Monday, December 17, 2012

Fanfic Choice



Title : Choice
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter : OneShoot
Pair : ToraXSaga
Genre : Angst, Drama
A/N : Minna-san sekalian,, ternyata ini adalah fic utuh dari Drabble “My Choice” dengan pairing ToSa yang pernah ku post sebelumnya. Sebetulnya aku bikin fic ini jauh sebelum ngepost yang drabble itu, tapi entah kenapa dokumen inih fic mendadak hilang dari lepi saya. Dan setelah beberapa kali ditilik, ternyata ada di folder tersembunyi yang aku bikin sendiri *slap*. Wokeh,, cukup intronya, sekarang waktunya dibaca.. oiya, en no edit. enjoy read ^^


Choice

Namaku Saga Takashi, umurku masih 14 tahun dan aku sekarang duduk di kelas 3 SMP yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Negara. Sejak setahun lalu aku tak tinggal dengan orang tuaku lagi karena aku diusir. Bukan tanpa alasan mereka mengusirku. Mereka memergokiku tengah bersama dengan seorang laki-laki di kamarku. Mereka mengira aku melakukan yang tidak-tidak, padahal orang itu hanya ingin membantuku yang terjatuh dari tempat tidur. Dan nasi telah menjadi bubur, mereka tersulut emosi-apalagi ayah- dan segera mengusirku keluar bersama temanku itu.

Kau tau siapa lelaki itu? Hmmm,, dia adalah lelaki baik yang sudah mau menampungku tinggal di rumahnya setelah aku resmi dibuang oleh keluargaku sendiri.

Aku selalu memberikan yang terbaik untuknya sebagai tanda terima kasih sudah diperbolehkan tinggal bersamanya. Aku melakukan tugas-tugas rumah tanpa ia suruh. Seperti mencuci pakaian, membuat makanan, dan membersihkan rumah. Namun ia selalu melarangku melakukannya, dan tak jarang dia memarahiku.

Dia  pria yang baik. Aku seperti tinggal bersama dengan kakakku sendiri, karena umur kami yang terpaut tujuh tahun. Dan bagaimana aku bisa mengenalnya? ... itu karena dia adalah teman satu universitas kakakku. Waktu aku masih di rumah, dia selalu berkunjung dan membawakanku buah tangan. Entah itu makanan ringan dan beberapa kebutuhan belajarku.

Tora Amano, itulah namanya.


Seperti biasa dia selalu mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan mobilnya. Tapi kalau ia sedang sibuk, aku pergi ke sekolah dengan sepedaku. Seperti sekarang ini, dia ada urusan dengan kuliahnya. Jadi aku mengendarai sepeda ke sekolah, berhubung jaraknya tak terlalu jauh.


“Saga, pulang sekolah langsung ke rumahku ya. Aku, Hiroto, dan Manabu mau belajar bersama untuk Ujian Semester besok” ucap Ruki, teman Saga “kau tak perlu pulang. Masalah makan malam tenang saja”

Saga tak langsung menjawabnya, ia memikirkan Tora di rumah. ia berpikir tak masalah juga pulang malam kalau ada alasan yang jelas dan Tora pasti mau memakluminya. Lagipula ia hari ini memakai sepeda, jadi ia tak menunggu Tora menjemputnya. Dan untungnya, setiap hari ia selalu membawa kunci rumah cadangan. Dengan begitu kalau ia pulang terlalu larut ia akan mudah membuka pintu tanpa harus memanggil Tora.

“baiklah, aku ikut” ucapnya yakin.

Tapi Saga lupa, ia tak membawa ponselnya hari ini.

Tiba di kamar Ruki, ketiga orang temannya termasuk Saga sudah duduk bersila melingkar di meja bundar. Buku-buku pelajaran sudah terbuka sempurna untuk dipelajari. Mereka terbantu dengan adanya Manabu, siswa cerdas di kelasnya. Sesekali mereka bercanda dan yang paling sering dikerjai adalah Saga. Terlebih Ruki yang paling sering menjahili anak itu.

Saat itulah Saga teringat Tora. Ia mencari letak jam dinding dan mengetahui sekarang sudah pukul tujuh malam. Raut kekhawatiran Saga bisa dibaca oleh Ruki. “kau mau pulang, Saga?” tanya Ruki. “ah, belum. Aku masih mau belajar di sini” jawabnya kikuk.

“apa kau belum memberitahu orang rumah?”, Saga menggeleng “aku lupa membawa ponsel”.

Ruki memakluminya “nih, pakai ponselku saja”. Ponsel merah Ruki pun sudah berpindah tangan ke Saga. Dipencetnya nomor Tora dan mulai menunggu jawaban saja.
Tak ada sahutan dari Tora, hanya bunyi operator berisik yang mengatakan nomor yang dituju sedang tidak aktif. ‘akh..’ batin Saga. Dia pun mengemballikan ponsel itu pada pemiliknya.

“kenapa? Tidak aktif?”, langsung Saga mengangguk. “tak apa, aku yakin dia pasti mengerti kalau kau menjelaskannya”.
“ya. Kuharap begitu..”


Tora terus saja menunggu di kursi ruang tamu, menunggu kedatangan Saga yang sejak empat jam lalu tak pulang dari sekolah. Ia marah, kenapa bisa-bisanya Saga tak menghubunginya. “lihat saja kalau pulang larut malam!!” serunya dengan amarah yang tertahan.

Berkali-kali ia menengok ke arah arlojinya, dan ia sudah benar-benar marah. Ini sudah jam sepuluh malam tapi Saga belum juga pulang. Tora menelepon Ruki. Ia yakin Saga di sana karena Ruki adalah teman yang paling sering dibicarakan Saga padanya. Sambungan tersambung..

“hallo, ini siapa ya?” tanya Ruki, “ini Tora, kakak Saga. Apa dia ada di rumahmu?” ucap Tora to the point.
“iya benar. Dia masih belajar dengan kami”
“terimakasih” hanya ucapan singkat itulah Tora memutuskan sambungan teleponnya.

Ia bergegas ke rumah Ruki dan menjemput Saga. Mobil sportnya ia kemudikan dengan laju agar sampai di sana dengan segera.


“Hiroto, apa itu di sana?!” pekik Ruki menunjuk ke luar jendela. Saat Hiroto menoleh dan tidak menemukan apa-apa, ia terkejut dan menjerit ketika melihat Ruki sudah memasang topeng setan Hallowen di wajahnya. Teman-temannya jadi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Hiroto yang seperti itu.

“hahaha.. Manabu juga kaget gara-gara Ruki tuh..” kata Saga menyindir
“hei,, aku tidak takut Saga..” elaknya

“benarkah?” goda Saga makin mendekati Manabu. “ayo mengaku saja kalau takut.. hahaha..” Saga sudah membombardir Manabu dengan menggelitikinya sampai Manabu terjatuh berbaring. Sementara Saga keasyikan berada di atas Manabu sambil terus menggelitiki seluruh badan si anak cerdas itu.

Mereka saling tertawa, apalagi Ruki yang melihatnya. Di saat itu pintu Ruki tiba-tiba terketuk dari luar. Ia kemudian membukanya dan menemukan seorang pria tinggi di hadapannya.
“Saga mana?!” tanya Tora dengan ketusnya.
“dd..di sana”

“Saga, ada yang mencarimu”
Sukses kegiatan Saga dan Manabu terhenti. Ia melihat ke arah pintu dan melihat Tora dengan ekspresi wajah yang sangat marah.

“pulang!!!” bentak Tora
Saga tak berucap apapun, ia langsung membereskan buku-bukunya ke dalam tas dan mengendongnya hanya di bahu kanan. Ia berjalan lemas ke arah pintu. “aku pulang, jyaa minna. Arigatou”

Segera Tora berjalan cepat sambil menarik lengan Saga secara paksa. Sampai di depan rumah Ruki, Saga menunjuk sepedanya yang terparkir di sana.

“aku naik sepeda saja”
“tidak boleh! Masuk ke mobil sekarang!” Saga menurut dan langsung duduk di kursi depan seperti biasanya. Sementara Tora mengambil sepeda Saga dan memasukkannya di dalam bagasi.

Selama perjalanan mereka tak saling berbicara. Saga melihat dari pantulan kaca spion depan, wajah Tora benar-benar kusut. Ia tau Tora marah, sangat marah dan ia lebih baik diam daripada berbicara yang akan menambah buruk keadaan.

“duduk!!” suruh Tora mendudukkan Saga di tepi tempat tidur mereka. Saga duduk dengan kepala menunduk, tangannya terus meremas-remas celana seragamnya. Ia tak berani melihat mata Tora.

“kenapa tak meneleponku?!”
“aku sudah menghubungimu, tapi nomormu tak aktif..”
Tora berpikir sebentar, mana mungkin nomornya tidak aktif  “kau menghubungiku pakai nomor yang mana?”
“yang kau pakai saat menelepon Okasan..” ucapnya ragu
“idiot!, sudah berapa kali kubilang kalau nomor itu sudah kubuang!” bentaknya lagi. Saga makin meremas celananya lebih kuat. Ditambah lagi kata-kata Tora yang terlontar barusan.
“maafkan aku.. hik..”
“jangan menangis!! Apa yang kau lakukan dengan teman laki-lakimu itu, ha?! Pasti kau melakukan tindakan yang aneh-aneh kan?!”
Saga tertegun, “aku tak melakukan apapun..hik, aku hanya bermain dengannya..”
“bohong! Kau pikir aku tak tau, kau membohongiku dengan pura-pura belajar agar bisa bersama mereka”. Saga menggelengkan kepalanya keras-keras. Membantah setiap pernyataan Tora karena memang itu semua tidak benar.
“aku tak berbohong.. kami memang belajar bersama,, hiks”
Tora berjalan dan duduk di tepi tempat tidur membelakangi Saga. Ia menaikkan selimutnya hingga sebatas bahu, bersiap untuk tidur. Tak peduli Saga yang masih menahan tangisnya.

Saga masuk ke kamar mandi dan keluar dengan piyamanya. Ia tau Tora belum tidur, jadi ia memilih untuk tidur di luar. Sebelum itu, Saga sempat berkata sesuatu.
“itu hakmu untuk tidak mempercayaiku. Tapi aku sudah berkata jujur.. maafkan aku sudah membuatmu khawatir..”
Dan saat itu juga pintu kamarnya tertutup.

***
Tora menggeliat begitu sinar matahari menyilaukan matanya melalui celah-celah jendelanya. Ia kemudian meraba-raba jam weker di atas meja samping tempat tidurnya. Melihat jamnya sudah mengarahkan jarum jam ke pukul tujuh, ia terbangun dan segera turun ke ruang tamu untuk membangunkan Saga. Selimut Saga sudah terlipat rapi di sofa, itu tandanya Saga sudah bangun dari tidurnya.
Tora mengecek di kamar mandi dan ternyata Saga tidak ada. Beralih ke dapur, ia juga tak menemukan ‘adik’ angkatnya. Yang ia temukan hanya beberapa potong roti panggang dan sebotol selai coklat terhidang di meja makan. Ia juga mendapati secarik kertas di sebelahnya.

Notes dari Saga.

Ini sarapan untukmu, Tora. Maaf aku pergi ke sekolah lebih awal dan aku tak sempat membuatkan nasi.
Jangan marah lagi, ya..
Saga <3

Tora tersenyum melihat isi notes itu. Ia kemudian pergi mandi dan setelah itu barulah ia memakan roti panggang buatan Saga.
Manis sekali.

Setelah makan Tora mengambil posisi nyaman di sofa ruang tengah untuk menonton acara favoritnya. Hari ini dan sebulan ke depan ia tak ada jadwal kuliah karena libur. Jadi selama itulah ia akan terus berada di rumah, menjaga Saga tentunya.

Berkali-kali ia mengganti channel dan tak ada yang menarik. Lalu ia putuskan untuk bermain game Dinasty Warrior. Biasanya setiap hari Minggu atau jika ada waktu senggang, ia sering bermain bersama Saga. Sampai mereka kelelahan dan tertidur meninggalkan layar televisi tetap dalam keadaan on.

Sudah dua jam Tora berkutat dengan joystick game dengan mata yang terus tak melewatkan setiap gerak dari permainannya. Sesekali ia meminum jus kaleng yang sudah ia siapkan di sampingnya.

“tadaima..”
“eh?” Tora kaget tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sesosok Saga di depannya.
“kau pulang cepat?” tanya Tora sambil membereskan beberapa kaleng jus yang sudah ia habiskan tadi. “aku sedang ujian semester. Jadi pulangnya tak sampai tengah hari” jawabnya masih ketakutan.

Tora mematikan televisinya dan bangkit berjalan menuju arah Saga. “kau ujian semester kenapa tak bilang padaku? Dan apa kemarin kau belajar?”
“aku sudah belajar, sebelum kau datang ke kamar Ruki. Dan mungkin percuma aku memberitahumu, kalau akhirnya kau juga tak mempercayaiku”

Tora tertohok mendengarnya. Selama ini dia salah. Ia terus menuduh Saga kalau dia bersalah, tapi kenyataannya berbeda.

“maafkan aku, Saga. Tadi malam moodku benar-benar buruk, dan maaf soal perkataanku padamu semalam.. yah?” ucap Tora sambil meletakkan tangannya di pundak Saga.
Saga hanya mengangguk saja. Dia lalu pergi ke kamarnya dan keluar lagi untuk membuat makan siang.

“Tora mau makan apa?”
Yang ditanya melirik sekilas “tidak usah memasak, seduhkan aku ramen cup saja”
Saga mengangguk. Segera ia melakukan apa yang diminta Tora. Menyeduh dua ramen cup ukuran large dengan air panas dari ceret.
Saga membawanya ke meja makan. Satu untuk Tora dan yang satu lagi untuknya, karena ia benar-benar lapar.

Tora memakan ramennya dengan tatapan menjurus ke wajah Saga. Ia tersenyum geli melihat tingkah makan Saga yang masih kekanakan seperti itu. Merasa diperhatikan, Saga mendongak dan bertanya, “kenapa tertawa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?”
“tidak. Makanlah sayurnya, jangan disisakan seperti itu” titah Tora sambil menunjuk potongan sayur-terutama seledri- yang di pinggirkan Saga dengan sumpitnya.
“aku tidak suka yang ini. Kau saja yang makan”
“dasar kau ini”
“oh ya, sebelum pulang aku sempat mampir ke minimarket. Aku belikan ini untukmu” Saga mengambil sesuatu dari tas sekolahnya-yang ia letakkan tadi di kursi meja makan-. Ia memberikan Tora sebuah cheesecake mini yang dibungkus dengan kotak kue transparan. “semoga kau menyukainya..”

“terimakasih ya”
Tora membuka tutup kotak kue itu dan mulai melahap kuenya. “enak sekali. Lain kali belikan lagi, ya..”. Saga mengangguk senang
Ponsel Saga yang tersembunyi di dalam tasnya tiba-tiba berdering dan bergetar.
“moshi moshi, Ruki-san. Doushite?”
Saga nampak serius mendengar ucapan Ruki, dan ia sempat melirik ke arah Tora seperti berpikir, dan kemudian ia menjawab Ruki lagi.
“maaf, aku tidak bisa. Malam ini aku akan di rumah saja” lalu Saga tersenyum kecil dan menutup teleponnya.

“Ruki mengajakmu belajar bersama lagi?”
“ya”
“kenapa ditolak? Kau harus belajar untuk besok”
Saga menggeleng pelan “selama Tora belum mengijinkanku, aku tidak akan ke mana-mana”
Tora mendengus keras “sekarang aku mengijinkanmu pergi belajar. Mau kuantar?”
“hontou?”
“cepatlah, nanti teman-temanmu menunggu”
“hai’” angguknya mantap.


Hari kedua ujian semester, Saga merasa tenang atas usahanya belajar bersama dengan teman-temannya. Hari ini seharusnya ia sudah bersiap pulang, namun langit tak bersahabat. Bunyi gemuruh sudah bersahut-sahutan, awan semakin gelap, dan tinggal menunggu saja hujan deras akan turun. Sial baginya hari ini lagi-lagi ia membawa sepeda-tak dijemput Tora seperti biasa-. Saga juga tidak tau Tora ke mana. Tora tak memberitahunya.
“bagaimana ini? Nekat pulang atau menunggu di sini saja?” gumamnya sambil memandangi langit.
Tak lama air hujan setetes mulai turun, lama-lama banyak dan deras. Saga menunggu hujan berhenti  di depan sekolah.
Lama sekali hujan tak kunjug reda. Sudah hampir malam ia masih saja menunggu di sana. “aku harus pulang sekarang. Nanti Tora khawatir lagi.”
Ia pun menaiki sepedanya dan bersiap pulang. Ia sendiri juga takut karena hujan kali ini benar-benar deras.
Saga menerobos hujan dengan kecepatan semaksimal mungkin. Sampai ia tiba di depan minimarket tempat ia beli cheesecake kemarin, ia langsung berhenti untuk masuk ke dalamnya.

***
Tora juga baru tiba dari rumah Nao-salah seorang koleganya-. Ia ke kamarnya namun tak menemukan Saga di sana. Tora berusaha untuk tidak berpikir negatif, melihat hujan lebat di luar sana. Begitu ia menelepon Saga, suara deringnya terdengar dari arah laci meja. ‘kebiasaan tak bawa ponsel!’ kesal Tora.

Ia menghubungi teman-teman Saga namun hasilnya nihil. Saga tak ada di rumah salah satu temannya. Tora sudah sangat khawatir akan hal-hal yang terjadi pada Saga.

Hujan makin lebat, namun tak mengurungkan niat Tora untuk mencari Saga di seluruh sudut kota. Dengan memakai jas hujan transparan, ia mengendarai sepeda motor dengan kecepatan pelan. Ia tak mau jika ia ngebut maka ia tak akan mendapatkan Saga dari pandangannya.

Di sekolah, Tora juga tak menemukan Saga. Ia sempat berhenti dan berpikir tempat-tempat mana saja yang biasa Saga singgahi.

‘mungkin di sana..’ batinnya

Sepeda motor Tora yang awalnya berkecepatan tinggi perlahan menurun, ketika matanya menangkap sosok yang ia cari. Sedang berdiri sendiri di depan toko kue yang pernah Saga ceritakan padanya tempo hari.
Ia berhenti dan memarkirkan sepeda motornya di seberang jalan. Pelan ia menghampiri Saga yang masih berdiri di sana. Menunduk sambil menyembunyikan kedua tangannya di ujung bawah baju seragamnya. Sekujur tubuhnya basah, dan pastilah ia sangat kedinginan.

“Saga...”

Saga mengangkat wajahnya dan sedikit kaget melihat Tora sudah membawa payung untuk memayungi dirinya.
“Tora...”

“apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau pulang!” ucap Tora tegas “..kau selalu membuatku khawatir”

“maafkan aku,, terus membuat Tora khawatir..” ujar Saga pelan “..aku hanya ingat Tora suka ini..” ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam seragamnya.
Sebuah cheesecake yang sangat Tora sukai.

Tora terdiam melihat apa yang baru saja Saga berikan. Tora selalu memarahi Saga jika anak itu lupa membawa ponsel, tapi Saga tak pernah lupa apa yang selalu menjadi kesukaan Tora.

Genggaman Tora melemah dan payung yang ia bawa pun terjatuh tanpa ia sengaja. Tora langsung memeluk sosok yang ada di depannya. Memeluknya erat dan mengusap kepala anak itu. Ia sangat menyayangi Saga, lebih dari sekedar sayang terhadap ‘adik’nya.

“Saga,,, daisuki,..”


OWARI

Saturday, December 8, 2012

Fanfic If he was yours



Title : If he was yours
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter : OneShoot
Genre : Angst, Drama
Pair : ShouXHiroto, ToraXHiroto (onesided), ToraXSaga
A/N : Kepala saya pusing, mikirin Ujian Semester, menjelang Try Out, Ujian Sekolah, Ujian Negara dan UMPTN. Untuk sementara beberapa bulan sampe pertengahan tahun depan, saya tidak memposting fanfic apapun. Karena saya terlampau sibuk mau Ujian. Do’akan saya saja semoga saya lulus dengan nilai terbaik dan bisa melanjutkan fanfic-fanfic nista lainnya. (sekian bacotnya)


If he was yours

Di sinilah kami sekarang, berlibur di sebuah areal pegunungan sekedar menghilangkan rasa penat dan jenuh setelah beberapa pekan terakhir kami harus disibukkan dengan jadwal live dan photoshoot sebuah majalah. Penginapan bergaya tradisional sengaja dipilih Nao agar lebih terkesan benar-benar ‘berlibur’ di Osaka. Selama seminggu kedepan aku dan keempat bandmateku akan menginap di sini.

“ini kuncimu, Shou” Nao menyerahkan kunci dengan gantungan bertuliskan nomor 04 padaku. Yak, di sampingku sudah ada Saga, dan dialah yang akan tidur denganku dalam satu kamar.
“sankyuu” ucapku singkat sementara aku melihat Nao memberikan sebuah kunci kamar pada Tora tepat di depanku. Sebenarnya ini kemauan Hiroto untuk bisa sekamar dengan Tora. Kau tau kenapa? Karena mereka sudah resmi berpacaran tiga minggu lalu. Oh, aku tidak ingin Tora macam-macam pada Hiroto yang masih kekanakan seperti itu, tapi aku juga tak bisa melarang keinginan keras Hiroto agar bisa sekamar dengan Tora. Jujur, hatiku sakit.

“hei, kau melamun Shou” tepukan Saga sukses membuatku sadar
“ah iya”
“masukkan kopermu cepat” suruhnya
“baik”

***
Siang ini benar-benar panas, tak ada satupun dari kami yang keluar penginapan. Saga dan Nao berada di kamar kami sambil menikmati AC dan menonton tv, sedangkan aku di ruang tengah ini hanya duduk-duduk di sofa, membaca majalah edisi keluaran minggu kemarin sambil meminum sekaleng cola dingin. Di depanku sudah ada Tora sedang bermain-main dengan gitarnya tanpa Hiroto, sesekali ia bersenandung.

Aku bosan.

Sampai suara derap langkah kaki yang terburu-buru semakin dekat ke arah kami, dan dari dalam muncul sosok kecil yang membawa gitar dan selembar kertas di tangannya datang menghampiri Tora. Wajahnya sangat riang dan tak bisa berhenti tersenyum. Aku senang melihatnya seperti itu. Sekarang ia duduk berdekatan dengan Tora, menyodorkan kertas yang tadi ia bawa dan berbicara yang cukup menarik perhatianku

“Tora, Tora, aku baru dapat nada bagus. Kau mau dengar?” ucap Hiroto, pemuda kecil itu mengambil gitarnya dan ia letakkan di pangkuannya
“boleh. Coba kau mainkan”

Petikan gitarnya yang khas ditambah nada yang ia mainkan begitu menyentuh, astaga, hatiku benar-benar sakit apalagi melihat orang yang kucintai tengah bersama orang lain di depanku sendiri. Aku masih melihatnya dari jarak yang tak terlalu jauh, kini Hiroto menyudahi permainannya, dan apa yang tak kuinginkan terjadi juga. Tora merapatkan dirinya pada Hiroto dan mencium pipinya sekilas, lalu mengelus puncak kepala Hiroto degan lembutnya. Jika perasaanku ini bisa divisualisasikan, mungkin sudah membara api di tubuhku ini.

Cemburu, aku sangat cemburu.

“Tora, kau ini” raut bahagia bercampur malu terlihat dari wajah manis Hiroto. Salah satu ekspresi wajah yang selalu aku inginkan darinya, tapi tidak untukku. Masih melihat sepasang kekasih yang kasmaran itu dari sini, merelakan apa yang seharusnya menjadi milikku tengah berduaan dengan sahabatku sendiri.

Jangan lagi Shou, jangan lagi.


“Shou-kun, kau mau ke mana?” suara Hiroto membuatku menoleh padanya ketika ku hendak pergi dari situ
“keluar sebentar, beli cola” aku beralasan
“di kulkas kan masih banyak?”
terpaksa harus berbohong lagi “sekalian jalan-jalan”
“aku boleh titip sesuatu?”
“boleh saja” kulihat ia kembali menatap Tora dan berbicara yang kesemuanya terdengar olehku

“Tora, kau mau apa? Mumpung Shou keluar”
ya ampun Hiroto, kau pikir aku pesuruh?! Jika kau tau perasaanku saat ini, aku akan memukul Tora sekarang juga.

“terserah kau saja” kata Tora, lagi-lagi dengan belaian sayang di kepala Hiroto
“baiklah. Shou-kun, aku titip edamame yah? Gak keberatan kan?” ucapnya dengan nada yang paling tak bisa kutolak.
Aku mengangguk dan keluar dari tempat menyebalkan itu. Bodoh kau Shou! Ini artinya kau sama saja memberi peluang besar pada mereka utuk terus bersama. Sedangkan kau, aku jadi kasihan pada diriku sendiri. Secara tak langsung, kau sudah membuatku menderita Hiroto.

Ketika hendak pergi, aku melihat Saga duduk di kursi ayunan sebelah penginapan. Dari kejauhan wajahnya nampak lusuh dan tak mengandung keceriaan sama sekali. Kuhampiri dia dan duduk di ayunan sebelahnya yang masih kosong.

“Nao mana?”
“masih di kamar” jawabnya singkat, tak menoleh padaku
“kau ada masalah?”
dia balik bertanya “apa aku terlihat seperti itu?”
aku mendengus “ceritakan padaku, kau tak pandai menutupi emosimu, Saga”
Kini dia yang mendengus, lama dia menjawabnya. “aku khawatir, Shou”

“aku khawatir tentang hubungan Tora dan Hiroto akhir-akhir ini” ucapnya lirih. Sedangkan aku masih terus menunggunnya bicara lebih banyak lagi
“mereka terlihat bahagia sekali. Aku iri” sambungnya

“kau menyukai Tora?” tebakku, dan aku tak sekedar menebak. Aku yakin Saga pasti menyukai Tora
“ketahuan juga akhirnya”
‘sudah kuduga’
Ternyata aku baru tahu kalau Saga diam-diam menaruh hati pada seorang Tora. Lucu sekali, di satu sisi aku menyukai Hiroto, dan di satu sisi lain Saga menyukai Tora. Ada kenyataannya Tora dan Hiroto sudah terikat dalam sebuah status berpacaran. Semakin menyedihkan saja aku ini.

“dibalik wajah seriusnya, Tora itu tipe orang yang butuh kasih sayang. Dan apa kau bisa lihat, sejauh ini Tora lah yang memberi kasih sayang dan perhatian itu hanya untuk Hiroto. Tapi tidak sebaliknya. Hiroto cenderung bergantung pada Tora dan kurang memberi perhatian pada Tora” jelasku

Lekukan kecil di bibir Saga terlihat jelas, ia tersenyum “ternyata bukan cuma aku saja yang menduga dan memperhatikannya. Kau juga, Shou. Apa kau sering memperhatikan mereka juga?”
“ya, seperti itulah. Aku juga sangat iri pada mereka”

“jangan bilang kau juga suka pada anak kecil itu?”
Aku terkekeh, sejurus aku duduk di ayunan sebelah ia duduk. “apa kelihatan begitu?” godaku.
“mungkin saja, kan?... oh ya, kenapa kau tak bersama mereka di dalam?”
“Hiroto titip edamame padaku, dan sekarang aku harus membelikannya”
“dasar kau...”
“aku harus segera pergi. Kalau tidak anak itu bisa mengomeliku nanti.. jyaa~~”

***
Makan malam kali ini cukup tenang, tak ada suara-suara berisik dari Hiroto, entah kenapa kali ini dia terlihat tegang dan matanya tertuju ke satu fokus saja. Biasanya ia yang paling selalu ribut dan meminta Tora untuk menyuapinya, kali ini tidak. Jelas sekali terlihat olehku yang berada di depannya. Kulihat Tora yang ada di samping Hiroto juga tak menimbulkan suara. Apa mungkin mereka marahan? Ah, itu tidak mungkin.

Di samping kananku, Saga hampir menyelesaikan makannya. Begitu juga Nao. Tapi Saga juga tak bersuara sedikitpun, oh yeah, kalau Saga memang tak suka berbicara saat makan. Tapi coba lihat sekarang, makan malam macam apa ini?! Sunyi senyap seperti pemakaman.
“aku sudah selesai, terimakasih atas hidangannya” seru Hiroto yang sudah meletakkan sumpitnya di atas mangkuk. Tetap dengan ekspresi yang tadi, ia beranjak dari sana. Namun tangan Tora lebih dulu menariknya kembali.

“kau mau langsung tidur?”
Hiroto menggeleng sedikit “aku mau nonton tv”, setelah Hiroto berkata seperti itu, genggaman Tora mengendur dan Hiroto bisa pergi dari situ.

Suasana kembali hening, Saga dan Nao tak terlalu mempedulikannya. Sampai aku bertemu pandang secara tak sengaja dengan si mata elang Tora. Aku menatapnya tajam, menuntut penjelasan apa yang terjadi pada Hiroto tadi. Tapi mengerti atau tidak, dia sengaja menunduk dan kembali makan.

‘kalau sampai kau buat Hiroto kenapa-napa, akan kuhabisi kau Tora!’ ancamku dalam hati.

Walaupun aku, Saga dan Nao sudah selesai makan, aku sengaja tetap berada di situ, menunggu Tora berbicara. Sementara tak lama mereka berdua sudah ke kamar masing-masing.

“kau apakan Hiroto?” ucapku dingin dan sukses membuat ia menatapku cukup lama.
dia mengunyah kecil dan menelan makanannya sebelum mulai bicara “aku tak melakukan apapun”
“lalu Hiroto kenapa jadi begitu?!”
“sudah kubilang aku tak melakukan apapun padanya. Ia sudah begitu dari tadi siang, Shou” jelasnya dengan penekanan di akhir kalimat. Aku bisa lihat kejujuran di matanya, ia tak berbohong padaku. Tapi kalau bukan dia, siapa atau apa yang bisa buat Hiroto seperti itu?

“aku mau menemui Hiroto, dan minta penjelasan. Sebaiknya kau juga harus kembali ke kamarmu, atau Saga akan kesepian di sana” ujarnya lalu pergi menyisakan aku sendiri di ruang makan.

Aku ragu untuk masuk ke kamarku sendiri, aku masih penasaran dengan apa yang Tora dan Hiroto lakukan di kamar itu. Sesekali aku melihat ke depan, tapi seperti tak ada aktifitas di sana, hanya suara dari tv yang terdengar. Semoga Hiroto tak kenapa-napa.
“lama sekali kau? Ngobrol apa saja dengan Tora?” baru masuk saja aku sudah diburu dengan pertanyaan ‘mau tahu’ Saga. Aku memijit pelipisku sendiri, dan duduk di ranjang sebelah Saga yang berbaring sambil bermain ponsel

“hanya masalah kecil” ucapku kemudian menyandarkan diri dan menarik selimut sampai batas pinggangku.
“masalah Hiroto?” aku melihatnya yang masih mengutak-atik ponselnya itu sekilas
“..apa tebakanku benar?” sambungnya lagi

Aku mengangguk “ya”. Dia tersenyum, pantulan sinar ponselnya membuat wajah bersihnya makin bersinar
“kalau kau menyukainya, katakan saja”
Wajahku sedikit panas, kau bercanda Saga?! Itu mustahil “dia kan sudah punya Tora! Kau ini bagaimana, sih?!”
Sekarang dia terkekeh, sepertinya dia berhasil membuatku terlihat bodoh “katakan dengan perbuatan, Shou. Beri perhatian yang lebih padanya”
“kau beruntung, Tora percaya padamu dan tidak terlalu menaruh curiga. Sedangkan aku, jika mau mendekati Tora saja aku sudah dipelototi dulu oleh Hiroto” lanjutnya

“kau benar. Mungkin aku harus lebih perhatian padanya”

Kuluruskan kakiku dan kuletakkan kepalaku di bantal empuk ini. Nyaman, berbicara sedikit pada Saga sudah membuat bebanku sedikit berkurang. Aku ngantuk sekali...

TOK TOK TOK

Spontan mataku terbuka kembali. Rasa pusing mulai menjalar di otakku . Aku pun menyuruh Saga membukanya, tapi ia tak mau dan malah bergegas untuk tidur.

Anggap saja ini bagian ungkapan terimakasih pada Saga karena sudah memberi solusi padaku tadi. Hufft, walau sebenarnya sangat malas melakukannya.

Orang di luar juga tak berhenti mengetuk pintu, semakin sebal saja aku ini. “iya tunggu sebentar”. Kuputar kunci dan membuka pintunya, dan siapa sangka kalau ia yang datang berkunjung. Aku sedikit kaget, tambah kaget lagi ketika beberapa koper miliknya sudah ada bersamanya.
“Hiroto? Ada apa?”
dia tersenyum manis sekali, “aku boleh kan tidur bersamamu di sini?”
Hee?? Tidak salah dengar? “bukannya tidak mau, tapi Saga nanti tidur di mana?”

“Saga-kun, sini sebentar. Aku mau ngomong” panggil Hiroto, kepalanya menyembul masuk memanggil Saga yang hampir tertidur. Mau tak mau Saga menyahut panggilan itu dan segera keluar

“ada apa, Pon?” matanya yang tertutup sebelah menandakan kalau ia akan segera tidur.
“hmm, Saga-kun boleh tidak aku tidur bersama Shou-kun di sini?”
Mata Saga membuka sempurna “hei, hei, lalu aku tidur di mana?!” protesnya

“Saga-kun tidurnya di kamarku, sama Tora”
Aku bisa merasakan Saga yang sudah salah tingkah. Ia mau menerimanya tapi masih terlihat bingung mau menjawab apa.
“mau ya?”
Akhirnya Saga bicara “bb..baiklah. aku ke sana sekarang” tanpa mengetuk pintu, Saga membuka pintu kamar Tora dan masuk ke sana. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya.

Sementara aku di sini, masih berdiri di depan pintu bersama Hiroto dan koper-koper miliknya. “ayo masuk, biar kubawakan ini” tawarku
“terimakasih” ia tersenyum lagi, manis sekali. Entah angin apa yang menerpa Hiroto sehingga ia bisa memutuskan untuk tidur denganku di sini. Aku senang sekali.

Kuletakkan kopernya di dekat lemari dan ia sudah naik ke ranjang bersiap tidur. “Hiroto,apa kau akan sekamar denganku sampai minggu depan?”
“iya. Boleh, kan?”
“tentu saja”

Hiroto sudah menarik selimut sampai batas lengan. Matanya belum terpejam, dan ruangan di sini mendadak hening. Desahan napasnya sampai bisa kudengar.

“Hiroto—”
“iya Shou?”
“ada alasan apa kau pindah ke sini?”
“oh, itu karena ada sesuatu yang harus kulakukan segera. Kalau tidak, aku akan lebih menyakiti orang lain”
“maksudnya?”
“...”

***
Selesai dengan makan malamya, Tora masuk ke kamar yang sudah ada Hiroto di dalamnya. Mendapati Hiroto tak menonton tv seperti yang ia bilang tadi, ia heran kenapa Hiroto malah mengepaki semua pakaian dan bajunya ke dalam koper. Tora menghampirinya.

“kau sedang apa?”
Hiroto mendongak sekilas dan kembali melanjutkan mengepaki barang-barangnya “aku mau pindah”
“hei, coba jelaskan padaku. Kau ini kenapa?”

Hiroto pun berdiri mendudukkan Tora di tepi ranjang dan ia duduk di sebelah Tora.

“Tora, sepertinya aku tak bisa menjadi pacar yang baik untukmu”
Kontan dahi Tora mengerut “kau bicara apa sih?”
“ada orang lain yang lebih mencintaimu ketimbang aku” ucapnya datar “aku ingin kau bersamanya, karena aku tau dia bisa membahagiakanmu”

Hiroto mengambil napas dalam dan mengeluarkannya pelan “aku mau kau bersama Saga”
Tora tak terkejut sama sekali, matanya makin menatap pemuda kecil di sampingnya itu “kau serius?” Hiroto tersenyum “aku sangat serius. Dan aku ingin kau pacaran dengannya”

“tenang saja, aku tak akan marah kok. Tapi kita masih jadi partner yang baik, kan?”

Shou terkesima mendengar penuturan Hiroto dengan wajahnya yang seperti tanpa beban “kau rela melepas Tora untuk Saga?”
“iya.. aku pikir mereka cocok”
“Shou... maaf aku sudah menguping pembicaraanmu dan Saga tadi siang”

Mata Shou terbelalak, pikirannya sudah kemana-mana. “kau menguping semuanya?”. Hiroto tersenyum “tidak. Aku mendengarnya sampai kau duduk di ayunan itu. Setelah itu aku pergi”

“tapi, aku ingin tau sesuatu. Shou kenapa iri padaku dan Tora? Apakah sama alasannya dengan Saga yang menyukai Tora. Atau jangan-jangan...”

“jangan-jangan apa?!”

“Shou menyukai.... Tora juga?”
Shou tertawa terbahak-bahak mendengarnya, dan  langsung mendapat pukulan kecil dari Hiroto. “kenapa malah tertawa?!”

“aku tidak pernah menyukai Tora. Dia itu sahabatku”

Hiroto jadi ingin tahu siapa orang yang bisa membuat Shou jauth cinta. Ia pun menanyakannya “jadi kau suka sama siapa, Shou?” ucapnya hati-hati

Shou seperti berpikir dan membuat waktu terasa lama, dan ini membuat Hiroto penasaran. Namun Shou mendekatkan telunjuknya di depan bibirnya seraya berucap pelan...

“Ra-Ha-Si-A”

Owari