Thursday, June 21, 2012

Ketika typo melanda akang Manabu

Jempolnya akang Manabu keseleo kali yah, niat mo nulis LONDON kurang hurup N. jadinya LODON. weh weh weh. si akang meni typo pisan.


Hahaha.. bahasa Inggrisnya cuman segitu doang.. fufufufufu

Best Moments of alice nine. For Shou X Hiroto

Piku-piku yang menampilkan momen terbaik antara OTP number one eke, sapa lagi kalo bukan Shoupon. Mereka kerap kali terlihat dekat dan mesra sekali kalo lagi foto-foto, bahkan sampe live-live jugag.. hohoho,,, pair terromantis sepanjang masa XDXD

Eeeaa,, mau nempel malu malu tuh

Mpon Perhatian banget keknya

Ayo dikit lagi, nanggung tuh

Nempel terusss

Perhatikan juga pair yang di belakang

Tanganmu Shou!!! tanganmu itu loh!!!

Shou perv sekali!!!

Senyum bahagia khas milik Shou

Tatapanmu itu, Shou!!! Mupeng bener keknya

Maap rada blur

Siiipppp!!! d^^b

Nempel lagiiiii

Sekarang Mpon yang pengen

Tangannya Shou pegang2 terus

Hello Dear Numbers. cieee,, ngelilingin panggung bedua

Matanya Shou dan Mpon,, liatin!!!!

Sejoli yang bahagia



Hanya bisa berkata, "pasangan kawaii"
bahagia banget kalo mereka beneran gitu yah~~

Golden Bomber Creating Own CM for Morinaga's "ICE BOX"


Ini nih iklan minuman yang dibintangi Golden Bomber.. awalnya sih biasa aja (normal), tapi pas liat endingnya,, ngakak sumpah!!
Kenapa ada Kenji jadi fairy mother di situ!!!

GYAAAA~~~~ Serammmmm!!!!

oiya, si Kyan sama Jun ganteng deh >///<
#eeeaa

Ngeliat minumannya juga jadi haus nih, mana lagi puasa lagi!!! Haduhh, ngiler dah.

Wednesday, June 20, 2012

Fanfic New Taste (ShouXHiroto)



Title : New Taste
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Pair : ShouXHiroto
Genre : Fluff
Listening to : Royz – New Age *malem2 dengerin nih lagu*
A/N : fanfic yang dikerjakan dan diselesaikan tengah malam.. *menatap horror fic ini*


New Taste

Malam hampir larut, dentingan jam yang cukup terdengar di kamar sunyinya membuat ia menengok dan memperhatikan seksama bahwa saat ini sudah pukul sebelas malam. Rasa kantuknya tak dapat ia hindari, karena sejak pagi tadi ia tak tidur sedikitpun bahkan tidur siang tak sempat ia lakukan. Sesekali ia menguap sambil menutup jendela dan korden di samping tempat tidurnya. Ia rebahkan tubuh kecilnya di kasur empuk itu, merasakan nyamannya tidur yang selama ini ia butuhkan.
“haaah~~~” matanya perlahan terpejam dan—

TURT TURT TURT

Kelopak matanya terbuka sempurna. Tangannya meraih malas sebuah iphone di atas meja dan melihat layar yang cukup lebar itu. Sangat tak mau sebenarnya ia mengangkat telepon ‘gila’ itu di malam hari, namun ia urungkan karena melihat kontak nama yang tertera di sana dengan tulisan ‘Shou’

Ia mengambil napas dalam, dan berusaha mengumpulkan ‘nyawanya’ yang hampir hilang karena kantuknya sendiri. Sapaan singkat ia ucapkan pada seorang Shou di seberang telepon.
“moshi moshi. Apa aku mengganggumu tidur?” tanya Shou hati-hati
“kelihatannya?”
“maaf. Aku ingin bicara padamu Hiroto, penting sekali. Kuharap kau tidak tertidur selama aku berbicara”
Hiroto, ia menguap lagi lalu menanggapi ucapan Shou “ada apa? Baik, aku dengarkan”
Shou mulai bicara, tidak terlalu cepat seperti yang biasanya “aku minta bantuanmu. Ini sangat penting dan aku janji ini yang terakhir” “aku ingin kau menjadi pacar bohonganku di reuni SMAku”

Hiroto yang masih setengah sadar itupun akhirnya sadar sepenuhnya. Ia kaget, sangat kaget dengan ucapan yang malah terdengar sebagai igauan Shou padanya. “kau serius, Shou?” tanyanya bingung

“ya begitulah. Reuninya dua hari lagi, dan mereka membuat peraturan kalau semua yang datang harus berpasangan semua” ucapnya juga terdengar cemas “tak terkecuali aku, Hiroto”
“tapi kenapa harus aku? Memang tidak ada cewek lain?” dengusnya
“aku tidak mau mereka. Ayolah, kau kan sahabatku Hiroto.. nanti aku dandanin deh!” ujarnya yang makin mambuat Hiroto merinding mendadak

“lalu aku harus bagaimana?”
“besok aku ke rumahmu. Kita akan belanja pakaian”
“haahhhh~~~ kau ini, selalu merepotkanku” ucap Hiroto pasrah. Ia jadi teringat saat dua minggu kemarin, di mana ia dimintai bantuan Shou untuk menjadi ayah bohongan bagi adik Shou yang pada waktu itu di sekolahnya ada acara pembagian raport kenaikan kelas. Dan yang harus mengambil itu orang tuanya. Berhubung ayah maupun ibu Shou sedang di luar kota dan Shou sendiri ada pekerjaan yang tak bisa ditunda, maka akhirnya Hirotolah yang menggantikan ayah Shou di sekolah adiknya.

“nanti akan kubelikan apapun deh yang kau mau. Asalkan kau membantuku semalam saja”
Hiroto menghela napas “hah, terserah kau saja”
Shou pun berterimakasih banyak pada Hiroto, sang sahabat. Hanya Hiroto yang bisa ia percaya dan orang yang bisa ia mintai tolong. Tapi Hiroto tak mau hanya menjadi sekedar sahabat bagi Shou. Ia ingin menjadi sesorang yang lebih di mata Shou. Seseorang yang selalu bisa mengisi hari-hari Shou, dan juga hatinya.

((=♥•̃⌣•̃♥=))

Tepat seperti yang Shou janjikan. Jam 8 ia sudah tiba di rumah Hiroto untuk menjemputnya, walaupun Hiroto sama sekali belum persiapan sama sekali. Shou pun menunggunya hingga nyaris setengah jam. Tak apa pikir Shou, yang penting baginya adalah rencana esok malam harus berhasil tanpa harus ketahuan teman-teman SMAnya.

Suara langkah kaki dari arah anak tangga membuat Shou menoleh. Hiroto sudah siap jalan bersamanya dengan style yang cukup manis. Kaos abu-abu bertuliskan ‘NEVER DIES’ dan celana yang cukup ketat bercorak seperti harimau. Dengan boots kecil ia melangkahkan kakinya keluar di susul Shou di belakangnya. Mereka jadi terlihat seperti muda-mudi yang baru merengkuh manisnya masa-masa pacaran. Tanpa aba-aba, Shou menggandeng Hiroto masuk ke dalam mobilnya. Dan tancap gas hingga sampai pusat perbelanjaan di kota.

“kau tau kan aku punya sentuhan fashion yang baik, jadi .. aku yang akan memilihkanmu pakaian” ucap Shou agak menyombongkan diri. Sementara Hiroto duduk-duduk saja di sekitar baju-baju mall yang tergantung di sana
Sepuluh menit tak ada yang bisa Hiroto lakukan, hanya melihat Shou yang sibuk sendiri memilih baju-baju yang menurutnya sangat aneh bila ia pakai nanti. Tak kunjung Shou menghampirinya, Hiroto membuka iphonenya lagi seraya menulis sebuah isi hati dan ia simpan di suatu folder yang hanya ia saja yang tahu password untuk membukanya.
Dua puluh menit berlalu, Shou datang ke arah Hiroto dan menunjukkan baju dan celana berwarna berbeda padanya. “dengan ini kau bisa memanipulasi mereka” ucap Shou penuh keyakinan
“maksudmu?”
“iya. Kalau kau memakai ini semua, teman-temanku pasti akan mengira kalau kau seorang cewek tomboy”
Tak sadar Hiroto sudah membuka mata dan mulutnya cukup besar. Lagi-lagi Shou mencoba membuat Hiroto malu. Yang benar saja, Hiroto ingin sekali memang menjadi pacar Shou, tapi dalam wujud aslinya yang sebagai laki-laki. Dan bukan sebagai cewek yang kelaki-lakian.
“kau bercanda Shou?” tanya Hiroto tidak yakin
“kumohon Hiroto. Semalammmm~~ saja. Apapun yang kau minta nanti aku belikan deh! Swear!” ujar Shou sambil membentuk jari lentiknya dengan simbol ‘peace’

Hiroto hanya bisa menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Shou melihat Hiroto seperti itu pun tak kuasa menahan senyumnya. Sahabatnya kini, rela didandani sebagai cewek hanya karena sebuah ‘keegoisannya’ dalam menghadapi teman-teman lamanya. Shou berharap Hiroto tidak akan marah selepas ini.

((=♥•̃⌣•̃♥=))

“besok sore kau datang ke rumahku, ya~” suruh Shou yang pandangannya masih menatap lurus ke depan dalam menyetir mobil
Tak ada jawaban dari Hiroto, Shou berkata lagi “aku akan me-make over dirimu. Supaya terlihat lebih, errr.. manis” kata terakhirnya agak pelan ia ucapkan
“iya” sesingkat itulah Hiroto menjawab. Dirinya kini memang bersama Shou, tapi pikirannya jauh pergi ke mana-mana. Ia terus membayangkan dirinya nanti bersama Shou di tengah kerumunan teman-temannya yang sama sekali Hiroto tak mengenalnya.
Hiroto harap-harap cemas pada nasibnya. Kaosnya yang tadi rapi, kini sudah terlihat lekukan di sana sini akibat ulahnya meremas-remas kaos itu.

((=♥•̃⌣•̃♥=))

Sampai di rumahpun ia masih memikirkanya. Makan tak enak, tidurpun juga susah. Ia jadi seperti orang yang terkena insomnia akut. Jam satu dini hari, ia buka kembali iphonenya. Menuliskan sebuah paragraf baru untuk kemudian ia simpan lagi di folder terpassword yang sama seperti tadi siang.

Di dalam folder itu ia sudah menuliskan berratus-ratus curahan isi hatinya. Kegiatan itu ia mulai pada saat awal ia mengenal Shou musim semi tiga tahun lalu. Shou yang baru saja pindah dari Fukuyama sekarang sudah menjadi tetangga bagi Hiroto. Tiap hari mereka sering bertemu, ditambah lagi Shou satu universitas dengan Hiroto walaupun beda kejuruan. Tapi itu yang membuat mereka hampir tiap waktu pulang bersama. Masa-masa indah bagi Hiroto yang baru mengerti kalau Shou tidak memiliki pacar sama sekali.

Dari awalpun Hiroto sudah menyukai lelaki tinggi itu. Mulai cara bicaranya, tingkah lakunya, dan cara ia menyampaikan perasaannya walau hanya sekecil apapun itu. Shou sudah membuat hari-hari Hiroto menyenangkan. Dan besok mungkin adalah hari yang paling akan berkesan bagi Hiroto. Sebenarnya ia tidak mau menjadi pacar bohongan seperti itu, ia ingin kenyataannya. Hiroto ingin bisa menjadi pacar sungguhan bagi Shou, dan bukan sebagai alat untuk membohongi kawan-kawan Shou di sana.

Sekali lagi ia sulit memejamkan mata. Dan satu-satunya alternatif adalah menyalakan AC dengan kekuatan minimum sehingga ia masih bisa merasakan sejuk walau ia menutup seluruh tubuhnya dengan berlapis-lapis selimut tebal sekalipun. Ia bisa merasakan perasaannya menenang, dan ia coba menutup kedua matanya untuk menikmati tidur nyenyaknya yang tertunda beberapa jam.
Ia tertidur, nyenyak. Seperti sedang bersama Shou di alam mimpi.

((=♥•̃⌣•̃♥=))

“pakailah ini di kamarku, sementara aku berganti pakaian di kamar lain” ucap Shou memberikan satu set pakaian yang kemarin mereka beli seraya ia pergi juga membawa pakaian untuk dikenakannya
Hiroto menangguk, masuk ke dalam kamar Shou dan menguncinya dari dalam.
Ia tak yakin apakah ia sanggup memakai pakaian ‘aneh’ ini. Lihatlah, sebuah kaos berwarna hitam dengan list merah yang kebesaran, ditambah celana ketat polos berwarna abu-abu. Shou juga tak lupa melengkapinya dengan sebuah syal sewarna dengan celananya. Kau tau itu untuk apa? Jelas, syal itu untuk menutupi jakun Hiroto agar tak ketahuan. Hiroto terus menatap nanar apa yang sudah ia kenakan saat ini. Di sebelahnya terdapat cermin seukuran dirinya dan ia coba berdiri tepat di depan cermin itu. Melihat betapa anehnya ia memakai semua pakaian itu. Ia menjerit dalam hati.

Selama ia masih memerhatikan dirinya sendiri di pantulan cermin, ia mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar Shou. Seperti yang Hiroto duga, Shou lah yang mengetuk pintu tadi.
Shou melihat Hiroto dari ujung kaki ke ujung kepala tanpa berkedip. Pilihannya benar-benar pas. Dimatanya, Hiroto terlihat sangat manis dan imut. Seperti anak perempuan, dan itu membuat Shou tersenyum sangat lebar.
“kenapa? Tidak cocok, ya?” tanya Hiroto malu
“kau sangat cocok, Hiroto. Aku menyukainya”
Spontan Hiroto mengalihkan pandangannya, ia tersipu jika mendengar itu dari Shou.

“sekarang aku akan merapikan rambutmu” Shou berjalan mendorong Hiroto masuk ke kamarnya lagi sampai Hiroto duduk di kursi depan meja rias Shou. Jangan heran kenapa kau menemukan sebuah meja rias di kamar seorang laki-laki seperti Shou. Shou adalah seorang yang sangat memperhatikan penampilan, walaupun yang kau temukan di meja rias itu hanyalah parfum, sisir dan lipbalm saja.
Dengan cekatannya, Shou menyematkan beberapa jepit polos di rambut pirang Hiroto. Menyisir rambut depan Hiroto sehingga membentuk sebuah poni pendek yang manis. Shou seperti hairstylist yang handal. Tak lupa Shou menyuruh Hiroto agar memakai lipbalm bening kepunyaannya. Dan itu ditolak mentah-mentah oleh Hiroto. Ia sama sekali tak mengerti soal itu, dan yang Hiroto tau, benda seperti itu hanya dipakai untuk kaum perempuan saja.
“kau harus pakai, Hiro. Biar terlihat fresh” paksa Shou lagi
“pokoknya tidak mau!!” tolak Hiroto lagi. Untuk hal yang satu ini, Hiroto tak mau menuruti perintah Shou.
Shou berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya “kau ini—“
“baiklah, kau tak perlu memakainya. Tapi kau harus terus membasahi bibirmu, ya” lanjutnya
Hiroto memanyunkan bibirnya sebal. Ia merasa seperti dipermainkan saja.
“pakai boots ini dan kita siap berangkat” Shou menyerahkan boots berwarna merah yang ia taruh di samping kaki Hiroto.
Setelah memakai dengan sempurna, Hiroto mengikuti Shou di belakang menuju ke halaman depan di mana mobil Shou terparkir. Selama perjalanan, Hiroto tak bisa berhenti memegangi dadanya. Ia sangat berdebar-debar akan reaksi teman-teman Shou jika ia melihatnya nanti. ‘OH MY GOD’ teriaknya dalam hati

((=♥•̃⌣•̃♥=))

Shou lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hiroto. Persis seperti di film-film romantis kebanyakan. Digandenganya tangan Hiroto sampai ia masuk ke sebuah ruangan besar dengan berbagai lampu terang di  sana-sini. Di pikiran Hiroto hanyalah semua teman-teman Shou ini sangat berkelas. Laki-lakinya memakai pakaian rapi seperti Shou-semacam tuxedo-, dan yang perempuannya rata-rata memakai gaun. Seperti datang ke acara pernikaha saja.

Tiba-tiba Shou menghentikan langkahnya, dan refleks langkah Hiroto juga terhenti tepat di belakangnya. Shou sedang berbincang dengan seorang pria yang sedikit lebih tinggi darinya dan seorang perempuan di sampingnya. Wajah laki-laki itu seperti ikemen di manga-manga shoujo, dan perempuan itu seperti shoujonya.
Sampai laki-laki itu melihat Hiroto dan bertanya pada Shou.
“dia pacarmu, Shou?”
“tentu saja! Dia seperti anak perempuan yang manis kan?” ucap Shou bangga, dan lelaki itu melihat Hiroto dengan tatapan menjijikkan
Hiroto yang merasa tak suka dengan tatapan laki-laki itu memilih menghindar. Ia pun meminta ijin pada Shou untuk sekedar mengambil minuman di meja yang sudah disediakan. Sementara Shou dan dua orang di sana masih bercengkerama.

Sebuah soda dengan daun mint di dalamnya Hiroto ambil sebagai penyegar untuknya. Ia lalu duduk di kursi yang tertata seperti meja makan dan meminum sodanya. Hiroto masih bisa memperhatikan Shou walau jaraknya agak jauh. Dan dua orang itupun pergi, tak lama seorang perempuan bergaun krim menghampiri Shou, jelas ini membuat Hiroto penasaran.
Dilihatnya dengan seksama apa yang mereka lakukan, sampai akhirnya Hiroto melihat perempuan itu memeluk Shou lama. Seperti pacar yang sudah lama tak bertemu dan sekarang sedang meluapkan kerinduan masing-masing.
Hiroto sebal karenanya. Diteguknya semua soda yang ada di gelas tinggi itu sampai habis, hanya menyisakan daun mintnya saja. Dadanya terasa panas dan kalau ia tak tahan ia bisa saja menangis di situ sekeras-kerasnya. Tapi tidak, Hiroto pergi menjauh ke meja yang paling ujung-dekat panggung yang disediakan untuk pertunjukan malam itu-.

Ia duduk sendirian, meratapi nasibnya tiga hari belakangan ini. Pandangannya kosong namun melihat ke satu titik. Hingga sebuah tangan menyentuh punggungnya dan membuat ia menoleh ke belakang.
Seorang laki-laki jangkung mengenakan jas formal sedang menatap Hiroto. Bibirnya yang tipis itu mengucapkan sesuatu. “boleh aku duduk di sini?”
Hiroto sempat terpana melihat laki-laki itu. Senyum tipis, mata sipit, hidung mancung, dan rambut hitam itu seperti lelaki sempurna yang sangat ia inginkan. Dengan canggung, Hiroto mempersilakan lelaki itu duduk di sampingnya.

“kau bukan alumni SMA Heisei, kan?.. Soalnya aku tak pernah melihatmu dulu” ucap lelaki itu menerka-nerka
“ya. Aku hanya menemani seseorang alumni di sini”
“siapa?”
“Shou Kazamasa. Apa kau kenal?” hiroto balik bertanya
Lelaki itu tersenyum dan mengangguk semangat “oh, Shou~~ dia itu teman sekelasku dulu” jelasnya “oiya, namamu siapa. Aku Tora”
“namaku Hiro—“
Belum sempat Hiroto menyelesaikan namanya, muncullah Shou dengan ekspresi dingin

“namanya Hiroko, Tora” ujar Shou cepat
Dalam hati Hiroto protes ‘yang benar saja! Seenaknya mengganti nama orang!’ Shou pun duduk tepat di samping Hiroto dan agak menjauhkan Hiroto dari Tora “apa aku mengganggu obrolan kalian?”
“tidak sama sekali kok. Well, Hiroko ini pacarmu Shou?” tanya Tora sambil menatap iri pada Hiroto
“sudah jelas, kan? Dia ini pacarku satu-satunya. Tidak seperti kau yang pacarnya bisa lebih dari empat” ucap Shou sambil merangkul pundak Hiroto mesra, dan bisa kau lihat yang dirangkul hanya tersenyum menahan malunya
Tora terkekeh geli mendengarnya “lalu Haruna? Apa kau sudah putus dengannya?”
“Haruna? Tadi aku bertemu dengannya dan coba tebak, dia bilang padaku kalau ia masih menyukaiku” ucap Shou santai “tapi aku dan dia hanya sebatas teman semenjak wisuda kelulusan. Seperti yang kau lihat, aku memutuskannya”
Tora menatap Hiroto lekat-lekat, lalu beralih ke Shou “aku yakin dia ini akan membuatmu lebih baik, Shou”
“Hiroko, kau perempuan yang manis. Tapi aku sudah keduluan Shou, jadi aku tak berkesempatan mendapatkanmu. Huh~~” raut wajah Tora berubah kecewa. Ia segera bangkit dari kursinya dan pergi dengan alasan menemui Saga-pacar Tora- di depan.

Sekarang Shou dan Hiroto tengah berdua. Mereka masih dalam posisi seperti tadi. Shou merangkul Hiroto, namun menyadari itu Shou buru-buru melepasnya. “maaf..”
Hampir dua jam mereka di sana. Teman-teman Shou yang melihat Hiroto-Hiroko- sangat tertarik dengan anak itu. Tampilannya seperti anak perempuan yang berkelakuan boyish. Hiroto juga senang dengan atmosfer barunya di sana. Teman-teman Shou sangat baik padanya, dan beberapa laki-laki yang ada di sana tak jarang untuk menggoda Hiroto. Tapi Shou dengan proteknya mampu menjauhkan Hiroto dari orang-orang macam mereka. Hiroto sangat senang diperlakukan seperti itu. Ia jadi yakin sendiri kalau Shou juga menyukainya.

((=♥•̃⌣•̃♥=))

Mereka telah menyelesaikan rencana Shou dengan berhasil total. Keduanya sangat lega dan saling melempar senyum. Perjalanan di dalam mobil Shou pun terasa nyaman. Sesekali mereka tertawa bersama.
Mobil perlahan berhenti di sebuah parkiran dekat taman kota. Ini bukan tujuan akhir Hiroto malam itu, tapi ini juga bagian dari rencana Shou yang tidak diketahu Hiroto. Shou mengajak Hiroto ke sebuah ayunan yang bergantung sepi di dekat temaramnya lampu taman yang bundar.
“apa kau senang menemaniku malam ini, Hiroto?” celetuk Shou
“sepertinya iya”
“lihatlah langit di sana itu, cerah sekali ya?”
Hiroto mengangguk “kenapa kita tiba-tiba ke sini?”
“karena aku ingin” ucapan Shou sukses membuat Hiroto menoleh padanya “ingin apa?”
“aku senang sekali kau mau menjadi pacar bohonganku” sahutnya
“lantas?”
“apa kau mau menjadi pacarku, Hiroto?”
Semburat merah jelas terlihat di wajah Hiroto ditambah pantulan lampu taman dan sinar bulan purnama yang menghiasi wajah imutnya

Hiroto menunduk dan berkata pelan “ketika kau menjadikanku pacar bohongan, sebenarnya aku tak mau karena itu hanya sekedar bohongan. Aku ingin yang sungguhan..”
“dan sekarang aku sudah mengabulkannya”
Wajah Hiroto makin bersemu, lebih merah dari wajah Shou yang juga memerah. Shou pun tertawa dan membuat Hiroto juga tertawa. Semuanya mengalir begitu saja, hingga Shou membawa jemari tangannya meraih jemari Hiroto untuk dikaitkan bersama.
Dalam kehangatan bulan dan dinginnya malam, sepasang makhluk itupun saling terrengkuh dalam satu pelukan. Satu hal yang sangat diimpikan Hiroto,


Dan juga bagi seorang Shou.

Owari


N.b : Maafkan aku, Mpon~~

Fanfic Best Friends (the GazettE)





Title : Best Friends
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Genre : Angst
A/N : No pairing yaoi in here, same like as fic “The Hardest ruki’s Life”, but this fic i wrote with an Uruha’s POV. Enjoy~~


Best Friends
Uruha’s POV



“Ini adalah awal dari perjalanan the GazettE, band di mana Ruki, Reita, Uruha, Aoi, dan Kai berjuang bersama menempuh kuatnya arus perindustrian musik dunia sampai sekarang ini. Menjadi sebuah band berpengaruh di dunia adalah impian mereka, dan itulah bukti nyata sebuah band bernama the GazettE”

***

Takashima Koyou, itu memang namaku. Nama terindah pemberian orang tuaku ketika ku lahir. Namun aku tak memakai nama asliku ini ketika menjadi seorang musisi. Jangan tanya kenapa, karena pasti musisi-musisi yang merasa terkenal hanya memakai nama panggung. Entah itu mau diambil dari nama apa. Yang penting sekarang, aku merasa nyaman dengan nama baruku, Kyouki.
Awal tahun 2000an, aku bukanlah siapa-siapa di sini. Aku hanyalah orang biasa yang senang sekali mendengarkan musik-musik cadas dari Luna Sea dan sebagainya. Dan kau tahu, aku tergabung dalam sebuah band indie yang tidak terkenal  di Jepang. Memang kedengarannya parah, tapi keadaannya memang seperti itu. Band dengan nama Karasu adalah band indie pertamaku dengan sebuah instrumen gitar yang kupakai. Hingga band kami bubar tak lama, teman-teman sebandku mulai berpencar membentuk band sendiri-sendiri yang mungkin lebih sukses di masa depan. Kecuali Reiki, bassist kami, dia tak bergabung dengan band apapun pasca bubarnya Karasu. Selama tak ada yang menawariku bergabung dengan band-band mereka, aku hanya diam di rumah sambil terus melatih kemampuanku bermain gitar.
Waktu itu malam hari, aku berniat mencari tambahan uang dengan menjadi pengiring untuk penyanyi di cafe-cafe. Dihari yang kesekian, aku bertemu dengan Kaede. Orang yang membuatku berterimakasih padanya hingga sampai nanti. Dia bukan bermaksud memberiku pekerjaan, tapi sebuah tawaran.untuk bergabung dengan bandnya.

Selama perjalanan menuju apartemennya, ia berbicara panjang lebar mengenai band barunya yang bernama Ma’die Kusse itu. Dan ia sebenarnya sudah melihat aksi panggung bandku-Karasu- di livehouse Yokohama. Katanya juga sebelumnya ia pernah menjadi drummer di band Mikoto yang juga bubar tak lama setelah band tersebut terbentuk. Aku bisa merasakan tak enaknya bubar dari sebuah band, tapi main set kami ‘bubar’ adalah jalan keluar satu-satunya untuk meninggalkan kegagalan yang terus melekat. Berdasarkan penuturannya, band mereka kekurangan dua personil lagi, seorang gitaris dan bassist. Ah, aku jadi teringat Reiki. Sepertinya dia juga belum dapat tawaran gabung dengan band lain. Tak ada salahnya kan menawarinya.

Keesokan harinya aku ke rumah Reiki sambil membawa KitKat kesukannya sebagai ‘sogokan’ agar mau ikut bergabung dengan band bersamaku.
“band lagi? Hmm, boleh juga” ucapnya santai sambil menggigit ujung kiktat yang kuberikan tadi.
Akhirnya, kuajak dia ke apartemen teman Kaede yang merupakan calon bandmate-ku nanti.

“aku Kyouki, gitaris. Pernah bergabung dengan band Karasu bersama dia (Reiki), sebagai lead guitarist. Salam kenal, mohon bantuannya” ucapku membungkuk, berharap mendapat sambutan yang hangat dari mereka
Kulirik sedikit wajah-wajah mereka, dan nampak satu orang yang melihatku dengan tatapan aneh. Seperti mengintimidasi.

“aku Reiki, basist Karasu yang sudah disband. Dan sekarang aku harap bisa menjadi bassit yang baik di band ini. Terimakasih” ucapnya dengan sikap yang sama sepertiku

“Karasu, ya? Hmm, band itu. Kurasa kau cukup di rhtym saja, tak usah di lead guitar. Karena aku yang ada di posisi itu” seorang berpostur sama denganku itu angkat bicara, namun dengan sikap yang angkuh. Seperti yang kuduga, orang ini di posisi gitar. Orang yang tak bisa berosialisasi menurutku.
“iya, aku menerimanya” jawabku datar.

“baiklah, sudah diputuskan Ma’die Kusse terbentuk! Dan sekarang, namaku menjadi Kihiri. Salam kenal semuanya..” seru Kaede atau Kihiri yang berada di tempat dudukan drum set sambil memutar-mutar stik drum di udara.

Kebahagiaan kecil itu tak berlangsung lama. Hanya karena sebuah pertengkaran kecil antara Reita dengan sang lead guitarist itu, ia mengundurkan diri.
Waktu itu ketika kami berlatih lagu baru, mungkin aku yang kurang serius karena pada waktu itu aku belum makan sedari pagi. Kunci-kunci yang seharusnya sudah kuhafal, mendadak berantakan. Tentu saja latihan ini harus diulangi sampai beberapa kali. Bosan dan muak dengan semua kesalahanku sejak tadi, dia membanting gitarnya ke lantai dan berjalan menuju ke arahku. Ia memarahiku seakan aku orang yang paling bersalah di dunia ini. Awalnya kata yang masih sopan di dengar, sampai kata-kata yang tak patut ia ucapkan terdengar juga di samping telingaku. Aku tak ingin masalah tambah runyam, aku hanya diam saja, bukan berarti aku tuli atau tak bisa melawan. Kulihat member yang lain melihat kami dengan ekspresi takut. Kecuali Reiki, ia menuju ke arah kami, tepatnya ke arah lead guitarist itu. Dia menarik kerah sang leader dan mengeluarkan kata-kata yang persis dikatan leader itu padaku tadi. Aku tahu Reiki sedang coba melerai itu, tapi kurasa caranya salah. Dengan cepat leader itu mengambil barang-barang beserta gitarnya dan mengucapkan ‘aku berhenti’ lalu pergi.

Tak ada yang berkomentar apapun setelah ia pergi. Reiki hanya bilang ‘maafkan aku’, tapi tetap saja tak ada respon dari kedua member yang lain. Dan itu sudah terjadi.
Sehari setelah pengunduran sang lead guitarist itu, kini giliran sang vokalis yang mengundurkan diri. Tentu saja ini membuat aku shock, terutama Kihiri. Lead guitarist dan vocalist mereka sudah pergi, entah kami bisa bertahan atau tidak dengan band tiga orang seperti ini.

“seperti yang kita rasakan, band ini tak utuh lagi. Jadi..” ucapan Kihiri terhenti sesaat

“Ma’die Kusse bubar”

Hanya kata itu yang ia ucapkan kemudian. Tak ada pilihan lain lagi, band keduaku bersama Reiki yang juga berakhir dengan tak menyenangkan.
Namun aku dan Reiki mencoba menerimanya, toh ini bukan akhir segalanya.

---

“Kyouki-san, bagaimana kalau kita bikin band baru lagi?” suara Reita menyadarkanku dari lamunan tak jelas ini
“eh? Kita? Berdua saja?” jawabku sekenanya
“tidak, kita ajak Kihiri-san juga. Lalu kita cari dua orang lagi yang berminat. Mau, ya?” ajaknya lagi, lebih tepatnya sebuah paksaan
Tak mau ambil pusing, aku ‘iya’kan saja ajakannya. Dan tahun 2001an, kami membentuk band dengan genre yang sama seperti band-band sebelumnya, visual-kei, dengan nama Kar+te=zyAnose.  Masih tetap sama dengan posisi sebelumnya, namun kali ini aku kembali menjad lead guitarist. Dan lagi-lagi Kihiri atau Kaede itu mengganti namanya menjadi Akane. Nama yang cantik untuk laki-laki sepertinya.

“bagaimana kalau kita mengadakan konser kecil-kecilan di sekitar jalan Shibuya. Aku rasa mungkin banyak yang menonton dan mau mendengar musik kita” usul Akane di ‘rapat’ kecil kami. Dan aku rasa idenya tak seburuk yang dibayangkan.
Akhirnya kami mengadakan konser kecil pertama kami di jalan Shibuya, dan keberuntungan berpihak pada kami, banyak sekali yang menonton kami waktu itu. Beberapa kali kami mengadakan konser di sana dan penonton kami juga makin bertambah. Hingga dari pihak kepolisian mengetahui kami sedang konser di sana. Mereka pikir kami adalah band jalanan yang hanya merusak keindahan kota. Kami berpikir bagaimana caranya agar band kami tetap ada tanpa harus dibayang-bayangi kejaran polisi setempat. Dan akhirnya kami melakukan live kecil-kecilan di tempat yang tersembunyi. Namun penonton yang menonton kami makin lama makin sedikit. Aku lupa terakhir kali berapa penonton yang ada di sana. Mungkin mereka pikir band kami sudah bubar dan tak mengadakan ‘live’ lagi. Akane berusaha meyakinkan kami kalau harapan itu masih ada. Tapi, apa mau dikata, Kar+te=zyAnose hanya bertahan tiga bulan saja.

Lagi-lagi seperti ada yang mempertemukan kami, aku, Reiki, dan Akane bertemu dengan Aoi seorang gitaris di band sebelumnya yang bernama Maville dan Artia, dan seorang lagi yang bernama Yune. Kami sepakat untuk membentuk band lagi, dengan formasi aku sebagai lead guitar, Aoi sebagai rythm guitar, Reiki sebagai bassist, Yune sebagai drummer, dan Akane sebagai Vocalist. Sebenarnya aku yang menyarankan Akane untuk jadi vokalis, karena aku sudah mendengar suaranya yang lumayan dari kami berlima.
Dan dari sinilah, Gazette telah lahir.
...
“aku ingin mengganti nama, boleh kan?” tanyaku pada member yang lain
“ya boleh saja. Dan sepertinya aku juga akan mengganti nama lagi” ucap Akane sambil meminum sebotol pocari sweat di tangannya
“mulai sekarang panggil aku Uruha”
Yang lain langsung melihatku, kupikir memang ada yang salah,ya?
“nama yang unik. Aku suka namamu” ujar Yune sang drummer
“aku Reita saja. Kedengarannya lebih dewasa dibanding Reiki” sambung Reiki menyeru capan Yune
“yosh, dan namaku sekarang adalah.. Ruki!! Salam kenal” ucap Akane bersemangat
“kenapa Ruki?” tanyaku
“sebenarnya aku mau Rukia, tapi sepertinya akan lebih terdengar imut kalau Ruki saja. Hehe”

Dan kami pun bergabung membentuk sebuah band bernama Gazette.

---

Nama Gazette adalah pemberian Ruki, dan alasan kenapa ia memillih nama itu menjadi nama band kami karena satu alasan tertentu yang menjadi rahasia sampai kini. Aku pun tak akan memberitahukannya pada kalian. Dan kami tak lupa membuat sebuah logo untuk band Gazette tentunya. Sebuah katakana bertuliskan ‘Gazetto’ dengan efek tulisan ‘chilller’ memberi aksen bahwa Gazette adalah sebuah band visual kei. Akhir tahun 2002an, kami mampu bertahan hingga nyaris setahun. Di bawah naungan label Matina Records, kami terus melebarkan sayap sampai ke mana-mana. Ruki dan Reita sangat senang, dan aku turut bahagia karenanya. Namun semua keinginanku itu hanya asa semata. Pertengahan tahun 2003, Yune, drummer kami mengundurkan diri secara sepihak.

“apa kau serius, Yune?” tanya Ruki. Kulihat wajahnya sangat panik dan cemas.
Di saat semua terdiam menunggu jawaban Yune, ia menghela napas panjang dan mengambil keputusan tegas.

“aku keluar dari Gazette”

---

Mungkin harapanku sudah pupus, begitu juga Ruki dan Reita. Entahlah dengan sikap Aoi. Terpancar jelas dari raut wajah Ruki yang hendak marah, bingung, kecewa dan ingin menangis bercampur jadi satu. Pikiranku kacau, dan terlintas dibenakku untuk mengakhiri saja sebagai musisi.

“Minna, kalau kalian mau kita mulai dari awal lagi. Kita bentuk band lagi. Jangan menyerah, minna” ucap Ruki yang spontan menarik perhatianku
“hanya merekrut satu orang lagi. Kau, Aoi-san kau masih ingin bersama kami, kan?” sambungnya

aoi tersenyum dan berucap tegas, “iya. Aku akan tetap bersama kalian”

Dengan begini harapanku yang semula ingin berhenti sirnalah sudah. Ruki sudah menyemangatiku secara tak langsung. Dia vokalis terbaik yang pernah kukenal.

---

Dua minggu setelah keluarnya Yune, status Gazette menjadi hiatus sementara. Hingga drummer baru menawarkan diri untuk bergabung dengan kami. Tuhan, terimakasih. Kau memberikan yang terbaik untuk kelancaran kami.

Ia menamai dirinya dengan nama Kai. Sebelumnya ia adalah mantan drummer dari MareydiCreia. Kami memutuskan untuk melihat kemampuannya dulu. Dan wow, gebukan drumnya, semangat yang menggebu-gebu, dan temponya juga rapi. Aku sangat tertarik dengan bakatnya, dan langsung saja kami menyetujui ia bergabung dengan Gazette.

Kai, selamat datang.

semua berjalan seperti biasa dan lebih lancar dari tahun-tahun sebelumnya. Kami mencoba peruntungan dengan konser ‘gratis’ di lapangan terbuka. Sambutannya cukup meriah dan aku rasa mereka menyukainya.


Lima hari berselang, kami menawarkan diri untuk bergabung ke sebuah label musik terkenal di Jepang-PS Company-. Memang terdengar nekad, tapi kami berusaha optimis. Sampai pihak dari mereka menerima kami. Kami senang sekali, dengan begitu status Gazette masih bisa dipertahankan.
Satu per satu kami berjabat tangan dengan orang itu dan ia pergi kembali.
Ruki terlihat makin riang. Air mukanya kembali ceria karena di matanya tersirat satu impian. Meraih sukses bersama teman-temannya.

---

Tahun 2003 adalah awal di mana kami bisa saling percaya dengan teman satu tim sendiri-walaupun sebenarnya kami terbentuk di tahun 2002-. Reita yang kukenal adalah seorang pendiam dan ‘sok cool’ itu orang yang sangat setia bersamaku dari awal membentuk band hingga kini. Juga Ruki, oh anak itu yang memiliki ambisi besar dalam hidupnya. Ia terus menyemangati kami untuk terus tetap hidup dalam bermusik. Untuk Aoi dan Kai, aku belum terlalu mengenalnya dan aku juga belum melihat kepribadiannya. Tapi aku yakin mereka adalah anggota tim yang baik.

Sebulan kemudian, kami telah bergabung dengan label musik di Jepang bernama PSC. Aku tak tau bagaimana jadinya kalau kami tidak bertemu sang produser. Pasti band kami akan bubar kembali dan kami akan sangat kebingungan mencari anggota dan membentuk band lagi.

Inilah hidup. Kadang roda berputar tepat di atas, dan ada di bawah. Begitu juga denggan kami. Di mana dulu band kami hanyalah sebuah band kampung, sekarang kami bisa menjajah pasar musik seluruh Jepang. Hebat, bukan? Nama Gazette sudah gampang kalian temui di toko-toko musik, layar monitor super besar yang terpampang di gedung-gedung pusat kota, dan spanduk besar yang membentang sebagai background tempat-tempat konser musik. Kami sangat berterimakasih pada PSC.

Gazette disambut baik oleh para penikmat musik di Jepang. Dan yang lebih membuat kami bangga adalah, Gazette sudah dikenal sampai kancah Internasional. Aku rasa sang produser yang menggembar gemborkan promosi sampai luar negeri. Dengan begitu aku jamin Gazette tidak akan pernah bubar.

Sampai di suatu pertemuan, kami berlima tengah diwawancarai oleh media dari majalah terkenal di Jepang. Mereka menginterview kami dengan berbagai pertanyaan. Sangat beragam dari A sampai Z.

Hingga satu pertanyaan yang membuatku ingin menangis di situ karena saking terharunya. Aku mendengar Ruki menjawab satu pertanyaan dari reporter tersebut.

“Ruki-san, di dalam dunia musik jenis visual kei, apa anda tidak takut mengalami banting stir karena bisa saja kan band nantinya akan bubar?” tanyanya cukup serius

Ruki terlihat menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Gazette adalah band terakhir untukku, Reita, dan Uruha. Jadi jika band ini terpaksa bubar, kami tidak akan membentuk band lagi. Terimakasih”

Kata-kata Ruki seakan menohok hatiku. Aku tak bisa berkata apapun waktu itu. Dia rela jika suatu saat Gazette bubar, ia akan berhenti menjadi musisi. Terlebih denganku dan Reita. Dia sangat mementingkan persahabatan di banding kepopularitasan sesaat.

---

Tahun 2006 kami sepakat bersama Kai juga untuk mengganti logo Gazette yang dulunya ditulis katakana, menjadi the GazettE dengan huruf latin. Kami pikir dengan begini para pecinta musik seluruh dunia akan mudah mengenali identitas kami.
Asam garam kehidupan sudah kami rasakan semuanya. Meraih sukses tidaklah gampang, teruslah bermimpi dan jangan pernah putus asa adalah kuncinya. Seperti kami yang dulu bukan siapa-siapa kini orang sangat mengenal kami. Musik adalah hidup kami, tanpanya kami pasti akan jauh lebih terpuruk dari yang lalu. Sebuah pelajaran telah kami dapatkan.

Di studio, kami berlima sedang berlatih dengan instrumen masing-masing. Hingga waktunya break, sang vokalis Ruki masih berkutat dengan pulpen dan kertas. Ia menulis lirik lagu.

Aku menghampirinya “bikin lagu apa?”
“lagu tentang kita” ucapnya yang sekilas melihatku dan kembali menulis lirik
Alisku bertaut “tentang kita, maksudnya apa?”
“sebuah lagu dariku untuk kalian semua” ucapnya lagi sambil tersenyum

“oh, kalau sudah selesai beritahu kami, ya” akupun pergi sebentar ke pantry untuk mengambil air putih hangat untuk Ruki yang sejak tadi terus mengeluarkan ‘death voice’nya. Aku pikir dengan begitu akan menormalkan tenggorokannya.

Kembali dari sana, aku masih menemukan Ruki bersama kertas-kertasnya, tapi tidak dengan pulpennya. Mungkin ia sudah selesai menulis. Aku menghampirinya lagi.
“sudah selesai?”
“yap, tinggal memberi nada instrumen pada lagu ini”

Kami berempat yang ada di studio mendengarkan Ruki membacakan lirik demi lirik ciptaannya. Hingga di bait terakhir dia mengucapkannya.

“Tsuyoku ikiru shounentachi, Hitori janai yuuki wo dashite
Tsuki susunde sono saki ni wa,
Nakama to warai kagayaku boku ga iru”

‘lirik persahabatan’ batinku. Apa ini yang ia maksud tadi ‘tentang kita’?

“dan aku memberi judul ini dengan—“
Diam sejenak ia mengambil napas, dan...

“Best Friends”

---

Semangatku makin terpacu untuk membanggakan kalian semua. Karena lagu itu, aku mampu bertahan. Aku beruntung mempunyai sahabat-sahabat seperti kalian. Selalu ada di saat aku membutuhkan kalian. Kita selalu berbagi tawa, suka dan duka. Saling mengerti satu sama lain, dan yang terpenting, kebaikan kalian tak akan pernah kulupakan.


Minna, arigatou gozaimashita. From me,
Uruha ‘the GazettE’


Owarimasu

Fanfic The Hardest Ruki’s Life (the GazettE)





Title : The Hardest Ruki's Life
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Genre : Angst
A/N : Masa lalu Ruki yang entah kenapa saya selalu nangis kalau denger cerita itu. No pairing yaoi in here. Yosh, this fic normal.



The Hardest Ruki’s Life




 “Ini adalah awal dari perjalanan the GazettE, band di mana Ruki, Reita, Uruha, Aoi, dan Kai berjuang bersama menempuh kuatnya arus perindustrian musik dunia sampai sekarang ini. Menjadi sebuah band berpengaruh di dunia adalah impian mereka, dan itulah bukti nyata sebuah band bernama the GazettE”
***

Tumbuh di keluarga yang keras merupakan penjara bagiku. Aku harus menuruti semua perkataan orang tuaku, walau dalam hati ini berontak. Di rumah, sebisa mungkin aku menjadi anak yang baik, menjadi kebanggan buat orang tuaku. Tapi tidak untuk di luar rumah. Ayah dan ibuku selalu mengajariku untuk bersikap disiplin, maka tak jarang satu atau beberapa pukulan hinggap di tubuhku kalau aku melanggar mereka. Mereka tak ada bedanya, ayah dan ibuku sama-sama kaku dan cenderung mementingkan egonya sendiri. Dalam hati kecilku ini aku merasa mereka melakukan itu semua untuk kebaikanku juga. Walau bagaimanapun kerasnya mereka mendidikku, mereka tetaplah orang tuaku dan aku sangat menyayanginya.

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, dengan kakak sembilan tahun lebih tua dariku. Waktu aku kelas empat SD, aku sering melihat kakakku mendengarkan lagu-lagu rock dan kuketahui ia menyukai band bernama X JAPAN. Kulihat ia begitu menikmati saat mendengar lagu-lagu itu dari CD. Keinginanku makin besar untuk bisa mendengarkannya juga. Sampai aku diam-diam menyelinap masuk ke kamar kakak dan mencoba mendengarkannya, ibuku mengetahuinya. Secepatnya ia merebut CD itu dan membawaku keluar dari kamar kakak. Di luar ia memarahi dan memukulku, walau aku sudah bilang ‘ampun’ padanya. Ketika aku bertanya kepada mereka kenapa aku tak boleh mendengarkan musik yang kakakku suka, mereka menjawab karena CD X JAPAN yang kakakku punya adalah VANISHING VISION, di mana covernya yang bergambar sangat erotis. Tak cukup sampai situ, berniat untuk mendengarkannya lagi, tapi aku malah menemukan sebuah laci yang terkunci. Dan beruntungnya aku menemukan kuncinya. Dengan hati-hati kubuka, dan aku benar-benar kaget ketika sebuah majalah S&M ada di situ. Batinku pasti ia menyembunyikannya agar tak ketahuan ayah dan ibu. Kakakku dengan aku kecil memang berbeda. Aku lebih bersikap baik ketimbang dirinya, walau aku juga tak memungkiri kalau sebagian diriku ini berhati setan.

Ayah dan ibuku sangat memperhatikan pendidikanku. Mereka mengikutkanku pada kursus-kursus seperti kaligrafi, matematika dan renang. Tapi memang dasarnya aku anak yang nakal, waktuku untuk belajar malah kugunakan untuk membaca manga di kamar. Karena mangalah aku suka menggambar dan membuatku bercita-cita menjadi seorang artis manga. Dan kalau orangtuaku ada di rumah, aku menyembunyikannya. Kenakalanku lainnya adalah sering menyelinap untuk menonon film kesukaanku, Child’s Play. Aku sangat menyukai film horror itu, padahal masa itu anak-anak lain kebanyakan suka bermain Nintendo Console, tapi tidak denganku dan teman-temanku yang lebih suka sekali Terminator, First Blood, Ramboo dan Robocop. Masa kecilku memang sudah terlihat brutal karena beberapa kesukaanku itu, tapi aku tak peduli. Bagaimanapun aku, itu adalah aku.

Masa-masa menjadi murid pertama di SMP, lagi-lagi orangtuaku mendidikku keras, namun dengan peraturan yang lebih ketat dari sebelumnya. Waktu itu, aku kelas satu SMP, tak ada yang mengira sebelumnya bahkan aku sekalipun, ada seorang anak perempuan yang saat itu kelas tiga SMP, datang menemuiku dan menyatakan cinta padaku. Sebenarnya aku tak mencintainya, tapi aku menerimanya saja. Dan asal kau tau, dia seorang yankee dan pimpinan di gengnya. Selama kami berpacaran, kami tidak pernah berkencan sekalipun. Hanya pulang bersama dan mengobrol banyak selama perjalanan. Tapi, akhirnya aku baru tau kalau belakangan ini ia suka menghirup thinner. Kau pasti tau alasannya menghirup thinner kalau bukan sebagai obat penenang yang mirip narkoba. Parahnya lagi, ia yang masih berpacaran denganku, ternyata sudah memiliki pacar, jadi ia mengencani dua orang sekaligus. Aku jadi makin tak suka dengannya.

Pada awalnya, tak banyak yang mengecat rambut mereka menjadi berragam warna. Karena pihak sekolah melarang murid-muridnya mengecat rambut dengan warna yang aneh-aneh. Tapi, begitu temanku mengecat rambut, aku tertarik dan ikut mencobanya. Awalnya hanya coklat yang masih gelap, namun setahap demi setahap, aku mulai mencoba bereksperimen dengan warna yang lebih terang. Hingga orangtuaku pun tahu.

“Taka,  ayah ingin lihat rambutmu!” kalimat yang ayah lontarkan sangat tegas dan seperti membentak
Tak ada yang bisa kulakukan saat itu. Sangat sulit menutupi kebohongan jika ayah sudah mengetahuinya. Lama aku tak merespon perintahnya, ayah menarik tudung jaketku –yang menutupi warna rambutku- dan kulihat ia terkejut. Kedua matanya membulat dan merah. Aku tau ia marah besar, dan aku harus berani mengambil resikonya.
Ia menarik tanganku kasar dan tak segan ia memukulku, terutama di kepala. Sakit, rasanya sakit sekali.

Setelah puas memukuliku, ia mengurungku di kamar agar aku menyesali perbuatanku. Tapi tidak, aku yang waktu itu masih memiliki emosional yang labil malah makin membenci orang tuaku. Aku selalu bertanya dalam hati, apa salah terbesarku sehingga mereka terus memukuliku. Apa hanya karena aku menentang mereka? Lalu bagaimana dengan kakak?! Dia bebas kesana kemari tanpa harus diperhatikan orang tua. Mereka jahat padaku.

Kurang puas dengan kenakalan yang teman-teman tularakan padaku, sedikit-sedikit aku mulai mencuri uang yang seharusnya untuk membayar les, tapi dengan tanpa rasa bersalah malah kugunakan untuk membeli rokok dan bermain di Arcades-sebuah tempat pachinko-.

Sampai saatnya aku duduk di kelas 3 SMP, aku coba-coba membentuk sebuah band. Hanya untuk melepas pikiran jenuh dan menuangkan hobi. Kami bingung untuk menentukan siapa saja yang cocok dalam instrumen yang ada. Maka suitlah jalan keluarnya. Aku kalah waktu itu, dan kebagian memainkan drum. Kami mengcover lagu-lagu visual seperti X JAPAN, Luna Sea, T-BOLAN dan lain-lain. Aku juga suka lagu-lagu anime, tapi dari sekian musik yang pernah kudengar hanya satu influenceku, SEX PISTOL.

Masih di kelas tiga, kejadian tak terduga datang padaku. Seorang siswi yang seangkatan denganku menginginkan aku untuk menjadi pacarnya. Oh, Tuhan dia menembakku. Dan kalau boleh aku jujur, dialah cinta pertamaku.

“Taka-kun, boleh aku bicara padamu. Sebentar saja” ucap gadis itu malu-malu
“oh, boleh. Silakan” aku mempersilakannya ramah.
“Taka-kun, sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu, dan—“
ia berhenti bicara. Kulihat kegugupan bersarang di wajahnya, dan akhirnya ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

“aku menyukaimu”

Sedikit memerah wajahku waktu itu, entahlah karena sebenarnya aku juga suka padanya. Dia gadis yang manis, berrambut panjang coklat alami, dan matanya bulat seperti boneka. Jangan salah paham kalau kau mencapku ‘menyukai wanita dari fisiknya saja’. Tidak, pribadi gadis ini juga baik, walaupun berbeda kelas tapi aku sering melihatnya di perkumpulan teater sekolah. Dia juga pandai dan ramah. Aku juga tak tau mengapa ia mau menembakku.

Segera saja aku menerimanya, nampak ia sangat senang begitu kuucapkan ‘iya’ padanya. Seumur hidupku, aku tak pernah menembak gadis-gadis, justru sebaliknya, merekalah yang menembakku. Aku senang karenanya. Memang terdengar tidak gentle sekali ditembak seorang perempuan, tapi aku menyukainya. Ditambah lagi dalam soal ‘mencampakkan’ perempuan, akulah yang harus mencampakkan mereka. Bukan aku yang dicampakkan, seperti membiarkan mereka menang dalam urusan percintaan.

 Aku memang anak kurang ajar, tapi aku tak sebrutal teman-temanku yang lain. Dan aku masih menyimpan rasa takut pada orang yang lebih tua denganku. Aku masih lugu di saat-saat kami berpacaran. Jika aku punya pacar, aku akan tetap setia pada pasanganku. Jadi aku akan berpacaran dengan satu perempuan saja.

Sampai di mana saat kami lulus sekolah. Hari wisuda sebelumnya, kami pergi diam-diam ke belakang sekolah. Mencuri waktu untuk berdua saja. Karena aku pikir mungkin ini saat yang tepat untuk mengakhiri hubungan ini.

“setelah lulus kau akan sekolah di  mana, Taka-kun?” tanyanya malu-malu
“sebenarnya aku sangat ingin masuk ke sekolah seni..”
“lalu?”
“aku akan berusaha keras untuk itu. Kau juga, bagaimana?”
“oh, aku disuruh orang tuaku untuk lanjut ke sekolah di Chiba”
“jauh sekali. Apa kau akan pindah?”
Ia mengangguk “maaf aku akan pergi” raut kesedihan mulai terpancar dari wajah manisnya
“daripada kita terus tersiksa dengan hubungan ini. Akan lebih baik jika kita akhiri saja sampai di sini” ucapku datar tapi tegas
“kau serius, Taka-kun?”
“semua terserah padamu. Aku tidak ingin membuatmu terbebani olehku”
ia tersenyum, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
“aku akan selalu mengingatmu. Kau juga, ya?”
aku mengangguk pelan. Dan saat itu juga ia memelukku tiba-tiba, sangat erat kurasakan. Gadis ini terlalu baik padaku, dan aku tak mau ia menjadi anak yang nakal sepertiku. Aku ingin dia menjadi seorang yang sukses di masa depan.

Kami berpandangan cukup lama. Ia makin mendekatkan wajahnya padaku, awalnya aku ragu karena aku tau ia akan menciumku. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku menerima ciumannya, membalasnya dengan lembut. Inikah rasanya menjalin hubungan dengan cinta pertama?
Sepertinya iya.

---

Lulus dari SMP, aku ingin sekali bisa masuk ke sekolah seni dan segera kuambil formulir pendaftarannya. Keinginanku yakni menjadi seorang pematung, makanya aku pilih sekolah itu. Tapi hanya karena kelalaianku mengeposkan formulir, aku tidak terima di sana. Aku gagal. Hingga aku akhirnya masuk ke sekolah lain, dengan kualitas yang jauh lebih buruk. Senior-senior di sana seperti gangster ataupun yakuza. Mereka sering melakukan perploncoan, terbukti ketika hari orientasiku masuk ke sana. Mereka sangat brutal, menyuruh kami seenak mereka. Aku menyesal masuk ke sekolah itu.

Tak tahan lagi dengan semua yang ku alami di sana, aku drop out. Tepat di musim panas tahun ketiga-ku di sekolah. Aku takut menghadapi orang tuaku ketika melihat anaknya di drop out dari sekolah. Karena itulah aku kabur dari rumah. Di pikiranku hanyalah aku harus berkonsentrasi pada musik dan bandku.

Dengan membentuk sebuah band pertama –setelah aku keluar dari sekolah-, aku makin sering berlatih. Band bernama Mikoto adalah band yang mengusung genre visual-kei. Kami semua memakai makeup putih yang tebal dan tak lupa kostum berkabung, dengan kata lain lebih mirip gothic. Aku suka dengan konsep makeupnya, karena aku pikir dari makeup, orang bisa memancarkan banyak pesona. Dan itu membuatku percaya diri.

Aku pergi ke Yokohama dan sering menonton band-band yang sama sepertiku. Kulihat mereka sering tampil di situ dan aku sangat tertarik dengan gitaris beserta bassistnya yang sekarang bernama Uruha dan Reita. Dan akhirnya kami pun berkenalan dan sharing cerita tentang band mereka.

Awal yang baik bertemu mereka. Kami pun membuat sebuah band bersama, walaupun mengalami kegagalan sebanyak dua kali. Tapi aku tak pantang menyerah. Aku terus meyakinkan mereka kalau kita pasti bisa membentuk band yang terkenal. Di saat itulah kami bertemu Aoi dan Yune. Lengkaplah sudah anggota band kami, yang kuberi nama Gazette.

Drummer kami, Yune akhirnya mengeluarkan diri. Entah alasan apa, dan posisi drummer menjadi kosong sekarang. Terus terang saja aku frustasi, karena sudah lelah membuat band dengan akhir yang selalu sama, bubar. Aku tak mau Gazette bubar seperti band-band sebelumnya. Aku berusaha meyakinkan Uruha dan Reita agar menjadikan Gazette sebagai band terakhir kami. Dan aku bertekad jika Gazette terpaksa harus bubar, maka aku tidak akan bergabung dengan band manapun. Itu janjiku.

Kami melakukan tur ke beberapa tempat dengan modal kami sendiri. Betapa susahnya kami, ketika harus tidur di dalam mobil. Kadang-kadang juga kami tidak mandi. Tapi dengan begitu, hubunganku dengan rekan-rekanku menjadi kuat.

Oh, aku teringat ayah dan ibuku. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Aku tidak pernah pulang semenjak hari itu. Apa mereka masih memikirkanku? Aku tidak tau. Coba-coba aku pulag ke rumah, bermaksud meminta maaf pada mereka. Dan apa yang aku dapatkan? Ayah yang selalu mendidikku dengan keras, kini membuangku sebagai anak. Ia mengusirku, dan tidak mau mengakui aku sebagai anaknya. Perasaanku waktu itu kalut, aku ingin berontak tapi aku tau aku sudah salah pada mereka. Buru-buru aku pergi ke kamarku dan mengepaki semua baju dan barang-barangku. Melihat ayah yang terus mengusirku, ibuku menangis. Aku bisa melihat penderitaan ibu karena ulah anaknya sendiri. Dan aku pergi meninggalkan kedua orangtuaku, dan rumah yang selama ini menjadi saksi bisu tumbuhnya aku di keluarga ini. Ayah, ibu, maafkan Taka.

Beberapa bulan kemudian kami bertemu Kai dan menjadikan posisi drummer dan leader sekaligus padanya. Lalu pihak label PSC menerima kami sebagai band naungan mereka. Entah bagaimana jadinya nanti, mungkin kami tidak bertahan menjadi musisi band.

Perlahan Gazette mulai berkembang, dan aku sangat senang. Di saat Gazette mulai terkenal, aku masih memikirkan ayah dan ibu. Mungkin sekarang mereka sudah tak mengenaliku,, karena aku sama sekali tak pernah menghubungi mereka. Tapi aku mendengar bahwa agensi kami mengirimkan beberapa poster, CD dan beberapa goodies tentang Gazette. Agensi kami pun memberitahuku kalau baru saja ia menghubungi ayah dan ayah berkata untukku
"Ketika orang sudah benar-benar mendengarkan musikmu, baru kamu kembali dan katakan padaku aku tidak mengerti musikmu.". aku mengerti kenapa ia mengatakan itu. Orang tua memang tidak mengerti tentang musik-musik anak muda apalagi rock seperti ini. Yang mereka tau pasti hanya enka. Huft, tapi aku senang ayah masih membuka pintu untukku.


Hubungan kami mulai membaik ketika suatu saat ibuku menelpon manajer kami dan memintanya untuk memberikan telponnya kepadaku. Dan saat itulah kami mengobrol cukup lama.

“Taka, apa kabarmu, nak?” suara tuanya sangat indah buatku. Aku rindu dengan suara ini.
Ragu aku untuk menjawabnya. Perasaanku saat itu benar-benar bahagia “aku baik-baik saja, bu. Ibu sendiri bagaimana?”
“ibu juga sehat. Taka, apa kau senang dengan kehidupanmu sekarang?”
“iya bu. Taka bisa jadi orang yang membuat ibu bangga, kan?”
“iya nak. Kapan kau pulang ke rumah? Ibu kangen padamu” terdengar nada bicaranya yang sedih
“Taka juga bu. Tapi saat ini belum bisa”
“ayahmu sangat mengkhawatirkanmu, Taka”
“ayah? Mengkhawatikanku?”
“setelah menerima poster dan kaset musikmu, ayahmu ingin sekali melihatmu. Maafkan dia yang pernah mengusirmu dulu”
“sudah kumaafkan kok, bu. Dan Taka juga minta maaf sudah membuat kalian malu selama ini”
“Bagaimanapun kau Takanori, tetaplah anak kami. Dan kau bagian dari hidup kami”
“terimakasih ibu. Aku tak akan melupakan kalian. Taka janji akan membahagiakan ayah dan ibu”
“jadilah anak yang baik, ya”
“baik bu”

Dan pembicaraan kami berakhir sampai situ. Walau hanya sebatas telepon, tapi aku merasa sangat bahagia. Mendengar pernyataan ibu yang mengatakan kalau ayah juga mengkhawatirkanku. Aku lebih bahagia dari apapun.


Orang tuaku akhirnya mendukungku dan bandku seutuhnya. Mereka mau membeli CD dan poster-poster Gazette, dan mereka juga rela antri untuk datang ke live-live kami. Tepat waktu itu, di antara para fans-fans yang menonton kami, ada dua sosok yang sangat kukenal berada di pinggir tempat penonton. Orang tuaku menontonku dari jauh. Aku benar-benar bahagia. Hasil kerja kerasku akhirnya dapat mereka terima, dan aku sedikit bisa membahagiakan mereka.


Aku menyesali semua hal jelek yang pernah aku lakukan waktu aku muda. Aku pikir dulu aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dengan cara memberontak. Aku harap aku bisa menjadi lebih baik. Dan di hari-hari ketika orang tuaku sudah tua, aku ingin bisa mengurus mereka sendiri. Memperlakukan hal yang sama ketika mereka merawatku waktu kecil.


Aku menyayangi kedua orangtuaku, karena merekalah aku menjadi seorang vokalis the GazettE seperti sekarang. Pahitnya kehidupan keluargaku, tak mengurungkan niatku untuk menjadi orang yang lebih dan lebih dari kemarin. Aku hanya bisa memberi sedikit kebahagiaan kecil pada mereka, dengan menjadi seorang yang sukses saat ini. Namun aku menyesal telah melawan mereka dulu. Karena di balik itu semua aku tau kalau mereka mendukungku.


Di saat sebelum orang tuaku meninggal, aku ingin memperbaiki diriku sendiri. Supaya suatu hari nanti aku bisa berkata,


"Aku anak yg baik”


Thanks for my parents
your boy.
Taka ‘Ruki’ the GazettE

Owarimasu


N.b : saya menyelesaikan fic ini aja sampe nangis-nangis *lebay*. Comment please::::