarganya, tapi... baca aja dah *emang sapa yang mau baca*
“Shou,, ini untukmu” dengan malu-malu Hiroto menyerahkan sebungkus kotak, yang entah isinya apa kepada Shou
“untukku? Apa ini?” Shou keheranan melihat Hiroto yang biasanya bersikap seperti itu
“terima saja. Aku khusus membuat ini semalaman” Hiroto lebih mendekatkan lagi kadonya kearah Shou. Membuat Shou juga menerimanya dengan senang hati.
Shou membukanya, dan agak kaget waktu melihat isinya adalah beberapa potongan coklat berbagai bentuk yang tersusun rapi. “kau buat ini sendiri, Pon?”
Begitu Shou memasukkan satu potong coklat ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan, Hiroto was-was melihat ekspresi apa yang diperlihatkan Shou.
“bagaimana? Enak tidak?”
“mm,,enak..ii..iya enak.. enak sekali, ehehe” Shou terlihat sangat ragu mengucapkannya dan memaksa tersenyum pada Hiroto. Tapi Hiroto tak tau apa yang sebenarnya dirasakan Shou.
“ah, iya.. terimakasih juga.ehehe..” lagi-lagi Shou memaksakan tertawanya
“jyaa~~” setelah memastikan Hiroto benar-benar pergi, Shou segera memuntahkan apa yang baru saja masuk di mulut dan perutnya tadi ke tempat sampah di sebelahnya. Shou sengaja berbohong pada Hiroto agar ia tak tersinggung. Yang benar saja, coklat pemberian Hiroto tadi benar-benar pahit. Mungkin jumlah bubuk coklatnya yang telalu banyak atau gulanya yang sedikit. Shou jadi benar-benar mual.
“benar-benar coklat terpahit yang pernah kumakan” ucp Shou lirih. Tenaganya berkurang gara-gara memuntahkan coklat tadi.
“Hei Shou. Sedang apa kau?” Tora tak lama datang dan duduk di samping Shou
“ah, tidak apa-apa. Hanya mual sedikit”
“nih, coba saja” Shou menyerahkan sisa coklat Hiroto pada Tora
“coklat? Ini kan coklat biasa, memang ada racunnya?” Tora mengambil satu potong dan mengamatinya lebih dekat
“coba saja kau makan!” suruh Shou
Tora memakannya, satu detik, dua detik, dan tiga detik, ia baru merasakan betapa pahitnya coklat yang ia makan. Ekspresi Tora juga serupa dengan Shou setelah memakannya.
“heh, coklat apa ini? Pahit sekali!!” bentak Tora seraya membuang sisa gigitan coklatnya ke tempat sampah
“itu pemberian Hiroto padaku. Dia membuatnya semalaman” jelas Shou agak sedih
“wah, kau payah sekali Shou.. jangan biarkan dia bikin yang macam-macam lagi, nanti kau juga yang akan menderita. Lihat aku, Saga waktu bikin coklat untukku rasanya maniss sekali, seperti yang buat.. hehe” Tora semakin bangga saja mempunyai pacar seperti Saga
“yah, kau benar. Saga memang pandai memasak dan Hiroto, dia sama sekali tak ahli soal itu” ucap Shou mengiyakan ucapan Tora
Cukup lama mereka mengobrol tentang ukenya masing-masing, tak lama Shou mendengar suara sesenggukkan, seperti orang menangis.
“iya.. di mana ya?”
“Hiroto!!” seru Shou memanggil Hiroto, tapi dengan cepat Hiroto malah kabur dan lari meninggalkan Shou dan Tora di sana. Tak mau kalah dengan Hiroto, Shou juga mengejarnya hingga sampai depan pintu keluar gedung.
“Hiroto, kau kenapa?” Shou menarik lengan Hiroto agar tak bisa kabur darinya
“maafkan aku, aku tak bermaksud..”
“lepasin gak! Kau tuli, ya!!!” suara Hiroto makin nyaring dan Shou sedikit kerepotan karenanya
“oke, aku lepasin. Aku bisa jelasin semuanya kalau kau mau dengerin aku dulu” ucap Shou menenangkan Hiroto. Ia yakin dengan cara ini ia bisa mengajak Hiroto ‘berdamai’ dengannya. Dan benar saja, cara ini berhasil dan membuat Hiroto menurut pada Shou.
“sekarang apa? Kenapa kau berbohong kalau rasanya enak?!” masih terisak, Hiroto mencoba mengungkapkan emosinya
“kenapa kau juga membandingkanku dengan Saga! Kau juga suka pada Saga, ya?! Pasti begitu!!!” argumen Hiroto begitu kuat dan sulit ditepis Shou.
“bukan seperti itu, sayang. Dia memang lebih tapi itu hanya untuk Tora. Bukan denganku. Kau tau, kau mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki Saga” ucapan Shou membuat hati Hiroto agak mencair. Walaupun 90% amarahnya jauh mendominasi suasana hatinya.
“memangnya apa?!” ucap Hiroto acuh
“kau masih perlu dilindungi, dan hanya aku saja yang mampu melindungimu. Jangan tanya kenapa, karena aku sangat mencintaimu”
“kau masih marah?”
“kita kembali ke atas, yuk” Shou menjulurkan tangannya kepada Hiroto, dan itu disambut Hiroto dengan senang hati
“terimakasih sudah tak marah lagi. Aku menyayangimu, Pon-chan” sebelum mereka pergi dari situ, Shou sempatkan untuk mencium Hiroto. Berharap Hiroto tak marah soal kejadian seperti tadi
“aku juga” ucapnya di sela-sela ciuman panjang mereka

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
























