Sunday, June 23, 2013

Fanfic [SCREW] Good Side of Me chapter 1


Title: Good Side of Me
Author: Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter: 1/4
Genre: Drama, Romance, Supernatural, School activity
Pair: KazukiXManabu, ByoXRui
Rating: PG
Language: Bahasa Indonesia
A/N: Fic Sekrup lagi... BANZAI!!! Setelah sekian lama, akhirnya..


Good Side of Me
the GazettE – Dripping Insanity

Sudah dua tahun aku bersekolah di sini, dan sudah dua tahun pula tak ada yang berani menjadi temanku. Selalu sendiri dan dianggap sebagai seorang penyihir dan pembawa bencana. Sangat sulit bagiku di saat tahun pertama, namun aku baru menyadari bahwa selalu sendiri itu tidaklah seburuk yang kubayangkan dulu. Tak ada yang berani memarahiku jika aku melakukan kesalahan, bahkan mereka selalu memberiku jalan jika jalan di depanku penuh sesak oleh orang-orang. Ya, aku tau itu bukanlah sebuah keuntungan. Malah sebaliknya. Tapi aku tak bisa berbuat apapun untuk membujuk mereka agar mau berteman denganku. Aku hanyalah orang yang sudah mereka cap sebagai peramal keburukan. Bukankah itu aneh? Mengingat orang tuaku yang punya profesi sebagai peramal di kuil tua. Aku juga memiliki darah yang sama dengan mereka. Mereka mewarisiku dengan kemampuan indra keenam yang jarang dimiliki orang-orang seusiaku. Dan apakah aku harus bersyukur dengan itu?


Pagi seperti biasa. Semua ‘teman’ di kelasku berubah diam ketika aku masuk kelas. Dan selanjutnya mereka selalu berbisik-bisik saat aku sudah duduk di kursiku. Kursi di pojok belakang yang sengaja dibuat berjarak lebih jauh dari kursi-kursi lainnya.

Pelajaran sejarah, cukup membosankan hari ini. Berada di kelas sama saja seperti berada di sebuah planet asing yang orang-orang di sana melihatku dengan tatapan aneh. Menulis catatan yang sama sekali aku tak menyukainya. Aku lebih baik pulang dan bermain video game.

Tiga jam pertama telah usai. Waktunya istirahat dan aku benar-benar ingin keluar. Berjalan-jalan melewati ruangaan kelas yang lain. Aku berjalan keluar dan menaiki anak tangga yang menuju ruang kelas 3. Ada keinginan kecil untuk melihat masa depan dari orang-orang ini.

Diam sejenak.

Membuka mata dan mulai melihat-lihat siapa tahu ada yang punya masa depan baik di sini. Satu kelas, suram semua. Kelas yang lain, hanya beberapa. Dan oh tidak, apa ini? Auranya sangat gelap. Dari mana ini berasal?

Semakin lama semakin mendekat.

Brukk.

Seseorang menabrakku dari depan. Auranya sangat jelas. Mungkinkah dia si pemilik aura gelap ini?


“hey, perhatikan jalanmu” ucap orang itu setengah membentak. Kulihat orang itu, berseragam olahraga, tinggi dan punya sepasang mata yang indah. Dan apa yang kutemukan? Auranya memang berasal dari dia.

“ah, maaf” aku membungkukkan badan dan kembali melihat dia.

Dia yang masih membenarkan lengan seragam olahraganya, balas menatapku. “kenapa kau melihatku? Ada yang salah?” tanyanya mulai marah.

“tt..tidak. maaf..” aku pun pergi kembali ke kelas dan berusaha menghilang dari hadapannya.

***

Kembali ke kelas, aku masih memikirkan orang itu. Baru kali ini aku menemukan orang beraura seperti itu. Pastilah dia orang jahat. Semoga aku tak bertemu dengannya lagi.

“Manabu-san,,”

Sialan, aku melamun. “ah,, iya sensei?”. “lanjutkan haiku yang dibaca Matsumoto tadi”

“bb..baik”

***

Esok harinya, aku masuk sekolah tidak dengan jalan yang biasa kulewati setiap hari. Aku memilih jalan ‘tikus’ karena hari ini aku sedikit terlambat. Memanfaatkan jalan kecil sepanjang jalan ke sekolah, aku berjalan secepat mungkin agar pintu gerbang sekolah belum ditutup.

Yokatta,, aku berhasil. Dan oh ya, hari ini kelasku akan ada jam olahraga. Aku sangat menyukai pelajaran ini, karena di sini aku bebas melakukan hal apapun. Menendang bola, melempar lembing, dan berlari. Menyenangkan.

Hari ini aku bertugas untuk mengambil dan mengembalikan peralatan olahraga di gudang. Dan sekali lagi, tidak ada yang mau menjadi partnerku. Walaupun begitu, aku senang melakukannya. Merasa seperti ada yang masih membutuhkan bantuanku.

Sepak bola. Jenis olahraga yang paling kujagokan. Aku bahkan pernah membuat gol di saat aku dan teman sekelasku bertanding dengan kelas tiga tahun lalu. Dan hebatnya tidak ada selebrasi berarti untukku saat itu.

***

Cukup melelahkan setelah berlari ke sana-kemari menggiring bola. Dan saatnya aku untuk mengembalikan bola ini ke gudang. Gelap, seperti tadi aku memasukinya. Tidak ada ventilasi, peneranganpun hanya lampu neon itu.

Aku menutup pintunya dan memasukkan bolanya ke dalam lemari, dan saatnya kembali ke kelas.

Aneh. Tidak bisa dibuka.

Pintunya terkunci.

Astaga. Kenapa bisa begini?! Orang-orang sangat jarang melewati gudang ini, dan aku? Tak bisa keluar.

Kugedor-gedor pintu tua itu sekeras mungkin. Berharap ada seseorang lewat dan membukakan pintu ini.

“apa ada orang di luar?!! Tolong buka pintunya!!! Aku terkunci!!!” kalimat yang terus kuulangi sampai aku kelelahan. Tak ada ventilasi, aku tak bisa bernapas lebih lama lagi.

Aku ingat pesan seseorang, ‘jika kau berada di suatu tempat yang tertutup, maka kau jangan bertingkah yang berlebihan. Cukup diam agar kau tak kehabisan napas’. Baiklah, aku diam.

Bergerak lemas ke arah pojok dan memeluk kakiku. Menenggelamkan kepala di antaranya. Kepalaku terasa pusing dan sepertinya pasokan oksigen di ruangan ini sudah hampir habis.

Pandanganku buram dan semuanya tak terlihat lagi.


To be Continue

Fanfic Gara-gara Voucher


Title: Gara-gara Voucher
Author: Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter: 1/1
Pair: ReitaXRuki
Genre: Humour abal
A/N: Lama banget sudah gak bikin Reituki. Oh Reituki, jadilah OTP gue yang baik dan awet supaya kalian bisa gue bikin fic baru..ulalala..

^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^ ^w^

“TIDAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!” teriak Reita di ruangan yang hanya dihuni oleh tiga orang di sana. Membuat ruangan yang tadinya sepi menjadi super ribut karena ulah sang bassis bernoseband itu.

“ada apa sih teriak-teriak! Berisik, tau!!” Uruha yang lagi main gitar tanpa pick pun jadi ngamuk karena teriakan Reita sudah membuat kuku jari tangannya yang lentik itu patah.

“gue pengen bunuh diri aja!!!!!” lagi-lagi Reita kayak orang kesurupan.

“eh, jangan!!! Utang lo belum lo bayar!!!” kini Kai yang sebel.

“gue udah gak tahan lagi!!!”

“mau boker aja pake teriak-teriak. Ke WC sana!!!!” Aoi jadi sotoy gitu.

“emang lo kenapa sih, Rei?” tanya Uruha baik-baik

“Ruki, Ru... Ruki.....”

“kenapa sama Ruki? ditolak lagi?”

Reita ngangguk ngenes.

“haeh.. kirain apaan..” Uruha, Kai dan Aoi langsung kembali nerusin kegiatannya yang tadi. Kasian deh lo Rei, gak dipeduliin.

“maksud lo apaan?! Gue sudah berusaha buat dia cintrong ame gue tapi teteeeepppppp aja dia nolak gue lagi??” Reita makin nepsong buat nyopot nosebandnya, pengen gigit terus ditelen tanpa minum. “kurang apa coba gue ini?”

“KURANG MANCUNG” jawab Aoi, Uruha, dan Kai serempak

Spontan Reita matung dan ada efek badai salju di sekitarnya.

“kalian jahat sama bassis gajet satu-satunya ini..” mulai mewek dah, tapi gak jadi karena gue eneg liat Reita mewek.

“emang kenyataannya gitu” Kai ceplas ceplos aja deh.

“lagian elo juga norak sih. Nembak Ruki kayak nembak bocah SMP pake ngirim sms alay plus kasih boneka panda. Lo kira dia ceeuuee inghindt dhiimandja apphua?” yaelah,, Aoi kebanyakan maen pesbuk sama anak alay.

“dia kan kayak panda, makanya gue kasih boneka panda”

Uruha makin kasihan aja sama ni bocah “itu malah jadi keliatan kalo lo nyamain dia sama gendutnya kayak panda. Ya jelas lah dia bete”

“lain kali kasih Ruki itu makanan kek, apalagi makanan bikinan gue. Pasti dia doyan” saran Kai

“jangan bikin Ruki keracunan lagi gara-gara makanan lo, Kai!” Uruha udah kayak emak-emak yang takut anaknya diapa-apain sama orang. Protektif gila!

Reita berpikir keras, apa yang bisa dikasihkan ke Ruki supaya cintanya gak ditolak lagi.

Dan tanpa pikir panjang kali lebar sama dengan luas persegi (?), Reita langsung berucap “dikasih voucher shopping mau gak, ya?”

Semua saling pandang..

“GREAT IDEA!!!”

Secercah harapan dan senyum yang terkembang dari Reita membuat ini bocah makin bersemangat dan dia segera ke mol-mol buat ngasih Ruki voucher belanja. Karena pada dasarnya dari orok, Ruki emang doyan banget belanja. Biasa,, calon ibu-ibu..


Setelah berusaha dapetin voucher itu di mol-mol, Reita akhirnya kebagian juga voucher belanja walaupun dia dapet mol yang jual barang-barang secondhand. Dan segera dia kembali ke pelukan (?) Ruki dan nembak dia lagi..


“oh.. Ruki sayangku... cintaku.. mai darling..” tereak Reita dari luar studio yang bikin semua pekerja staff di sana merasa ngeliat penampakan orang gila berhidung pesek datang berkunjung ke kantornya.

Ruki yang kebetulan lewat, pasang muka gak kenal. Dia jalan pelan-pelan biar dia gak diliat Reita, tapi ya biar matanya sipit, Reita ya tetep aja liat Ruki sang permaisuri (?).

“Ruki!!!!! aku mencarimu~~~~ aku bawakan sesuatu nih..” Reita kibar-kibar voucher belanjaan yang tadi dia dapat. Berharap Ruki liat, tapi Ruki nya gak mau liat.

Reita pun ngampirin Ruki dan nyodorin voucher itu tepat di mukanya Ruki. “nih.. liat, Ru. Aku bawa apa?”

Ruki ngeliat ogah-ogahan, tapi begitu liat ada tulisan ‘VOUCHER BELANJA DUA JUTA RUPIAH’ Ruki langsung ngerampas aja itu voucher dari tangan Reita.

“lo dapet ini dari mana?” tanya Ruki.

“kamu gak perlu tau.. yang penting aku sudah ngasih ini”

“yaudah, gue mau ke sana!!”

Belum sempet Ruki pergi, Reita keburu narik kerah belakang Ruki dan ngerebut voucher itu lagi.

“kalau kamu mau dapat ini, ada syaratnya...”

Ruki makin jengkel sama orang pesek ini “apa syaratnya, awas aja yang aneh-aneh!!”

Reita smirk, suer deh aneh banget Reita kalo smirk. “gak aneh kok. Cukup jadi pacarku aja, dan kamu dapat voucher ini”

Ruki berasa pengen seseorang mukul kepalanya sampe bocor, pot bunga segede gaban di sampingnya juga pengen dia makan. Gimana gak coba, masa’ voucher berharganya itu mau dituker dengan dia harus jadi pacarnya Reita. Ogah!!!!

“gue gak mau!!”

“kalau gak mau, voucher ini kubakar. Dan kata orangnya sih, voucher ini tinggal satu-satunya” ancam Reita lagi yang sudah siapin korek gas di tangannya. Ruki serasa dipojokkan dan pilihannya sangat membuat dia menderita.

“bagaimana.. mau tidak?”

“kamu maksa, ya?”

“engga kok. Aku Cuma kasih kamu penawaran bagus aja”

‘itu sama aja maksa pesek!!!!!’ batin Ruki sebel tingkat neraka ke delapan (emang ada?)

“tapi gue mau bikin satu perjanjian. Kalau gue udah jadi pacar lo, gue mau lo kasih voucher beginian lagi” yes! Ruki dipihak yang menang!!

Tanpa ba bi bu be bo, Reita memantapkan tawaran Ruki itu. Cari voucher mah gampang, tinggal sogok yang punya mol, udah. Siapa sih yang gak kenal Reita?!! hohoho.. sombong akut.

“oke! Nih, kukasih vouchernya. Tapi kamu udah jadi pacarku sekarang, ingat itu Ru..”

“iya iya. Gue mau pergi, pake ini voucher. Dan awas aja kalo lo gak ngasih gue voucher lagi. Gue putusin lo!” ucap Ruki yang makin keliatan imut di mata Reita.

“beres! Selama Ruki jadi pacarku, akan kulakukan apapun untukmu”


2 minggu kemudian...

Reita kehabisan duit, kenalannya di mol sudah gak ngasih promo voucher belanjaan lagi. Gimana dong? Janjinya, hari ini Ruki bakal nagih voucher belanja di toko cheesecake. Tapi sampai detik ini pun Reita tak kunjung mendapatkannya. Alasannya sih simpel, pemilik toko cheesecake itu sama sekali gak kenal Reita, padahal Reita udah nunjukin posternya dia bareng the GazettE. Tapi apa mau dikata, sang pemilik toko adalah native dari Uganda yang kebetulan pindah ke Jepang buat bikin cabang cheesecake nya di sana.

“hahh.. gimana ini? Ruki udah datang belum, ya? Gawat aja kalau dia tau gue masih di sini” Reita ketar-ketir.

Gak lama Ruki nongol dan segera serbu Reita dengan pertanyaannya yang membabi-buta.

“kenapa masih di sini?!! Mana voucher gue?”

Reita diam aja. Gak tau mau ngomong apa dan mau jelasin dari mana.

“jangan bilang lo belum dapet?”

Ketauan deh.

“arrghh,, Reita!!!! kita putus!!!”

Reita shock dengernya.. ‘putus’ katanya?? Segampang itukah dia bilang putus?? Dan sesusah itukah dulu gue nembak dia??

Yaamponn... baru juga dua minggu.. kenapa musti putus cuman gara-gara gak dapet voucher??!!!


“TIDAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!”

OWARI

Fanfic [AND~eccentric agent~] The Anniversary


Title : The Anniversary
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter : 1/1-OneShoot-
Pair : KiliXKen
A/N : Fic yang dibuat saat classmeet kelas 3 kemaren.. project lama yang nyaris ditelantarkan.


The Anniversary
auncia - KeyCase

Ken tengah sibuk-sibuknya mencorat-coret atau lebih tepatnya melingkari satu tanggal di semua kalender yang Kili punya. Ya, sekarang dia berada di apartemen Kili hanya sekedar melepas rindu pada kekasihnya itu. Tak ada satu pun kalender yang terlewat dari tangan Ken. Kili yang sedang mengetik tulisan di laptonya itu pun sesekali melirik sekilas dan tersenyum melihat tingkah anak manis di depannya itu. Kili senang sekali, di hari libur ia tak kesepian saat mengerjakan tugas-tugas semua mata kuliahnya. Karena ada Ken yang sudah berbaik hati menyempatkan diri menemani Kili dan juga membuatkan secangkir coklat panas untuk Kili agar ia merasa nyaman.

“Kili kun, minggu depan ada acara tidak?” tanya Ken setelah selesai menutup spidol berwarna merah di tangannya.
Masih mengetik Kili berujar sekenanya “tidak ada. Memang kau mau mengajakku ke mana?”

Ken sedikit berpikir “emm, tidak kemana-kemana. Aku hanya ingin bermalam di sini, denganmu” terlihat semburat kemerahan muncul di pipi Ken.

“oh, kenapa tidak nanti malam saja. Tak perlu menunggu minggu depan”
“ahh, itu karena aku maunya minggu depan” jawabnya asal ‘masa kau tak ingat Kili? Minggu depan itu tanggal berapa?’ batin Ken

“okay, terserah kamu saja” Kili menatap Ken dan kembali tersenyum.


Ken’s POV

Sepertinya Kili lupa minggu depan adalah hari spesial kami. Tapi mana mungkin? Kami sudah bersama hampir 30 bulan. Well, mungkin memang angka yang kurang lama, tapi masa’ dua tahun lebih ia sama sekali tak menyinggung-nyinggung soal anniversary itu padaku. Apa mungkin dia sudah bosan padaku dan ia sengaja melupakannya. Kili tidak sejahat itu dan Kili juga belum pikun.

Haeh... lucu juga kalau aku yang heboh sendiri menyiapkan ini semua. Dan apa aku harus memberitahunya secara langsung kalau minggu depan tanggal 30 itu adalah hari jadi kami? Seharusnya dia ingat, kan? Yah, sekedar bertanya padaku nanti tanggal 30 kau mau minta apa dariku? Hhh.. padahal aku sudah mencorat-coret kalendernya di depan matanya sendiri. masa’ dia tak lihat? Argghh... Kili.. kalau dia benar-benar lupa awas saja!

Ken end POV


2 days to anniversary’s day

Ken sudah menyiapkan semuanya, termasuk kuenya. Ia tak membuat sendiri karena pastilah hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Jadi ia memutuskan untuk meminta ibunya untuk membuatkan kue. Namun untuk lebih memperlihatkan kerja Ken, ia sengaja yang menghiasnya. Dengan maksud supaya ia bisa pamer di depan Kili dan  sebagai bentuk pembuktian kalau Ken sangat perhatian pada Kili.


Setelah pulang sekolah, Ken sengaja pergi ke kampus Kili untuk mengajaknya pulang seperti biasa. Namun sudah setengah jam, Kili tak kunjung muncul dan membuat kakinya lelah terus berdiri. Teman-teman Kili yang berlalu lalang di depan Ken sudah hapal kalau anak berseragam SMA itu pasti sedang menunggu Kili. Dan salah satunya pun mengajak Ken bicara.

“ano, summimasen..”

“eh?” Ken terkejut begitu seorang pria manis setinggi dirinya datang menyapanya. Dan ia tak sendiri, ada seorang pria lain di belakangnya. Dengan jari-jemari yang saling terkait.

“maaf mengagetkanmu. Kau pasti sedang menunggu Kili”

“ah.. hai’. Bagaimana kau tahu?”

“aku sudah sering melihatmu di sini, dan ujung-ujungnya Kili yang selalu bersamamu”
“oh. Begitu” Ken jadi terlihat kikuk.

“hmm, hari ini Kili ada mata kuliah tambahan. Jadi dia mungkin pulangnya sedikit terlambat. Kau tidak apa-apa, kan?” ujar pria manis itu.

Terlihat raut wajah Ken yang kecewa dan segera memilih berterimakasih pada orang itu lalu hendak pulang.

“ah, matte!” panggil pria itu lagi.

“doushite?”

“Kili juga bilang kalau malam ini dia tidak pulang, jadi dia memintaku untuk memberitahumu kalau kau tak perlu berkunjung ke apatonya. Oiya, aku Peco. Salam kenal” ucapnya masih ‘menempel’ pada orang yang di sebelahnya.

“terima kasih Peco-san. Umm, Ken desu”

“kami pulang dulu. Jyaa, kohai Ken”


***

1 day to anniversary’s day

‘besok adalah hari H nya. Aku berharap dia tidak melupakannya’ pikir Ken


“Oii, Ken-chan. Kenapa kau ini? terlihat tak bersemangat dari kemarin. Apa kau diputusi pacarmu, haa?” ucap seorang teman Ken-Ikuma- yang terkenal dengan ucapannya yang ceplas-ceplos. Dan ucapannya itu mengundang suara gelak tawa dari teman-temannya yang lain.

“aku lelah, Ikuma. Jangan menggangguku sekarang” Ken menjawabnya dengan nada malas.

“oke, oke. Pasti ini masalah Kili senpai yang bisa membuatmu begini. Ya, kan?”

“Ikuma!”

“baiklah.. aku pergi sekarang”


‘Kili, dari kemarin kau tak menghubungiku sama sekali. Sudah cukup.. aku lelah..’


Anniversary’s day

Jam delapan malam Ken pergi ke apartemen Kili sambil menenteng kue hari jadi mereka. Sampai di depan pintu ia mengetuknya beberapa kali. Merasa tak ada sahutan, Ken mencoba memutar kenop pintu dan bisa terbuka. Kili tak menguncinya ‘mungkin dia tidur’ pikirnya.

Namun Ken agak kaget melihat seluruh ruangan di apartemen Kili dalam keadaan lampu padam. Ia pun menyalakan semua lampu dan menemukan harta benda Kili-alat tulis- banyak berserakan di lantai dan meja ruang tamu. Mau tak mau Ken yang membereskannya dan mulai mempersiapkan pesta kecil di apartemen Kili. Sementara Kili tidak ada di apartemennya kini.


Sementara Ken berada di apartemen Kili menunggu kedatangan sang pemilik apartemen, sekarang Kili tengah bersama teman-temannya di bar. Awalnya Kili menolak karena harus pulang segera, mengingat Ken yang akan menginap di apartemennya. Namun kedua teman Kili memaksanya untuk sedikit lagi bersenang-senang di sana. Kili yang tidak suka minum-minuman beralkohol, akhirnya dengan terpaksa meminumnya-atas suruhan temannya itu-. Walau hanya beberapa teguk, Kili sudah nyaris kehilangan kesadarannya. Perutnya terasa panas dan kepalanya mendadak pusing. Ia sudah seperti teman-temannya yang mabuk.

Setelah tau Kili mabuk, kedua temannya malah terus mencekokinya dengan minuman yang lebih banyak kadar alkoholnya. Kili yang tak tahu apapun harus menelan semua cairan itu yang artinya ia sudah siap untuk memuntahkan isi perutnya.

“hik.. Suzu...ne..hik.. sudah..” ucap Kili sambil memijit kepalanya berulang-ulang.
“baik.. kelihatannya kau juga sudah mabuk Kili. Tapi, kita akan di sini sampai pagi. Benar, kan Peco?”
“ya.. itu benar..” jawab orang bernama Peco itu setengah mabuk.

Tanpa perlawanan Kili akhirnya tetap berada di bar itu dengan kedua temannya. Percuma ia berusaha pulang, toh berdiri pun ia kepayahan.


Di apartemen Kili, Ken terus menunggu kedatangan Kili. Sampai jam setengah dua belas malam pun, Kili tak kunjung datang. Ia menatap kue yang ada di depannya sambil menangis pelan. Melihat hiasan yang bertuliskan ‘Happy 30th Anniversary’ di atas kue itu, Ken menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya sambil terus menangis.

‘Kili, kau di mana...’


Ken nyaris tertidur menunggu Kili datang, tapi ia berusaha tetap terjaga. Ia terus menanti, walau ia sendiri tak yakin Kili akan datang malam ini.

Dan akhirnya Ken sudah benar-benar lelah dan segera pulang. Namun sebelum itu, ia menyimpan kuenya di kulkas belakang. Ia yakin kalau Kili pulang besok, pasti dia akan ingat.

Ken pun pulang dengan perasaan sangat kecewa. Ia sudah berrencana tidak akan kemana-mana besok. Ia ingin di kamarnya sendiri tanpa ada seorang pun yang mengganggunya.

Mungkin itu cara terbaik melupakan insiden hari ini.


A day after anniversary’s day

Kili membuka matanya dan masih merasakan sakit di kepalanya. Ia bangun dan melihat kedua temannya masih tertidur di atas meja dengan beberapa botol sake berserakan di antaranya. Kili sedikit ingat apa yang terjadi tadi malam dan ia benar-benar menyesal telah ikut undangan teman-temannya ke bar ini. Ia pun bergegas pulang tanpa membangunkan dua orang yang telah membuatnya mabuk itu.

Sampai di apartemen, Kili tidak seperti biasa dikejutkan dengan alat-alat tulis yang berserakan di ruang tamu. Semuanya sudah tersusun rapi di satu tempat, dan ia sendiri tak yakin kalau ia yang membereskannya.

Ia menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya dari bau-bau alkohol dan rokok yang ia benci itu. Setelah dirasa ia sudah kembali ke Kili yang sebenarnya, perutnya kini tiba-tiba minta ingin diisi. Ia lapar, dan membuka kulkas untuk melihat apa saja yang bisa dimakan. Namun melihat sebuah kue coklat tersimpan di sana, ia merasa heran. Sejak kapan ada kue ulang tahun di kulkasnya.

“aku tidak ingat pernah memasukkan ini di sini”

Ia pun mengambil kue itu dan melihat hiasan yang tertulis di sana. ‘Happy 30th Anniversary’.

“ha? Apa mungkin ini...? Sekarang bukannya tanggal 31? Itu berarti kemarin....”


“Kuso!! Kili baka!!” Kili akhirnya ingat hari kemarin adalah hari jadi hubungannya dengan Ken yang ke 30 bulan. Ia terus memaki dirinya sendiri yang sudah lupa akan hari spesialnya itu. Terlebih lagi, Kili yakin kue itu sudah pasti Ken yang membuatnya dan Kili malah tak ada tadi malam bersama Ken. Ia sangat menyesal.


Sementara itu Ken masih saja berada di dalam selimut dengan keadaan mata yang sembab. Ia pun sengaja tak sarapan, karena ia tak mau keluar dari kamarnya. Ia sudah terlanjur marah pada Kili.


“Ken-chan, ada temanmu berkunjung. Cepatlah keluar dan temui dia” panggil ibu Ken dari balik luar.

“siapa Kaa-san?”

“yang  jelas dia ingin bertemu denganmu, cepatlah temui dia” dan suara langkah kaki ibunya pun perlahan menghilang. Ken malas sekali bertemu siapa-siapa hari ini. Pikirnya, pasti Ikuma yang ingin meminjam catatan untuk ulangan besok. ‘yah, pasti dia’.

Ken pun turun dari kamarnya dan menemui teman yang mengganggunya itu. Namun baru tiga langkah menuruni tangga, ia langsung buru-buru kembali ke atas karena melihat orang yang mencarinya itu bukanlah Ikuma, tapi Kili.


“Ken, tunggu!!” Kili juga tak kalah cepat untuk menaiki tangga dan menggenggam pergelangan Ken.

“kumohon dengarkan aku dulu. Kau tidak tau apa yang menimpaku tadi malam”

“aku memang tak tau apapun tentangmu..” sindir Ken dengan tatapan marah

“oke, aku salah. Tapi tolong dengarkan aku sebentar saja. Ayolah, Ken...”

Mendengar permintaan Kili yang terdengar menyesal itu pun akhirnya Ken mau membuka sedikit hatinya untuk mendengar semua penjelasan Kili.


“maafkan aku soal hari jadi kita kemarin. Aku tak bermaksud melupakannya, tapi..”

“tapi apa? Aku lelah menunggumu pulang sampai aku harus tetap terjaga menahan rasa kantukku hanya untuk menunggumu”

“gomen... sejak tadi malam teman-temanku mengajakku ke bar dan meminumkanku sake. Kau sendiri tau aku tak bisa minum itu, kan?.. dan aku tak bisa berbuat apapun, pulang pun aku tak mampu.” Ucap Kili meyakinkan anak itu.

Ken selalu kalah jika harus bertemu pandang dengan Kili yang memasang wajah memelas.

 “kau mau memaafkanku, Ken?”

“huh, tapi awas kalau berbuat begitu lagi. Aku tak akan segan-segan meninju mata sipitmu itu!”


Kili tersenyum mendengarnya. Ia sempat khawatir kalau Ken tak mau memaafkannya, atas apa yang ia lakukan. Tapi semua sudah kembali, dan dengan kejadian ini Kili makin menyayangi koibito kecilnya itu.

Owari

A/N: Kili dan Ken, maafin gue karena gue selalu nista padamu. Walau sekarang kalian jarang beduaan lagi *dijotos*. Yang terpenting adalah gue akan selalu bikin fic nista untuk kalian.