Sunday, July 24, 2011

Same Necklace

ummmm....co cwittt.... pengen........ cute....... kerennn....kakkoi.....
*meratapi piku di atas sambil nozblit*

Meeeee!!!! Hii desu!!

Foto nui diambil waktu aku ma temend" habis pengambilan nilai Seni teralkir kelas X... sebenernya nui foto udah di tag ke fb ku,, tapi aku pengen aja nampangin foto nui ke blog... hahaha,,, disitu aku yang pake topi+jilbab abu". it's me, Hii desu...
Aeigatou Minna-san~~~

Fanfic He's True My Boyfriend


Title                 : He’s True My Boyfriend ~end~
Author                         : Hikari Ogata
Fandom           : Alice Nine, (Miko) Existtrace, (Bou) ex-An Café
Pairs                 : ShouXHiroto, HirotoXMiko
Genre               : Romance, YAOI, normallity love (one side), drama, betrayal
Chapter            : Oneshoot
Summary         : Aku tak dapat berfikir jernih, otakku serasa diberi pertanyaan yang banyak dan membingungkan. Ada apa dengan mereka?
Mood               : pengen banget bikin fanfic yang real
Disclaimer       : di sini Bou saiia bikin jd wanita tulennnn. REMEMBER IT !!!
Songs               : Opening : Calm Envy (the GazettE), Ending : Goodbye Days (YUI)

~Calm Envy~
I want to see all of you, I want to love all of you
You don’t love the everyday, Shadow when it was lost

Aku masih bisa merasakan atmosfer kehadirannya, namun tak sedikitpun aku melihatnya lagi di sini. Hatiku sakit dan dadaku terasa sesak. Ku tak bisa berbuat apapun, semua ada di tangannya. Melihat ia tersenyum penuh arti, rasa perih hati ini tak tertahankan. Aku ingin menangis, menangisi untuk segala pilihanmu. Kumerindukanmu.. benar-benar merindukanmu
Suara-suara yang terdengar lirih terasa menyuruhku untuk mengetahuinya, dan ternyata Bou membangunkanku dari mimpi yang seharusnya tak ku mimpikan. Semua memori itu begitu jelas terrekam di otakku hingga berlarut menjadi mimpi yang menyakitkan, aku tak ingin kehilangan dia. Andai kau tau, aku sangat mencintaimu Ogata…
***
Semua berawal dari perkenalan yang begitu tiba-tiba dan mengagetkan, aku adalah seorang siswi SMU di Tokyo Daibutsu dan kenalkan namaku Miko. Banyak yang bilang aku ini tomboi dan penampilanku terkesan agak cuek dan lebih sederhana, tidak kebanyakan perempuan pada umumnya yang selalu mengenakan aksesoris berlebihan. Tapi inilah aku, aku bangga dengan diriku sendiri. Aku hidup di keluarga yang sederhana bersama ibu dan kakak perempuanku. Ayahku sudah lama tak bersama kami sejak ia meninggal lima tahun lalu, dan ibu sama sekali tak berniat menggantikan posisi ayah dengan orang lain. Hidup kami bergantung pada kakak yang bekerja di restoran terkenal di Shinjuku. Walaupun hidup kami seperti itu, tapi aku bahagia bisa mempunyai keluarga yang harmonis dan selalu menyayangiku. Sebelumnya aku tak begitu tertarik dengan memiliki pasangan, tapi setelah aku mengenalnya aku akan berfikir ulang jika akan mengucapkan kata-kata itu. Dialah cinta pertamaku.
“hai Miko?” seperti biasanya setiap aku masuk kelas, sahabatku Bou menyapaku dengan riang
“hai juga,Bou” tak banyak memang aku bicara, melihat seringnya dia bertingkah seperti itu
“hei, aku mau kasih tau sesuatu.. pasti kau tertarik” dia merangkul pundakku ketika aku akan duduk di kursi
“apa? Pasti kamu lihat cosplay-nya Ciel di majalah” aku memberi kesimpulan itu karena Bou adalah seorang otaku Kuroshitsuji, terutama karakter Ciel yang selalu dia bilang ‘kakkoi’
“bukan itu… ini lebih menarik,,, sebentar lagi ada anak baru di kelas kita” ucapnya antusias
“terus hubungannya apa denganku?” tanyaku santai
“anak baru itu cowok pindahan dari SMU Seika, yang terkenal itu… kata orang-orang dia cakepp banget.. kyaaa~~~aku mauuu…”
“ah, kau ini. Dia itu aneh, sudah tau dia sekolah di SMU Seika, malah mau pindah ke sekolah kita” ucapku santai
“yaa aku gak tau.. yang pasti aku pengen lihat dia,, cakep gak ya?”
“dasar maniak”
“weee” seperti biasanya, dia menjulurkan lidahnya padaku kalau ia sebal dengan tingkahku
“oya, Shou mana? Gak biasanya dia lambat” tanyaku celingak-celinguk melihat tidak adanya keberadaan Shou, salah satu sahabat kami. Shou dan Bou adalah sahabatku yang terbaik dan selalu menemaniku disaat kurapuh dan kesepian
“katanya dia masih ngantar adiknya ke sekolah, paling bentar lagi dateng”
“ooo, Shou anak baik”
“nah itu dia, bener kan?” Bou menunjuk-nunjuk Shou yang baru melangkahkan kakinya di kelas
“hei Shou, sini ngobrol bareng kami”
Shou pun berjalan santai menghampiri kami dan langsung duduk di depanku
“ada apa?”
“gini loh, aku mau kasih tau kalau nanti bakal ada cowok pindahan dari SMU Seika ke kelas kita~~” lagi-lagi Bou menyampaikannya dengan penuh semangat
“haa? SMU Seika? Gak salah tuh?”
“gak lah, katanya sih dia cakep gitu… pengen deh”
“dasar kau ini” Shou hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Bou yang selalu seperti itu.
Tak terasa bunyi bel pun terdengar, semua teman-teman langsung mengambil posisi duduk di tempat masing-masing. Hingga sang sensei masuk membawa seorang anak laki-laki yang berjalan di belakangnya. Laki-laki itu tampak manis, rambutnya pirang, dan aku berfikir apakah dia keturunan Amerika atau Eropa? Tapi rasanya tak mungkin melihat postur tubuhnya yang hampir sama denganku, sama-sama kecil. Aku heran melihat teman-temanku yang perempuan, terutama Bou, mereka sampai jerit-jerit melihat anak itu masuk kelas, ku rasa dia tidak tampan, namun ia memang terlihat manis. Mungkin aku bisa jadi partner yang baik untuknya nanti.
“ayo, nak. Perkenalkan dirimu” sensei mempersilakan dengan ramah anak itu untuk mengenalkan dirinya
“hai’. Ogata Hiroto desu. Panggil saja Hiroto, saya pindahan dari SMU Seika dan saya tinggal di apartemen dekat Akihabara. Dozoo yoroshiku ne” akhirnya dia keluarkan suaranya, terdengar ramah dan sopan. Cara ia berbicara mirip dengan cara berbicara anak umur sepuluh tahun. Tak terlalu nyaring, namun auranya dapat
“onegai shimasu” aku dan seluruh murid di kelas menjawabnya bersamaan
Ia lalu berjalan ke arahku atas perintah sensei, dan ia bukan akan duduk di sampingku, namun ia duduk tepat di depanku, bersebelahan dengan Shou. Ia duduk dan mengucapkan salam padaku, dan aku hanya bisa menjawabnya dengan seramah mungkin
Sempat aku mendengar bisik-bisik percakapan yang dilontarkan antara Shou dan Hiroto, dan yang kutangkap hanya percakapan ‘siapa namamu?’,’di mana tempat tinggalmu?’, dan semua tentang inner keduanya. Aku senang melihat Shou yang sudah bisa lumayan akrab dengan orang asing seperti Hiroto
Awalnya aku tak tau dengan kehidupanku selanjutnya bersama kedua sahabatku dan satu anggota baru, yakni Hiroto. Setelah dia akrab denganku, Shou dan Bou, ia sekarang bergabung menjadi salah satu anggota ‘The Best Friends’ yang mana itu adalah nama persahabatan antara aku, Shou dan Bou. Semakin hari Hiroto makin memperlihatkan inner-nya, dan aku kagum dengan kemampuan akademik dan olahraga yang dia miliki. Perlahan aku selalu memperhatikannya, dan sampailah perasaan cinta tumbuh di hatiku. Aku mencintainya, namun aku tak berani mengatakannya langsung. Hingga Bou tau bahwa aku mencintai Hiroto, dan aku kaget karena sikap Bou malah senang dan mendukungku untuk bisa menjadi pacar Hiroto. Padahal di hari pertama Hiroto masuk, dia yang paling bersemangat dan aku kira malah Bou yang menyukai Hiroto. Ia mulai mencomblangkanku dengan Hiroto dengan mengirimkan surat yang ia letakkan di loker milik Hiroto. Sampai Hiroto tau dengan isi hatiku selama ini terhadapnya, dia menerima dengan senang hati dan menerimaku sebagai soulmate-nya. Aku bahagia sekali, walaupun hanya sekedar pacar dan bukan sebagai istri sahnya.
Setiap hari kami memamerkan kemesraan kepada teman-teman dan hanya godaan yang dapat kami terima. Hiroto selalu memberikan suasana romantis tiap kali kami hanya berdua, dan itu yang menyebabkan aku tambah sayang padanya. Tiap kali aku kesulitan belajar, ia yang selalu membantuku, menemaniku belajar hingga larut malam. Kejadian itu selalu terrekam di otakku, menyadarkanku bahwa aku memiliki seorang yang pantas menjadi pemimpinku kelak. Terkadang aku hanya menghabiskan waktu berdua dengan Hiroto dan membuat komunikasiku dengan Shou dan Bou agak terganggu, namun Bou dapat memakluminya, lain halnya dengan Shou. Mendadak akhir-akhir ini Shou malah menjauhiku, apa mungkin dia tidak senang dengan hubungan kami atau apalah penyebabnya, aku tak mengerti. Sampai aku bertanya padanya dan ia hanya menjawab “tidak ada apa-apa. Mungkin Cuma perasaanmu”, sebenarnya apa yang terjadi dengannya.
“Hiro-kun, malam ini kau ada acara tidak? Aku mau mengundangmu ke acara ulang tahunku. Gimana?” waktu jam istirahat aku gunakan untuk berdua lagi dengan Hiroto, dan menanyakan sesuatu yang penting padanya
“malam ini? Umm, gak ada kok. Nanti aku akan datang ke rumahmu, dan kita rayakan bersama” jawabnya dengan tersenyum, memberikanku pengertian bahwa ia tak berbohong
“aku tunggu ya, jam 8”
“pastikan kau memakai gaun yang indah, aku ingin kau tampak lebih cantik di hari spesialmu” lagi-lagi ia membuatku luluh dengan kata manisnya. Dan sebuah jawaban malu-malu kuucapkan padanya
Aku pulang ke rumah langsung menyiapkan segala peralatannya, membuat kue ulang tahun yang spesial untuk kami berdua. Malam itu adalah malam yang akan paling membuatku bahagia, karena di hari ulang tahunku yang ke 17, aku bisa merayakannya bersama cinta pertamaku. Sungguh tak bisa kuungkapkan perasaanku waktu itu.
Hingga waktu menunjukkan pukul delapan, aku duduk menunggu kedatangannya di ruang tengah. Dengan persiapan yang matang untuk mengenakan gaun putih itu, aku bersabar menunggunya, dan yang kufikirkan waktu itu hanyalah ‘dia pasti datang dengan paling tidak membawakanku seikat bunga plum merah favoritku’. Waktu terus berjalan, satu jam, dua jam aku menunggunya namun ia tak kunjung datang. Dengan perasaan khawatir dan was-was, sesekali aku membuka pintu rumahku, mencari keberadaannya. Namun semua nol. Malam makin larut, dan kutengok jam di dinding dan kulihat jarum pendek menunjukkan pukul duabelas. Rasa kantukku tak dapat kuhindari lagi, perlahan mataku menutup. Aku tertidur di antara lilin yang masih menyala dengan kue bertuliskan ‘Together Forever’ di tengahnya. Sofa empuk menjadikan kasurku malam itu. Namun semua terasa nyaman.
Pagi-pagi aku berangkat ke sekolah, langsung mencari Hiroto di kelas. Tapi lagi-lagi dia tak muncul, hingga berapa saat dia menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku kaget, melihatnya dengan ekspresi yang tak seperti biasanya. Lalu ia mengajakku duduk dan mulai bicara, memberi penjelasan untuk kejadian semalam
“Miko-chan, maafkan aku untuk tadi malam. Aku tak bermaksud mengingkarinya. Ada sesuatu hal yang membuatku tak menemuimu” ia bicara to the point
“tak apa, itu bukan salahmu. Aku mengerti kok, mungkin urusanmu lebih penting” cukuplah aku memaksakan senyumanku padanya. Senyum rasa maklum dan kecewa.
“Omedettou, Miko-chan. This for you” ia mengucapkannya masih dengan ekspresi menyesal, dan ia merogoh tasnya, mengambil sekotak kado yang berlapis kertas perak dengan ikatan pita di atasnya. Tampilannya manis sekali, sederhana namun terkesan mewah.
“apa ini? Arigatou, Hiro-kun. Aishiteru kudasai” aku mulai membukanya pelan-pelan, dan yang kulihat di situ adalah sebuah kalung berbentuk hati dengan bermatakan berlian. Aku tak peduli dengan semahal apapun berlian itu tapi aku sangat berterima kasih padanya, namun yang terpenting bagiku adalah bagaimana ia mengucapkan ‘Omedettou’ padaku. Itu sudah membuatku bahagia
“kau senang?”
“aku bahagia. Karena kau ada di sini bersamaku, itu yang membuatku bahagia”
Pelukan hangat yang ia berikan padaku menambah lengkap perasaanku waktu itu. Semakin lama semakin hangat dan nyaman, Tapi aku terkejut dengan cara ia melepaskan pelukannya tiba-tiba, seolah ia hampir mendorongku. Aku benar-benar kaget, ternyata penyebabnya adalah kehadiran Shou di tengah-tengah kami. Shou dengan ekspresi kesal langsung meninggalkan kami, dan aku tambah dibuat bingung dengan Hiroto yang meninggalkanku. Dan anehnya Hiroto malah mengejar Shou keluar. Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Aku tak dapat berfikir jernih, otakku serasa diberi pertanyaan yang banyak dan membingungkan. Ada apa dengan mereka?
“Bou, apa kau merasa belakangan ini Shou dan Hiroto agak aneh?” di kantin sekolah, aku dan Bou membicarakan tentang Shou dan Hiroto dan meminta pendapatnya tentang mereka
“umm,, sepertinya iya. Aku lihat tadi malam Hiroto pergi dengan Shou, tak tau kemana. Apa kau tau?” penjelasan Bou membuatku kaget dan sepertinya ia tak berbohong
“haaa?!! Tadi malam? Seharusnya tadi malam Hiroto ke rumahku untuk menghadiri acara ulang tahunku. Sampai aku menunggu hingga larut. Tapi kenapa dia malah pergi dengan Shou?!” aku mengatakan yang sebenarnya tentang kejadian semalam dengan antusias, karena aku ingin mendengar penjelasan lagi darinya
“apa katamu? Berani-beraninya dia bikin kamu keak gini”
“tadi pagi juga aku lihat Hiroto mengejar Shou, gara-gara Shou melihat kami berpelukan. Menurutmu hal itu aneh gak sih?”
“ya aneh banget lah, buat apa coba Hiroto ngejar-ngejar Shou kalau gak ada apa-apa di antara mereka! Jangan-jangan….” Ucapan Bou memang begitu membuatku takut
“jangan-jangan apa? Jangan bicara yang tidak-tidak!” kubuang jauh-jauh pikiran negatifku tentang mereka
“kalau kau tidak keberatan, aku akan menyelidiki mereka untukmu? Bagaimana?”
“menyelidiki? Maksudmu menguntit kegiatan mereka?”
“BINGO!” acungan jempolnya membuatku yakin kalau dia benar-benar akan melakukannya
“aku akan memotret dan merekam kegiatan mereka yang setidaknya mencurigakan”
“mohon bantuannya ya” ucapku lirih
“sippp, Bou Kazuhiro bisa diandalkan. Hehehe”
***
Tiga hari kemudian kembali lagi aku mengajak Hiroto untuk makan siang di luar, tapi kali itu ia menolaknya dengan alasan harus mengantar ibunya berbelanja. Mau tidak mau aku memahami kondisinya, tapi sebuah rasa penasaran muncul dari hatiku. Aku akan memastikan kalau Hiroto benar-benar mengantar ibunya belanja atau tidak. Ketika ia keluar rumah, aku melihatnya dengan pakaian yang rapi dan kelihatannya seperti tidak akan menganarkan ibunya belanja. Segera aku membuntutinya hingga sampai café di Harajuku. Dari luar café aku mengintip seperti papparazi, melihat apa yang akan dilakukan Hiroto setelahnya. Sekitar sepuluh menit kemudian datanglah seorang yang amat sangat kukenal menghampiri Hiroto. Dialah Shou, sahabat ‘TERBAIKKU’dengan mengenakan pakaian yang agak visual, dia duduk diseberang Hiroto dan memulai pembicaraan yang sangat-sangat menyakitkan. Membuatku benar-benar menangis.
“apa kabar? Lama ya nunggu?” Shou memulai pembicaraannya, terdengar seperti gaya bicara orang yang sudah akrab dengan Hiroto.
“gak juga, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” Hiroto juga sepertinya tidak ada rasa canggung berbicara dengan Shou
“seperti yang kau lihat ini. Aku baik-baik saja. To the point aja, ntar malam kau ada acara tidak? Aku ingin mengajakmu makan malam”
“gak ada. Kalau untukmu, semua kegiatan akan kubatalkan. Termasuk janji dengan Miko pasti kubatalkan. Tadi saja dia ingin mengajakku makan siang di luar, tapi mengingat aku akan bertemu denganmu di sini, aku pura-pura saja ada urusan dengan ibuku. Hahaha” ketika aku mendengarkan ucapan itu dari mulutnya langsung, aku ingin menangis dan tak terasa aku benar-benar menangis saat itu.. aku tak sanggup melihat dan mendengar apapun dari mereka. Tapi aku butuh lebih banyak bukti darinya.. walau harus mengorbankan hati dan telingaku. Hatiku sakit..
“dasar kau ini. Sebetulnya kau itu cinta gak sih sama Miko?”
“waktu pertama sih iya, tapi setelah kau mengajakku ke belakang sekolah diam-diam.. yah, aku malah tertarik padamu, walaupun kita sama…”
“dan asalkan kau tau, aku sama sekali tak punya perasaan apapun dengan wanita. Biarpun cantiknya seperti Sawajiri Erika ataupun Hamasaki Ayumi, tapi aku memang tak tertarik dengan lawan jenisku. Apa kau sepertiku juga?” sekarang Shou perlahan menggenggam tangan Hiroto dan mengaitkan jari-jari mereka satu sama lain. Mereka tak tau apa yang mereka lakukan sedang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku kecewa..
“aku tak tau,, mungkin dulu aku sering memacari gadis-gadis tomboi yang dandanannya seperti laki-laki. Dan mungkin itu yang membuatku tak menyukai gadis lain, tapi ingat ya, Miko tidak termasuk. Menurutku Miko berbeda dengan gadis kebanyakan yang selalu inginkan materil. Dia apa adanya, dan itu yang membuatku sempat suka padanya” seperti yang kulihat, Hiroto makin mempererat genggamannya
“kau benar, dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, dan aku tak tega melihat dia kalau mengetahui hubungan kita”
“kita tak bisa terus-terusan membohonginya, aku juga kasihan”
“bagaimana kalau kita memberitahukan yang sebenarnya padanya” ucap Shou yang sampai membuat hiroto membelalakkan matanya
“kau bercanda?! Aku tak tahu reaksinya nanti, pasti dia akan membenci kita”
“pasti seperti itu. Besok kita akan rundingkan lagi” Shou kini mencium punggung tangan Hiroto. Menambah rasa sesak di dadaku.
Kalian memang jahat padaku. Aku benci kalian. Secepatnya aku aku menemui Bou di rumahnya, menceritakan semua kejadian tadi padanya.
“Bou……” melihatku yang datang tiba-tiba dengan menangis ia sangat bingung dan heran. Tak biasanya aku ke rumahnya dengan ekspresi yang tidak bersahabat seperti itu
“Miko,, ada apa? Kok datang-datang nangis?” dia memelukku, memberikanku sebuah sandaran untuk bercerita
“Hiroto dan Shou…” ucapku terisak
“kenapa lagi dengannya? jangan-jangan..”  Bou memasang nada khawatir
“Hiroto dan Shou…. Mereka,, mereka gay..”
“sudah kuduga. Kau lihat mereka di mana?”
“di café Harajuku… mereka benar-benar melakukannya di depanku”
“tenang ya.. sebenarnya aku sudah dapat bukti-bukti akurat tentang mereka. Kau bisa lihat sendiri” Bou meraih tas dan mengambil handycam hitamnya. Ia tunjukkan beberapa adegan disaat Shou dan Hiroto tengah berdua. Aku makin sakit hati melihat adegan mereka yang selalu melihatkan keintiman. Shou benar-benar mencium pipi Hiroto dan menggenggam tangannya sehingga nampak Hiroto tak bisa berbuat apapun
Perasaanku waktu itu kalut,, sangat-sangat kalut. Bahkan aku sempat berucap tak akan pernah menemui mereka lagi. Andai kau tau Hiroto, aku benar-benar mencintaimu, dari dasar hatiku.
Keesokan harinya aku dan Bou menemui Hiroto dan Shou yang tepat waktu itu mereka sedang di aula. Aku langsung menginterogasi mereka, terutama Hiroto.
“Hiro-kun, kemarin kau benar-benar menemani ibumu belanja atau tidak?” aku pura-pura tak mengetahuinya dan memasang ekspresi ramah agar ia tak curiga dengan pertanyaan yang tiba-tiba ini
“iya, aku benar-benar mengantarkan ibuku belanja. Memangnya kenapa? kau tidak percaya?” ia berkilah
“lantas kemarin yang di café itu siapa?” pertanyaan keduaku ini membuat mereka kaget dan mencoba menguasai diri mereka
“di café? Kemarin aku tidak ke café. Mungkin kau salah lihat Miko-chan” dia mengelaknya
“kumohon Hiroto, Shou, jangan bohongi aku lagi. Aku sekarang ini sudah sakit, kenapa kalian masih saja puas membohongiku?” aku memang sudah tak tahan dengan emosiku itu, dan aku menangis lagi. Menangisi betapa bodohnya aku, namun aku masih mencintai Hiroto. Aku tak bisa kehilangan orang yang kusayangi lagi.
“bohong apa Miko? Kami tak membohongimu” kali ini Shou angkat bicara
“cukup. Aku punya bukti untuk kalian” dengan segera aku sodorkan handycam milik Bou. Membukakan potongan video dimana mereka tengah berdua
“Miko, kau..” Hiroto seolah kehabisan kata-kata, mereka sudah terpojok dan hanya tinggal menunggu saja sampai mereka mengaku yang sebenarnya
“maafkan kami, Miko. Kami memang tak bisa pungkiri lagi. Kami memang ada special something, dan sekali lagi maafkan kami” Shou meraasa sangat bersalah padaku, karena ia adalah sahabat baik yang telah mengambil sesuatu yang berharga milikku
“Miko-san. Aku ingin buat pengakuan, He’s True My Boyfriend” Hiroto mengatakan itu sambil melirik Shou, dia benar-benar tak mencintaiku lagi. Hiroto, aku sayang kamu melebihi apapun, tapi akhirnya kau mengkhianatiku seperti ini.
Hatiku sakit dan dadaku terasa sesak. Ku tak bisa berbuat apapun, semua ada di tangannya. Melihat ia tersenyum penuh arti, rasa perih hati ini tak tertahankan. Aku ingin menangis, menangisi untuk segala pilihanmu. I’m still loving you, and I’m not forgotten you. I love you so much,..
Mereka pergi meninggalkanku dan Bou, tapi Hiroto masih sempatnya memberikan senyumannya untukku, berharap semua kan baik-baik saja. Meyakinkanku bahwa hari esok nan indah pasti kan tiba, memberiku sugesti bahwa ‘The Best Friends’akan tetap hidup walau harus tanpa hadirnya mereka di sini.

~Goodbye Days~
Onaji uta o kuchizu sono toki soba ni ite, I wish
Kagayaku nai, yasashisa ni aete yokatta yo. Lalalala Goodbye Days…

OWARI

p.s : satu penpic buatan saiia yang kedengarannya aneh, tapi itulah ide yang muncul dari otak saiia. Sebenernya sih waktu mo bikin ini bingung nyari chara cewek tulen. Dan setelah saiia ingat ingat, ternyata ada Miko Existtrace yang muncul di depan saiia sambil ngomong “choose me! Choose me!”.  Hahaha,, ya jadilah penpic ini..

MOVING CLASS AT MY SCHOOL



Sudah ada seminggu, kok rasanya agak aneh ya harus ngluyur sana sini, pindah kelas sana sini, macam orang kuliahan. Yah, mo gimana lagi namanya juga sekolah pengen maju dan itu sudah disepakati oleh guru” kami..  yup, MOVING CLASS,, semacam metode pembelajaran yang selama ini diberlakukan untuk para mahasiswa, dan sekarang sudah diterapkan di SMA saiia… kabar buruk apa kabar baik yah?? Gak tau deh,  soalnya banyak bener orang” yang bilang bagus trus ada juga yang bilang gak bagus… heeuuu, mana SMA saiia naik turun gunung lagi,,(luas banget booo’, harus naik turun tangga). Satu semester bisa turun lima kilo, sudah kurus tambah kurus lagi aku nih…
Teman-teman SMA SIX, terutama anak XI IPA A’yee ku tercinta,,  setuju gak sih kalian with the first moving class metoda???!!! Capek nahh,,, mana kagak punya kelas lagi.. heheuu,, pusing deh harus baca & hapal denah ruangan…
Tapi dibalik itu semua, ada tersimpan kebahagiaan karena baru di kelas XI IPA A ini, saiia sudah di ajari sama guru BIOLOGI favorit saiia sekaligus guru favorit di SMA SIX saiia,, bahagia rasanya… gyahahahaaaaaa, *nama guru dirahasiakan*
Pokoknya aku harus belajar yang rajin, biar bisa jadi diplomat!! Cause that is my future dream…


Curhatan ini bisa dilihat di : www.numpangcurhat.com.por

Friday, July 15, 2011

Pairing Sejati Saiia




















KYAAAAAA!!!!! SHOUPON FOREVER TOGETHER!!!!!

New Piku about my HipoN

Piku ini yang membuat saiia sakit hatii...... T^T T^T T^T
Ini juga bikin sakit hati.. T^T T^T T^T
Tapi kalau yang nui,, aku pengennnnn sekali..............(co cwitttt)
Piku yang ini,, bikin saiia pengen towel-towel tuh pipi... imyuut
yahhh,, saiia nge-post ini cuma sekedar menuh"in arsip.. hahaha, karena itulah saiia..(bingun mo posting apa)




Tuesday, July 12, 2011

White Prayer by Alice Nine [Romaji lyric]



White Prayer [Romaji lyric]
alice nine.
So many lies, so much pain. miminari wa tomaranai
hitori no yoru no oto ga shizuka de
Searching for Raison d’etre. hakushi no hitonami ni
gokusai no penki wo mochi aruku

itsukaraka nani mo kanjinaku natta

And cry, with love wasureteru hazu sa
guree ni somatta sekai ga riaru janai to
nemutte mo nemutte mo asa wa konai kara
ima kono te de kagi wo akeyou

Black or white, jewel or stone.
muryokusa ga itoshikute
muryoku nara dareka wo motomeru kara
Please save me, with a white rose. itami wo wakeaeru,
sou dekiru tsuyosa ga hoshii

"kitaisuru koto wo wasureta kimi e"

And cry, with love dakara tsutaetai
kanashii uta mo kesshite mudajanai to
nemutte mo nemutte mo asa wa konai kara
ima kono te de kagi wo akeyou

doredake iro wo kasanete mo
somaru koto no nai ore de iyou

And cry, with love wasureteru hazu sa
guree ni somatta sekai ga riaru janai to
nemutte mo nemutte mo asa wa konai kara
ima kono te de kagi wo akeyou