Sunday, September 23, 2012

Fanfic Sweets Macaron [ShouXHiroto]



Title : Sweets Macaron
Author : Hikari Ogata a.k.a Eri Tonooka
Chapter : OneShoot
Pair : ShouXHiroto (mou)
Genre : Angst, Drama
A/N : jangan terjebak oleh judul yang keliatannya fluff banget.
Notes : Font Normal = Masa sekarang
            Font Italic = Masa lalu



Sweets Macaron


Kesalahan terbesar dalam hidupku mungkin adalah saat ini. Tak bisa menemanimu mungkin untuk yang terakhir karena keegoisanku. Setiap aku mengingatnya kembali, aku merasa akulah orang terbodoh di dunia karena tak mau meluangkan waktu sedikitpun untuk kekasihnya sendiri. Aku tak pernah menduga akan berakhir seperti ini. Melihatmu terbaring sangat lemah di ruangan menyeramkan sana, hatiku terasa sakit. Aku tak bisa meringankan kesakitanmu  dengan belaian tanganku. Tak bisa memberikan keceriaan untukmu, seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu.

Aku jadi tertawa sendiri, mengingat dulu aku mau menerimamu menjadi kekasihku. Walau sampai sekarang pun masih, tapi kau tak tau dulu aku menerimamu hanyalah untuk pelampiasanku pada gadis-gadis brengsek yang pernah kupacari sebelumnya. Dengan wajah polosmu, kau mendekatiku malu-malu dan mulai menyatakan cinta. Ditambah sebuah coklat batangan yang setahuku adalah coklat cukup mahal di Tokyo, kau memberikannya padaku sebagai tanda cinta. Tapi aku yang dulu tak peduli darimana kau mendapatkan uang untuk bisa membeli coklat semahal itu.

Senyumku pun terkembang secara spontan, kau datang di saat yang tepat. Di saat gadis-gadis itu berhasil memacariku hanya karena uang. Tak ada cinta berarti yang mereka berikan padaku, barang satu gadis pun. Namun kau tidak. Sejak pertama kali kau resmi denganku, kau selalu memperhatikanku tanpa menyinggung-nyinggung soal uang. Dan kau juga pernah berkata yang sampai saat ini aku masih mengingatnya dengan jelas...

 

“senpai tau tidak seberapa besar rasa cinta dan sayangku pada senpai?” celetuknya saat ia menyuapiku dengan kue mungil dan manis bernama macaron itu.

Aku mengunyahnya pelan sambil berlagak berpikir, dan sebenarnya saat itu aku sedang tak mempedulikannya. Pikiranku malah menerawang jauh pada seorang gadis-mantan pacarku-yang hampir membuatku tak bisa melupakannya. Karena mungkin aku terlalu lama diam, akhirnya ia lagi yang membuka pembicaraan.

“besarnya cintaku pada senpai tak bisa diungkapkan dengan hal apapun..” ucapnya bahagia sambil menyunggingkan senyumnya lebar. Aku sangat tau kalau dia benar-benar mencintaiku, tapi sayangnya aku tidak. “dan kalau aku boleh meminta, nanti sebelum aku mati, aku ingin senpai ada di dekatku. Menemaniku sebentar sebelum aku tak bisa melihat senpai lagi”

Terkejut memang aku mendengar dari seorang periang seperti dia. Hal yang selalu ia bicarakan adalah sesuatu yang cukup menyenangkan, tapi kali ini berbeda. Seolah-olah ia akan mati besok dan aku harus menemaninya sebelum ia berpindah ke dalam tanah.

Entah aku harus berekspresi apa. Hanya anggukan kecil, dan senyum tipis tanda persetujuan. Dan kembali ia menyuapiku dengan macaron-macaron mungil berwarna magenta pucat itu.
Rasa yang manis untuk ukuran sekecil itu, dan mungkin perasaannya padaku bisa diibaratkan seperti macaron ini.

Layaknya anak muda yang dilanda kasmaran, ia selalu mencuri kesempatan untuk mencium pipiku. Tak pernah sekalipun ia mencoba mencium bibirku. Itu adalah kebiasaannya yang aku sama sekali tak mempermasalahkannya. Dan pelan-pelan aku menyadari kalau ia tak berminat pada uang-uangku, melainkan sebuah kepedulian dan kasih sayang padaku untuknya.


Sangat jelas terpatri diingatanku betapa ia sangat mencintaiku. Lebih dari nyawanya sendiri.


Sudah empat hari Hiroto tidak masuk sekolah. Alasannya biasa, hanya sakit. Tapi apa sakit demam bisa sampai berhari-hari?! Teman-teman dan guru pun tak ada yang menjenguknya, mereka beropini kalau Hiroto hanya mengidap hipotermia akut karena lima hari sebelumnya ia dan teman sekelasnya sedang ada tes renang. Mungkin air yang dipakai terlalu dingin untuknya, jadi keesokan harinya ia langsung terserang demam. Begitu pun dengan Shou, pacar Hiroto yang duduk di kelas dua tingkat lebih atas itu. Ia tak terlalu peduli dengan Hiroto yang empat hari terakhir tak menemuinya ke kelas sambil membawa bekal bento untuk dirinya. Sempat ia khawatir tapi untuk apa, Shou sama sekali tak mencintainya. Hiroto adalah pelampiasan Shou agar Shou tak dibilang pecundang oleh teman-temannya.

Namun empat hari itu makin bertambah menjadi  seminggu, dan dua minggu. Tepat dua minggu sudah Hiroto tak menginjakkan kakinya di sekolah. Dan rasa khawatir itu mencuat keluar dari diri Shou. Ia berinisiatif untuk ke rumah Hiroto selepas pulang sekolah ini.
Sebelum ke sana ia sengaja mampir ke sebuah toko kue dan membungkus dua kotak macaron untuk dibawa sebagai ‘bingkisan cepat sembuh’ untuk Hiroto.

Sampai di depan rumah, Shou di sambut ramah oleh sepupu Hiroto-yang kebetulan adalah teman sekelas Hiroto-. Shou menjelaskan kedatangannya, namun Saga-sepupu Hiroto- berubah murung.
“maaf senpai, Hiroto tidak ada di rumah sekarang” ucapnya menutupi wajah sedihnya.
“lalu?”
“dia di rumah sakit”
Imajinasi Shou sudah menjalar ke mana-mana. Ia benar-benar khawatir akan hal ini.

“apa demamnya sudah separah itu?”
Saga menggeleng, “alasan sakit demam itu bohong. Ia tak demam sama sekali, atau hipotermia apalah yang mereka katakan,,”
Shou semakin bingung, ia guncangkan bahu Saga untuk dan membombardirnya dengan pertanyaan.
“lalu dia sakit apa?!” seru Shou sedikit membentak

Berat rasanya Saga mengatakannya, ia seperti takut menambah kelakuan dosa pada Hiroto. Karena sebelumnya Hiroto berpesan pada Saga agar ia tak memberithukan kepada siapapun tentang sakit apa yang ia derita, termasuk Shou sekalipun.

Namun akhirnya dengan paksaan Shou, Saga pun membuka mulutnya juga..

“dia coma”

Shou menundukkan kepalanya, menggenggam bungkusan bening kue macaron itu dengan sangat erat. Bisa ia rasakan telapak tangannya sudah tercap ujung kuku-kukunya. Sakit, lebih sakit dibanding ia ditinggal gadis-gadisnya yang terdahulu. Inikah keegoisan seorang Shou sampai-sampai kekasihnya sedang coma, ia sendiri tak tahu. 

“bawa aku ke sana sekarang!!”
“tapi—”
“cepat atau aku akan memukulmu,,!!”
“bb—baik”


Bukan karena air yang terlalu dingin di kolam renang kemarin, dan juga bukan kelalaian Shou menjaga Hiroto. Apa yang di derita Hiroto selama kurang lebih dua minggu ini adalah hal alami yang membahayakan. Sesuatu yang membuat Shou sangat terpukul sampai seperti ini. Ia terus menunggu di luar ruang ICU sambil terus menatap ke dalam di mana Hiroto terbaring lemah di sana. Shou sedih melihat beberepa selang itu ada yang masuk ke hidung, dan ada yang berujung jarum dan ditancapkan di punggung tangan Hiroto. Hiroto seperti mayat berbalut selang dengan irama menyakitkan dari komputer pendeteksi kehidupan di sampingnya.

Saga melihat Shou dari jauh sangat prihatin. Dalam benaknya, Hiroto pasti akan sangat senang jika orang yang ia cintai kini mengkhawatirkan hidupnya dan terus menunggu di luar kamar ICU. Tak kuasa Saga menitikkan air mata, mengingat Hiroto menderita hampir seumur hidupnya..

Ia menghampiri Shou yang masih menatap sedih kekasihnya di dalam sana. Menyejajarkan diri dengan berdiri di samping Shou, sama-sama melihat pemuda yang masih belum membuka matanya itu.

“Hiroto sakit apa?” tanya Shou yang terdengar janggal di telinga Saga. Padahal Shou dan Hiroto sudah berpacaran kurang lebih setahun, tapi Shou sama sekali tak mengetahui kehidupan Hiroto.
Saga menghela napas, masih menatap lurus ke dalam dinding kaca. “sejak umur tujuh tahun, dokter memberitahu keluarganya kalau otaknya bersarang tumor kecil,,”
“,,dan kemarin ia periksa, kalau tumornya sudah mulai membesar dan harus segera di operasi. Sebenarnya, dia coma setelah operasi yang berlangsung tiga hari kemarin”

Ironis sekali. Di saat hari yang sama, Hiroto sedang menjalani operasi yang berakhir coma, sedangkan Shou di tempat lain tengah bersenang-senang dengan teman-temannya. Makin berdosalah ia terhadap kekasihnya sendiri.

“kenapa kau tak memberitahuku,,”
“Hiroto melarangku memberitahu pada siapapun”
“apa kau tau kalau akan sangat buruk jika kau tak memberitahukannya sama sekali!” marah Shou. Dadanya terasa panas dan sesak, ingin rasanya menumpahkan emosinya di situ.

Namun secara tak sengaaja, kedua bola mata Shou menjatuhkan butir-butir air yang meluncur mulus. Ia tak terisak, hanya alisnya yang tertaut dan bibirnya yang sedikit bergetar. Terdengar bisikan kecil sebuah nama dari getaran bibirnya. Hiroto, Hiroto, dan Hiroto.

Shou terus mengulang nama itu, sampai Saga menyodorkan selembar tissue dari bungkusannya.
“presentase ia akan bangun hanya 0,1 persen. Begitu kata dokter,,”
Refleks Shou menatap Saga lekat-lekat “apa maksudmu hanya 0,1 persen??!!”
“tapi keajaiban bisa saja terjadi. Dan kita tidak tau apa keajaiban itu akan didapat Hiroto atau tidak”

Harapan Shou untuk melihat Hiroto sembuh semakin pupus. Hanya 0,1 persen, tidak ada yang bisa dilakukan Shou untuk menyelamatkan Hiroto dari maut. Ia kembali menangis, namun dengan isakan yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.

Terduduk lemas ia di kursi tunggu rumah sakit. Memijit pelipisnya yang terus berdenyut tak karuan. Perasaannya bercampur aduk, antara sedih, bingung, merasa bersalah, dan sedikit marah.
Saga kembali mengikuti jejak Shou dengan duduk di sebelahnya, mengusap punggung Shou agar ia tenang. “Hiroto pasti akan sembuh, senpai...”


Hari berikutnya, Shou kembali lagi menjenguk Hiroto. Kata dokter, Hiroto bisa dijenguk namun dengan jumlah orang yang sedikit. Shou masuk ke ruangan, membuka dan menutup pintu sepelan mungkin, walau ia tau itu tak akan berpengaruh pada Hiroto yang sekarang tak mendengar suara apapun.

Dua kotak macaron kemarin yang ia letakkan di meja Hiroto masih dengan kondisi semula. Dingin dan tak tersentuh. Shou mengambil sekotak macaron dan membukanya, dilihatnya macaron-macaron manis yang beraneka warna itu.

Ingatannya terulang lagi ketika mereka sudah berada di toko kue langganan Hiroto. Mereka berbincang diselingi acara makan cemilan kue favorit Hiroto. Macaron.

Shou berharap dengan membawakan kue kesukaan sang kekasih, maka itu akan membuatnya bangun dari tidur panjangnya selama ini. bangun dan kembali memeluk Shou. Ya, sekarang Shou sudah mulai membuka hatinya untuk Hiroto. Jujur, ia tulus mencintai Hiroto.

“Hiropon, cepatlah bangun.. aku mencemaskanmu..” lirihnya dengan pandangan sayu.
Pemuda yang berbaring di depannya itu tak bergerak sama sekali, tangannya dingin dan selang-selang itu membuka sedikit mulut yang seharusnya tertutup itu. Tubuhnya makin kurus sejak Shou melihatnya dua minggu yang lalu. Namun itulah yang membuat Shou tak ingin kehilangan Hiroto.

Shou mengangkat sedikit kotak macaron yang ia buka tadi dan memperlihatkannya ke arah Hiroto, “lihat apa yang ada di sini, macaron kesukaanmu..”
“aku merindukanmu,, aku menyayangimu..” ia letakkan kembali kotak itu dan memandang Hiroto lagi.


“aku tak bisa hidup tanpamu.... kumohon bangun Hiroto... aku benar-benar mencintaimu.. hik,,”
Shou menenggelamkan kepalanya di tepi ranjang, terus menggenggam tangan kanan Hiroto yang tertancap jarum infus. Ia menangis lagi, air matanya tumpah membasahi punggung tangan Hiroto. Walau Hiroto masih ada, tapi Shou sudah seperti kehilangan sosok kekasihnya.

Lama ia menangis di situ sampai tenggorokannya sakit karena terus memanggil nama Hiroto. Saat ia diam, Shou merasakan punggung tangan Hiroto yang sedari tadi ia genggam mulai menghangat dan sedikit menimbulkan gerakan. Ia juga bisa mendengar desahan nafas seseorang. Shou refleks mengangkat kepalanya dan melihat wajah Hiroto.

Ia bisa melihat kedua mata Hiroto terbuka dengan sangat pelan. Bernafaspun sangat kesusahan sampai Hiroto bernafas melalui mulut.
Bahagia terpancar jelas dari wajah Shou. Ia terus menepuk pipinya berulang kali kalau ini bukanlah mimpi. Ini nyata, dan setelah melewati dua minggu coma, akhirnya Hiroto pun bangun. Hanya dengan mendengar suara isi hati dari seorang Shou.

“Sh..ou..”
Bak roh yang kembali masuk ke dalam raga Shou, ia sangat bersemangat tatkala Hiroto memanggilnya, “iya, aku di sini”
 “Hiropon,,, syukurlah akhirnya kau bangun..Aku sangat merindukanmu”
Senyumnya tersungging lemah, tak seperti saat ia masih sehat dulu. Shou menyibak poni yang menutupi kening Hiroto dan mulai menciumnya. Shou benar-benar bahagia, malaikatnya kembali membuka mata, dan terlebih lagi namanya lah yang disebut pertama kali.

Wajah Shou kembali turun dan berhenti di telinga Hiroto, seraya berbisik "daisuki...”

“boku mo,,”


“cepatlah sembuh, dan bersamaku lagi,,”
Hiroto tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menutup pelan matanya lagi.


Shou tak berharap bangunnya Hiroto adalah untuk mengucapkan kata terakhirnya. Senyum bahagia itu berubah menjadi tangisan kehilangan. Tepat di saat itu, alat detak jantung berbunyi tanpa terputus, dan sang kekasih yang dulu sempat tak ia cintai kini tak ada lagi yang akan mengusiknya.
Untuk yang kesekian kali, Shou kehilangan kekasih yang ia cintai.



OWARI
Sweets Macaron