Showing posts with label ReitaXRuki. Show all posts
Showing posts with label ReitaXRuki. Show all posts

Sunday, June 23, 2013

Fanfic Gara-gara Voucher


Title: Gara-gara Voucher
Author: Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter: 1/1
Pair: ReitaXRuki
Genre: Humour abal
A/N: Lama banget sudah gak bikin Reituki. Oh Reituki, jadilah OTP gue yang baik dan awet supaya kalian bisa gue bikin fic baru..ulalala..

^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^

“TIDAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!” teriak Reita di ruangan yang hanya dihuni oleh tiga orang di sana. Membuat ruangan yang tadinya sepi menjadi super ribut karena ulah sang bassis bernoseband itu.

“ada apa sih teriak-teriak! Berisik, tau!!” Uruha yang lagi main gitar tanpa pick pun jadi ngamuk karena teriakan Reita sudah membuat kuku jari tangannya yang lentik itu patah.

“gue pengen bunuh diri aja!!!!!” lagi-lagi Reita kayak orang kesurupan.

“eh, jangan!!! Utang lo belum lo bayar!!!” kini Kai yang sebel.

“gue udah gak tahan lagi!!!”

“mau boker aja pake teriak-teriak. Ke WC sana!!!!” Aoi jadi sotoy gitu.

“emang lo kenapa sih, Rei?” tanya Uruha baik-baik

“Ruki, Ru... Ruki.....”

“kenapa sama Ruki? ditolak lagi?”

Reita ngangguk ngenes.

“haeh.. kirain apaan..” Uruha, Kai dan Aoi langsung kembali nerusin kegiatannya yang tadi. Kasian deh lo Rei, gak dipeduliin.

“maksud lo apaan?! Gue sudah berusaha buat dia cintrong ame gue tapi teteeeepppppp aja dia nolak gue lagi??” Reita makin nepsong buat nyopot nosebandnya, pengen gigit terus ditelen tanpa minum. “kurang apa coba gue ini?”

“KURANG MANCUNG” jawab Aoi, Uruha, dan Kai serempak

Spontan Reita matung dan ada efek badai salju di sekitarnya.

“kalian jahat sama bassis gajet satu-satunya ini..” mulai mewek dah, tapi gak jadi karena gue eneg liat Reita mewek.

“emang kenyataannya gitu” Kai ceplas ceplos aja deh.

“lagian elo juga norak sih. Nembak Ruki kayak nembak bocah SMP pake ngirim sms alay plus kasih boneka panda. Lo kira dia ceeuuee inghindt dhiimandja apphua?” yaelah,, Aoi kebanyakan maen pesbuk sama anak alay.

“dia kan kayak panda, makanya gue kasih boneka panda”

Uruha makin kasihan aja sama ni bocah “itu malah jadi keliatan kalo lo nyamain dia sama gendutnya kayak panda. Ya jelas lah dia bete”

“lain kali kasih Ruki itu makanan kek, apalagi makanan bikinan gue. Pasti dia doyan” saran Kai

“jangan bikin Ruki keracunan lagi gara-gara makanan lo, Kai!” Uruha udah kayak emak-emak yang takut anaknya diapa-apain sama orang. Protektif gila!

Reita berpikir keras, apa yang bisa dikasihkan ke Ruki supaya cintanya gak ditolak lagi.

Dan tanpa pikir panjang kali lebar sama dengan luas persegi (?), Reita langsung berucap “dikasih voucher shopping mau gak, ya?”

Semua saling pandang..

“GREAT IDEA!!!”

Secercah harapan dan senyum yang terkembang dari Reita membuat ini bocah makin bersemangat dan dia segera ke mol-mol buat ngasih Ruki voucher belanja. Karena pada dasarnya dari orok, Ruki emang doyan banget belanja. Biasa,, calon ibu-ibu..


Setelah berusaha dapetin voucher itu di mol-mol, Reita akhirnya kebagian juga voucher belanja walaupun dia dapet mol yang jual barang-barang secondhand. Dan segera dia kembali ke pelukan (?) Ruki dan nembak dia lagi..


“oh.. Ruki sayangku... cintaku.. mai darling..” tereak Reita dari luar studio yang bikin semua pekerja staff di sana merasa ngeliat penampakan orang gila berhidung pesek datang berkunjung ke kantornya.

Ruki yang kebetulan lewat, pasang muka gak kenal. Dia jalan pelan-pelan biar dia gak diliat Reita, tapi ya biar matanya sipit, Reita ya tetep aja liat Ruki sang permaisuri (?).

“Ruki!!!!! aku mencarimu~~~~ aku bawakan sesuatu nih..” Reita kibar-kibar voucher belanjaan yang tadi dia dapat. Berharap Ruki liat, tapi Ruki nya gak mau liat.

Reita pun ngampirin Ruki dan nyodorin voucher itu tepat di mukanya Ruki. “nih.. liat, Ru. Aku bawa apa?”

Ruki ngeliat ogah-ogahan, tapi begitu liat ada tulisan ‘VOUCHER BELANJA DUA JUTA RUPIAH’ Ruki langsung ngerampas aja itu voucher dari tangan Reita.

“lo dapet ini dari mana?” tanya Ruki.

“kamu gak perlu tau.. yang penting aku sudah ngasih ini”

“yaudah, gue mau ke sana!!”

Belum sempet Ruki pergi, Reita keburu narik kerah belakang Ruki dan ngerebut voucher itu lagi.

“kalau kamu mau dapat ini, ada syaratnya...”

Ruki makin jengkel sama orang pesek ini “apa syaratnya, awas aja yang aneh-aneh!!”

Reita smirk, suer deh aneh banget Reita kalo smirk. “gak aneh kok. Cukup jadi pacarku aja, dan kamu dapat voucher ini”

Ruki berasa pengen seseorang mukul kepalanya sampe bocor, pot bunga segede gaban di sampingnya juga pengen dia makan. Gimana gak coba, masa’ voucher berharganya itu mau dituker dengan dia harus jadi pacarnya Reita. Ogah!!!!

“gue gak mau!!”

“kalau gak mau, voucher ini kubakar. Dan kata orangnya sih, voucher ini tinggal satu-satunya” ancam Reita lagi yang sudah siapin korek gas di tangannya. Ruki serasa dipojokkan dan pilihannya sangat membuat dia menderita.

“bagaimana.. mau tidak?”

“kamu maksa, ya?”

“engga kok. Aku Cuma kasih kamu penawaran bagus aja”

‘itu sama aja maksa pesek!!!!!’ batin Ruki sebel tingkat neraka ke delapan (emang ada?)

“tapi gue mau bikin satu perjanjian. Kalau gue udah jadi pacar lo, gue mau lo kasih voucher beginian lagi” yes! Ruki dipihak yang menang!!

Tanpa ba bi bu be bo, Reita memantapkan tawaran Ruki itu. Cari voucher mah gampang, tinggal sogok yang punya mol, udah. Siapa sih yang gak kenal Reita?!! hohoho.. sombong akut.

“oke! Nih, kukasih vouchernya. Tapi kamu udah jadi pacarku sekarang, ingat itu Ru..”

“iya iya. Gue mau pergi, pake ini voucher. Dan awas aja kalo lo gak ngasih gue voucher lagi. Gue putusin lo!” ucap Ruki yang makin keliatan imut di mata Reita.

“beres! Selama Ruki jadi pacarku, akan kulakukan apapun untukmu”


2 minggu kemudian...

Reita kehabisan duit, kenalannya di mol sudah gak ngasih promo voucher belanjaan lagi. Gimana dong? Janjinya, hari ini Ruki bakal nagih voucher belanja di toko cheesecake. Tapi sampai detik ini pun Reita tak kunjung mendapatkannya. Alasannya sih simpel, pemilik toko cheesecake itu sama sekali gak kenal Reita, padahal Reita udah nunjukin posternya dia bareng the GazettE. Tapi apa mau dikata, sang pemilik toko adalah native dari Uganda yang kebetulan pindah ke Jepang buat bikin cabang cheesecake nya di sana.

“hahh.. gimana ini? Ruki udah datang belum, ya? Gawat aja kalau dia tau gue masih di sini” Reita ketar-ketir.

Gak lama Ruki nongol dan segera serbu Reita dengan pertanyaannya yang membabi-buta.

“kenapa masih di sini?!! Mana voucher gue?”

Reita diam aja. Gak tau mau ngomong apa dan mau jelasin dari mana.

“jangan bilang lo belum dapet?”

Ketauan deh.

“arrghh,, Reita!!!! kita putus!!!”

Reita shock dengernya.. ‘putus’ katanya?? Segampang itukah dia bilang putus?? Dan sesusah itukah dulu gue nembak dia??

Yaamponn... baru juga dua minggu.. kenapa musti putus cuman gara-gara gak dapet voucher??!!!


“TIDAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!”

OWARI

Saturday, July 14, 2012

MY FAVOURITE OTP OF JROCK


1, Shou X Hiroto (alice nine.)





2, Reita X Ruki (the GazettE)


3, Kazuki X Manabu (ScReW)



4, Tora X Saga (alice nine.)



5, Byou X Rui (ScReW)



6, Aoi X Uruha (the GazettE)


7, Kaoru X Toshiya (Dir en Grey)


8, Shin X IV (ViViD)



9, Juri X Leda (Deluhi)

10, Die X Shinya (Dir en Grey)

Sunday, May 13, 2012

Fanfic Nakigahara Kingdom chapter 5~end~


Title : Nakigahara Kingdom
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Pair : ReitaXRuki, ToraXRuki, ToraXSaga.
Chapter : 5/5
Genre : Fantasy, little biiiiitttt Comedy
Contact Person : Eri Matsumoto Gazerock (fb), @eriq_ogata (twitter)
A/N : Fanfic pertama gw yang bergenrekan fantasy. Yah,lagi-lagi  fanfic yang idenya muncul tiba-tiba. Dan err,, judulnya asal kasih aja itu. Jadi rada kagak nyambung. Enjoy...^^

Nakigahara Kingdom

-Tokyo, Harajuku-
“foto bareng ya, kaak~~ kakak kawaii sekali!!” jerit seorang remaja sekitar usia 15 tahun yang melihat gemas pada seorang cosplay berdandan gothic lolita yang ada di Harajuku sambil membawa kamera.
“iya, boleh” senyum ramah para cosplayer itu membuat sang remaja tambah menjerit senang. Dan mereka berfoto dengan gaya yang bermacam-macam.

--ZZRRTTT--

“Ai, Ai, lihat di sana!! Ada kakak cosplayer cantik. Minta foto yuk!!” seorang teman anak gadis tadi menarik paksa gadis yang bernama Ai itu agar segera ke tempat yang di maksud
“ada apa, Rin? Aku kan belum selesai foto” rajuk Ai kesal
“lihatlah itu. Kakak cosplayernya lebih cantik dari yang tadi!” ucap Rin bersemangat. Ai yang melihat cosplayer yang dimaksudpun langsung terpesona. Belum pernah ia melihat cosplayer yang totalitas seperti itu. Tak mau membuang waktu berlama-lama, mereka langsung memburu  cosplayer itu untuk berfoto.

“kakak cantik, boleh minta foto bareng gak?” pinta Ai memohon
“eh? Kau bicara padaku?” tanya cosplayer itu
“iya kak. Kakak cosplayer yang cantik. Boleh foto bareng, ya~~” kini Rin yang memohon
“apa? Cosplayer?!!!” serunya sedikit berteriak. Cosplayer yang dimaksud ternyata adalah Ruki. Ia sudah berpindah dimensi, kembali ke Tokyo. Kenapa kedua gadis itu menyebut Ruki cosplayer? Tentu saja dari penampilan Ruki yang bagai seorang cosplayer profesional. Masih mengenakan kostum putri kerajaan dengan tatanan rambut layaknya perempuan, Ruki tak bisa menahan malunya. Ia takut kalau seseorang yang mengenalnya mengetahui kalau dia sedang memakai kostum seperti ini.
“kakak ini benar-benar profesional ya? Kedua tangannya sampai dibikin diperban dengan eksen darahnya. Kerennn!!”
Glek ‘eksen apaan?! Ini beneran tauu!!’ rotes Ruki dalam hati
“boleh ya kak?” pinta Ai lagi

“ii..iya iya sudah.. tapi jangan lama-lama”
“baik kakak cantik” ucap kedua gadis itu senang
Mereka bertiga berfoto smapai lima kali. Merasa sudah cukup, Ruki menyudahinya dengan alasan buru-buru. Ia berpamitan dengan dua gadis itu dan pergi.

ia tau di mana sekarang ia berada, di Harajuku yang biasanya jadi tempat menghabiskan akhir minggu bersama Reita. Ruki jadi teringat pada pacarnya itu. Apakah sekarang Reita sudah punya pacar lagi atau tidak. Ruki masih menebak-nebak.

“permisi nona”
Suara laki-laki yang memanggil Ruki memaksanya untuk berhenti dan menengok
“apa anda lihat laki-laki ini?” tanya lelaki itu sambil memperlihatkan selembar foto yang dimaksud

Tak ada jawaban dari Ruki
“apa anda melihat—“ lelaki itu diam seketika, melihat wajah Ruki seutuhnya. Bukan ia tahu kalau itu Ruki, tapi Reita terpesona dengan kecantikan Ruki sekarang

“Reita?” ucap Ruki yakin. Ia benar-benar senang melihat orang yang ia cari kini berada tepat di depannya

“nn..nona, darimana anda tau nama saya?” tanya Reita gugup
“ini aku, Ruki. Matsumoto Takanori, pacar Reita Suzuki”
Nampk Reita keheranan. Masa Ruki mau berdandan seperti ini. Tapi dilihat-lihat, itu memang Ruki.

“Rukiii,, aku kangen padamu!! Kenapa kau menghilang?” Reita langsung memeluk Ruki, mendekapnya hingga Ruki kesulitan bernapas
“hosh..hosh..” Ruki melepaskan pelukan Reita dan mulai menjelaskan semuanya dari awal

“benda ini bisa memindahkan kita ke dimensi lain?” tanya Reita tak percaya melihat sebuah tombol yang ada digenggamnya
“ya begitulah. Aku sendiri juga tak mengerti. Yang penting aku sudah kembali”

“ngomong-ngomong, kau dapat kostum cosplay ini darimana?”
Ruki bingung mau menjawab apa. Kalau ia menceritakan tentang Tora pada Reita, nanti ia bakal bertanya macam-macam. Lebih baik tak usah diceritakan.

“aku menemukannya di jalan. Berhubung bajuku sobek, aku terpaksa memakainya” kilah Ruki

“dan rambutnya juga?”
Glek “iya Reita. Sudahlah, kau ini banyak tanya. Antarkan aku pulang sekarang karena aku tak mau ada orang lain lagi yang melihatku berpenampilan seperti ini”
“baik nona cantik. Hihihi ^^”
...
At Ruki’s home
TING TONG TING TONG

tak ada sahutan dari pemilik rumah
TING TONG TING TONG TING TONG

“ada apa?!” Ruki membuka pintu rumah dengan terpaksa. Minggu pagi yang seharusnya ia bermalas-malasan malah harus mendengar suara ribut bel rumahnya.

“ada kiriman paket untuk Tn. Ruki” ucap seorang pemuda yang cukup tinggi dengan pakaian ala pengantar barang plus topi perusahaannya. Bagian depan topi pemuda itu menutupi sebagian wajahnya
“oh, itu aku. Kiriman dari siapa ya?”

“silakan tanda tangan di sini” pemuda itu menyerahkan selembar kertas bukti penyerahan barang dan menyimpannya kembali setelah di tandatangani Ruki.

“terimakasih tuan, semoga hari anda menyenangkan”’ pemuda itu membungkukkan badan dan kembali dengan membuka topi yang sedari tadi menutupi wajahnya

Ruki nyaris tak bisa bernapas sempurna. Matanya terbelalak melihat wajah pemuda di depannya ini. Tinggi badan, struktur wajah, tatapan, dan senyumnya sama persis dengan Tora.

“aku bermimpi” ucap Ruki tak sadar

“ada apa tuan? Anda baik-baik saja?” sang pemuda melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ruki

“kau Tora?!” seru Ruki yakin.

“Tora? Nama saya Shinji, tuan. Ini nama lengkap saya” ia memperlihatkan ID Name yang terpampang jelas di dadanya. Shinji Amano.

“kau bukan Tora?” tanya Ruki lagi, setengah masih tak percaya

“bukan, tuan. Saya Shinji. Baiklah, tugas saya sudah selesai. Terimakasih banyak” pemuda bernama Shinji itu membungkukkan badannya lagi kemudian pergi mengendarai sepeda motor.

‘sepertinya Tora sudah mulai merasuki pikiranku. Aargghhh, pangeran bodoh itu!! Tidak mungkin!!’ teriak Ruki dalam hati

ia kembali ke kamarnya, berjalan pelan sambil menerka-nerka siapa pengirim paket untuknya dan apa isinya.

Dibukanya cepat, tak peduli kertas pembungkus paketannya sudah terhambur ke mana-mana
Dan benda apakah isinya...

“sepatu sekolah? Tapi kok tidak asing, ya?” alis Ruki bertaut. Siapa sebenarnya pengirim sepatu ini padanya
Sebuah kertas terselip di bawah sepatu

maaf aku hanya mengembalikan sepatumu saja. Seragam sekolah dan dasimu boleh aku minta kan? Sebagai kenang-kenangan. Jangan tanya bagaimana aku bisa mengirim ini padamu. Aku harap kau tak melupakanku.
-Tora-

Dan akhirnya Ruki benar-benar pingsan setelah membaca surat itu

Owari

Fanfic Nakigahara Kingdom chapter 4


Title : Nakigahara Kingdom
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Pair : ReitaXRuki, ToraXRuki, ToraXSaga.
Chapter : 4/5
Genre : Fantasy, little biiiiitttt Comedy
Contact Person : Eri Matsumoto Gazerock (fb), @eriq_ogata (twitter)
A/N : Fanfic pertama gw yang bergenrekan fantasy. Yah,lagi-lagi  fanfic yang idenya muncul tiba-tiba. Dan err,, judulnya asal kasih aja itu. Jadi rada kagak nyambung. Enjoy...^^

Nakigahara Kingdom

“Ruki, gomennasai”
“....”

Tora sudah ada di hadapan Ruki. Berdiri tanpa menunggangi kuda putihnya.
“kamu ngapain ke sini?” ucap Ruki sinis. Bibirnya agak gemetar

“ak..aku..”
“ssshtt.. “ potong Ruki cepat
“dari awal aku yang salah. Aku sama sekali gak kenal kamu karena aku tiba-tiba muncul di tempat aneh ini, dan kau mengira aku bidadari yang turun dari langit yang kau anggap aku ini calon istrimu. Yang lebih buruknya adalah, aku percaya semua itu. Hingga aku melihat sendiri kau tengah... tsk.. sudahlah!”

“Ruki,, aku bisa jelaskan! Ruki!! Tanganmu!! Berdarah”
“kau harus cepat di obati, kalau tidak...”
“DIAM KATAKU!!!”

Tora terdiam. Ia dapat merasakan hawa-hawa amarah dari Ruki. Dan ia tau, perbuatannya tadi membuat Ruki sakit. Ditambah lagi kedua tangan Ruki yang berlumuran darah. Tora bisa merasakannya.
“aku mau pulang! Tapi aku gak bisa... tombol keparat itu yang membawaku ke sini!!!”

‘tt..tombol?’

“Ruki, tenangkan dirimu dulu. Aku bisa jelaskan semuanya”
“jelaskan apa, ha?!”

“aku hanya ingin bilang padamu..”

“hiks..apa?”

“kau sangat cantik dengan baju itu. Terimakasih sudah memakainya untukku, dan cakenya juga. Terimakasih” seulas senyum tulus tersungging di bibir tipis Tora

“jangan menangis, Ruki. Aku tau aku yang salah. Gomen ne..”
Tora memeluk Ruki erat, merasakan setiap inci tubuh Ruki. Pundak Tora pun terasa hangat karena air mata Ruki yang terus mengalir. Belum pernah Tora memiliki perasaan seperti ini. Hanya pada Ruki ia seperti ini. Karena Ruki adalah cinta pertama Tora.
“hiks..hiks..hiks..”

“tanganmu.. biar aku saja”
Tora meraih tangan Ruki dan membersihkan lumuran darah itu dengan kain dari bajunya. Terlihat Ruki meringis kesakitan karenanya.

“ss..sudah cukup. Aku ingin pulang seka—”
BRUKK
Ruki pingsan di pelukan Tora.
...
-Tokyo, kantor polisi-
“anda harus menjelaskan secara jelas. Kalau tidak, kami tak bisa membantu anda” ucap seorang polisi yang tengah berbicara dengan Reita
“dia anak SMU seumuran saya, tapi tingginya baru 165. Agak berisi, rambutnya coklat dengan style harajuku, trus dia hilangnya pakai seragam sekolah. Pokoknya wajahnya mirip perempuan, pak” jelas Reita tanpa berhenti
‘ciri-ciri yang aneh’ batin pak polisi

“baiklah, kami kumpulkan dulu datanya dan segera kami sebarkan di seluruh kota”

“arigatou, pak.. terimakasih banyak”
...
Di dalam istana, tepatnya di kamar Tora. Ruki tengah tertidur di kasur king size Tora, dan Tora sedang menunggu Ruki sampai siuman. Tora takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ruki.
Lihatlah kondisi Ruki saat ini, kedua telapak tangannya di perban, kaki kanannya sedikit lebam karena terjatuh tadi, dan wajahnya pucat. Entah bagaimana reaksinya kalau ia bangun nanti.

“nnhh.. rrhh.. Rei,.. Reita..”
Tanda-tanda kehidupan mulai ditubjukkan Ruki. Tora sangat senang, tapi ia tak suka mendengar igauan Ruki.
“Ruki, cepatlah bangun. Aku mengkhawatirknmu” dibelainya pipi Ruki dan ia genggam punggung tangan yang terlilit perban itu.

“ahh,, aku, apa aku sudah pulang?” matanya terbuka sempurna, namun masih berhalusinasi.
“kau masih di sini, Ruki” ucap Tora yang benar-benar membuat Ruki tersadar

“aku? Kenapa ada di sini?”
“kau perlu istirahat, dan sepertinya kau lapar. Ini aku bawakan sup”

“tidak perlu. Aku mau pulang” rengek Ruki lagi.
“kau tak bisa pulang dalam keadaan lapar. Kalau kau pingsan lagi bagaimana?”
“peduli apa kau padaku?”
“aku sangat mengkhawatirkanmu”
“lalu orang tadi juga kau khawatirkan?”

“he? Dare?”
“jangan belagak bodoh seperti itu. Kau memang bodoh, jadi tak usah seperti itu. Jawab yang jelas!”

“hmm, maksudmu Saga?” ucap Tora pelan
“mungkin. Memangnya aku peduli dengan namanya?!”

“ahahaha,, soal itu, aku memang mengkhawatirkannya, karena dia sepupuku. Dan, adegan ciuman tadi adalah sebatas latihan drama di sekolahnya. Kebetulan, hanya aku laki-laki di sini selain dia pastinya. Dia sangat kesulitan jika berciuman dengan wanita. Kuharap kau bisa mengerti, Ruki” tutur Tora meyakinkan

Ruki jadi salah tingkah. Seharusnya ia tadi tak kabur dari situ, tapi perasaanya jadi tak karuan melihat kejadian tadi.
“makanlah, sebelum supnya dingin” tawar Tora ramah

Ingin rasanya Ruki meninju Tora saat itu, “kau buta, ya?! Lihat tanganku! Mana bisa aku makan! Dasar bodoh”

Tora menghela napas
“mau kusuapi?” ucapnya tersenyum di depan wajah Ruki. Bisa kau bayangkan wajah Ruki sekarang, merah seperti cat merah yang dipoles berulang kali.
“aaa...”
Tora mulai menyuapi Ruki. Tak bisa Ruki menolak makanan itu, karena saat ini ia sangat lapar. Tora terus saja menyuapi Ruki dengan hati-hati, dan selama itulah Ruki memperhatikan Tora terus.
“ada apa?” ucap Tora membuat Ruki beralih pandang karena takut kalau Tora melihat wajahnya yang merah
“tidak. Tidak ada apa apa”
“oh. Ayo makan lagi. Ruki-chan, kereta apinya mau masuk.. Aaaa..”
Ruki makin dibuatnya berdebar-debar. Tora sangat baik padanya, dan Ruki malah membalasnya dengan kata-kata yang jahat.
“sudah cukup. Aku sudah kenyang”
“oh, baiklah”
Tora meletakkan mangkuk yang setengah kosong itu ke atas meja. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka setelah Ruki menghabiskan supnya.

Hening agak lama

“Tora”
“hm, Iya?”
“terimakasih. Kau sangat baik padaku, dan aku tak bisa membalas apapun”
“tak apa. Aku senang sekali kau ada di sini yang entah kau berasal dari mana. Ruki, sebenarnya aku..” Tora memutuskan ucapannya
“apa?”

“aku mencintaimu”
Ruki terbelalak seketika. Dia pikir Tora hanya bercanda saja, tapi terlihat dari wajahnya yang serius, ia bisa menangkap bahwa Tora benar-benar mencintainya
“maaf”
“aku tau”
Ruki makin tertarik untuk mendengar kata-kata Tora
“aku tau itu. Karena kau punya seseorang di tempat asalmu, kan? Hmm, aku bisa mengerti. Tapi aku bahagia, karena sudah menyampaikan perasaanku ini padamu”

“Tora..”
“oh iya, sepertinya kau mencari ini” Tora mengeluarkan sesuatu dari kantong baju kerajaannya di belakang dan memberikan sebuah benda yang dicari-cari Ruki selama ini.

Tombol waktu

“dd..di mana kau menemukannya?” perasaan Ruki bercampur aduk, antara senang dan sedih, karena pastinya ia akan meninggalkan Tora
“di bawah sepatumu saat kau berdiri di hutan tadi”
“yokatta~~ akhirnya aku bisa pulang. Sekali lagi terimakasih banyak”
“iya”

Dalam hati Tora, sebenarnya ia tidak mau memberikan tombol itu pada Ruki, karena itu pasti akan membuatnya tak bisa lagi bertemu dengan Ruki selamanya. Tapi, ia lebih mementingakan keinginan Ruki untuk bisa pulang kembali ke tempat asalnya.
“kau mau pulang sekarang, Ruki?”
Anggukan mantap Ruki membuat Tora makin sedih kehilangan Ruki
“semoga kau bisa sampai dengan selamat”

“tapi sebelum itu..”
Ruki mendekati Tora hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. Yap, Ruki memeluk Tora erat.
“Ruu..Ruki?”
“aku pasti akan merindukanmu, pangeran bodoh. Hihihi”
Tora bisa menangkap maksud Ruki. Dan ia pasti juga akan sangat merindukan cinta pertamanya itu
“ahhaha,, aku juga Ruki-chan”
“sebagai salam perpisahan, aku ingin...” Ruki tak meneruskan ucapannya. Ia tertunduk sejenak
“apa?”

CHUU

Ruki dengan cepat menyambar bibir Tora yang masih menganga karena bingung dengan maksud Ruki barusan. Dan barulah Tora tersadar kalau maksud Ruki itu adalah ciuman. Ciuman perpisahan.
Bukan ciuman penuh nafsu, namun ciuman segar dengan beberapa jilatan manis di kedua media pihak.
Mereka menikmatinya, merasakan degup jantung masing-masing yang sudah tak karuan temponya.

“Tora, terimakasih..”
“iya. Terimaksih juga Ruki. Aku sangat mencintaimu”
“hiihihi.. aku pulang dulu, sayonara~~”
Ruki memencet tombol itu dan perlahan bayang-bayang Ruki menghilang di udara. Tora hanya bisa tersenyum getir melihat orang yang amat ia cintai sudah tak ada lagi bersamanya.

To Be continue

Fanfic Nakigahara Kingdom chapter 3


Title : Nakigahara Kingdom
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Pair : ReitaXRuki, ToraXRuki, ToraXSaga.
Chapter : 3/5
Genre : Fantasy, little biiiiitttt Comedy
Contact Person : Eri Matsumoto Gazerock (fb), @eriq_ogata (twitter)
A/N : Fanfic pertama gw yang bergenrekan fantasy. Yah,lagi-lagi  fanfic yang idenya muncul tiba-tiba. Dan err,, judulnya asal kasih aja itu. Jadi rada kagak nyambung. Enjoy...^^

Nakigahara Kingdom

Ruki beserta dayang kerajaan sudah berada di dapur. Atribut khas dapur pun sudah mereka pakai. Jangan tanya bagaimana model celemek kerajaan. Mewah dan terbuat dari 100% sutra. Walau Ruki hanya menonton para dayang membuat cake untuk pangeran, tapi ia sering disuruh sang kepala dapur untuk turun tangan langsung membuatnya. Ruki benar-benar ingin pulang saat itu juga.
“tuan Ruki, anda harus mengaduknya seperti ini. Bukan seperti itu!” suruh sang kepala dapur sambil mencontohkannya di depan Ruki
“ii..iya..”

Ruki baru tau kalau bekerja di dapur itu melelahkan. Apalagi di suruh-suruh seperti itu.

“tuan Ruki, cakenya sudah selesai. Sebagai perkenalan, sebaiknya anda saja yang memberikan ini pada pangeran di kamarnya”

“KUSO!! Kenapa harus aku?!! Tidak mau!!” Ruki menolak keras

“ayolah, tuan. Ini untuk calon suami anda juga”
“HAAAA?!!!”
Ruki makin tak habis pikir. Seenaknya saja mencap orang sebagai calon istrinya. ‘Memang siapa yang mau, orang bodoh seperti dia tak cocok jadi pangeran’ pikir Ruki

“yasudahlah. Kalian memaksaku terus! Huh! Sini, berikan cakenya!” dengan berat hati Ruki mengambil dengan kasar cake yang ada di meja dan pergi meninggalkan dapur.

“tuan Ruki galak juga ya”
“hihi,, iya”
Para dayang berbisik-bisik setelah Ruki pergi
“hei!!” seru Ruki yang tiba-tiba muncul kembali
“aa..ada apa tuan?” semua dayang yang di situ jadi gelagapan. Mereka takuta kalau pembicaraan barusan terdengar Ruki

“err,, kamarnya di mana ya? Hehe..”
GABRUKK
“sebelah kiri, lurus kamar ketiga dari ujung” ucap seorang dayang yang masih terlihat muda
“arigatou”
...
-Tokyo-
“RUKIIIII,,,, KAU DI MANA??!!!” Reita berteriak teriak sendiri di taman, yang pada sore itu hanya ada anak-anak kecil yang masih bermain.
Di antara anak-anak itu mereka berbisik
Anak 1: “hei, kakak itu kenapa?”
Anak 2 : “gag tau. Lagi stres kali”
Anak 3 : “stres ditinggali pacar keknya”
Anak 1 : “wah, mungkin juga. Makanya dia kaya’ orang gila gitu”
Anak 2&3 : “ya. Betul betul”
Dari kejauhan, Reita mendengar semua pembicaraan ketiga anak itu. Dan....
DUAGH DUAGH DUAGH
Reita melempari ketiga anak itu dengan kaleng soda bekas yang ada di tong sampah
“WOIII!! GAK TAU ORANG LAGI SEDIH, YA!!!” Reita misuh misuh sendiri, dan sang anak kabur tanpa jejak

“hiks..hikss.hiks.. Ruki-chan~~ kau di mana? Sms enggak, telpon apalagi... hueee”
Dari tadi Reita sudah cari-cari Ruki, mulai dari temen deketnya, keluarga terdekat, sampe tukang jajan langganannya. Mereka semua mengatakan kata yang sama. Tidak.
Reita sudah frustasi. Dia berniat untuk menghubungi polisi dan segera ke kantor polisi sekarang.
Tapi ia tak tau kalau usahanya hanya sia-sia. Yang bisa membuat Ruki pulang adalah Ruki sendiri. Ruki harus mencari tombol itu agar ia bisa pulang ke Tokyo dengan selamat.
...
Menyebalkan sekali. Kenapa harus aku yang memberikannya. Mereka kan punya tangan?!!
Kucari kamar yang dimaksud dayang tadi. Kamar ketiga dari ujung.
hmm,, satu, dua, tiga. Yak, pasti ini kamarnya.
Pintunya tertutup, dan kucoba memutar anak pintunya.

eitt,, tunggu dulu. Suara siapa itu?

Bukan bermaksud menguping pembicaraan orang lain, tapi ada keinginanku untuk mendengarnya. Langsung kutempelkan kupingku di daun pintu. Mendengarnya secara detil. Dan astaga! Suara laki-laki lain? Seperti mendesah.. oh Tuhan, jangan biarkan aku berprasangka jelek.
Aku ingin memastikannya, dan kubuka pintu itu perlahan.

prasangka jelekku yang tadi benar terjadi. Ada orang lain lagi di kamarnya. Tapi,, kenapa harus berciuman seperti itu?!! Menjijikkan!

BRUKK
Cake yang tadi kupegang karena tanganku gemetar. Mereka yang sedang ‘bermain’ itu langsung menoleh ke arahku.
Sekilas kulihat wajah pangeran bodoh itu memelas melihatku. Cih! Dasar hina!!!

Aku ingin pulang sekarang. Reita, seandainya kau di sini....
...
Tak sadar aku pergi dari situ, dengan kecepatan tinggi kuusahakan untuk menerobos kawalan di depan istana. Sialan, gara-gara baju bodoh ini, aku tak bisa berlari kencang. Dan sepatu heels ini,, akkh!!
Aku tersungkur ke tanah. Kakiku juga terkilir. Ya Tuhan, sakit sekali...

Sebisa mungkin aku harus pergi dari situ. Apapun kondisinya, walau kakiku patah sekalipun.
Hingga aku sudah berada di hutan. Hutan tempat di mana aku bisa sampai di dunia aneh ini.
“tombol!! Tombolnya di mana?! Aku mau pulang!!” dihadapanku hanya semak belukar. Kutebas semak yang menghalangiku, berharap tombol ajaib itu kutemukan. Dan tak peduli kedua tanganku sudah berdarah karena semak yang berduri itu.

“Reita,, maafkan aku.. aku ingin bertemu kau lagi. Hikss..hikss.hiks..”
Akhirnya air mataku tumpah juga. Entah aku menangisi hal apa. Tapi sepertinya kejadian tadi membuat perasaanku sakit. Tora, apa aku sudah mulai mencintaimu?

“Ruki”

“Reita...”
Ternyata bukan. Dia bukan Reita. Tapi untuk apa dia ke sini?

“Ruki, gomennasai”

To Be Continue