Saturday, March 30, 2013

Tragedi Cat Tinner Hatsune Miku




Ujian praktek seni di sekolah gue mengharuskan untuk membuat sablon bertemakan kartun. Whatever you wanna choose anything cartoon. Banyak yang gambar Tom&Jerry, Spongebob, Smurf, Pokemon, Winnie the Pooh deelel.. Gue kepikiran untuk membuat sesuatu yang sangat berbeda dari kartun-kartun jenis itu. Gue pun menggambar Hatsune Miku sebagai model gambar sablonan gue.

Berbekal foto Hatsune Miku di laptop, gue gambar dalam bentuk chibi. Soalnya kalo yang bener-bener Hatsune Miku, rasanya sulit banget mengingat detail anime Jepang sangatlah rumit. Walaupun Hatsune Miku sendiri bukanlah anime, melainkan sebuah software yang bisa nyanyi.

Oke, gue pun menggambar pakai kertas karbon supaya bisa tercetak di kain kaos. Lumayan juga sih, keren walau belum diwarnain. Tanpa ba-bi-bu lagi, gue bareng temen sebangku gue mulai ngewarnain itu Hatsune Miku.

Setelah hampir 50% tercat, tiba-tiba hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Temen gue si Indri berniat untuk membersihkan kuasnya dengan mencelupkannya di air dekat meja gue. Mungkin dia gak tau atau lupa, kuasnya pun diangkat dan dia kibas-kibaskan tepat di atas kaos Hatsune Miku gue!! Dan yang terjadi adalah, kaos putih gue terdapat bercak-bercak hijau yang sama sekali gak nyambung sama warna Hatsune Miku yang biru itu!!! So, gue langsung melotot ke arah dia dan dianya jadi takut ngeliat gue udah kayak barong kesurupan gitu. Gue mencoba sabar dan membiarkan bercak hijau yang masih basah itu mengering.

Karena waktunya gak cukup, gue pun membawanya pulang untuk diselesaikan. Sampai rumah gue berpikir, bercak-bercak hijau kayak gini nutupinnya gimana, ya?? Aaduh, bingung gue.. Dan gue langsung keinget kalau Hatsune Miku itu kan nyanyi, dan nyanyi itu identik dengan blok nada. Jadi, gue memutuskan untuk menutupi sebagian bercak-bercak hijau itu dengan menggambar blok-blok nada *mengeluarkan napas setengah lega*.

Tapi masalah lain muncul ketika gue baru sadar bercak hijau itu gak Cuma nempel di atas gambar Hatsune Miku, tapi ternyata juga ada di bagian lengan yang jauh banget dari gambar utama. Gue pun berkonsultasi sama Bokap gue, gimana caranya buat hilangin itu?? Bokap gue pun mencari cat putih yang bercampur tinner untuk dicat di bercak hijau tadi. Baunya menyengat banget, bau tinner campur cat sablon. Pengen muntah deh..

Gue nunggu aja berharap catnya segera kering. Tapi, sampai malam pun cat putih+tinner itu gak kering-kering. Aduh, gimana ini?! Selidik punya selidik, ternyata cat itu memang gak bakalan bisa nyatu sama kaos, dan masalah paling besar itu pun terjadi juga. Warna hijau gak hilang, bau tinner yang menyengat, dan ditambah bercak tinner yang membekas kayak bekas iler bersarang di lengan kaos Hatsune Miku gue.. padahal, sablonan gambar si Hatsune Miku nya sudah bagus dan rapi. Tapi kenapa???!!!! Oh tidak!!!!

Gue pengen nangis, gue udah marah waktu itu. Dan parahnya, Bokap gue menghindar dan seolah-olah itu bukan kesalahannya.. #$%%&%$#$%^&&^%$

Hari pengumpulan akhirnya tiba, gue pun merelakan nilai praktek seni gue yang mungkin akan standar-standar saja (padahal gue pengennya delapan puluh lima lebih). Gue membungkus kaos itu di dalam plastik yang tentunya sudah dilipat sedemikian rupa. Jadilah yang terlihat hanya gambar Hatsune Miku yang bagus, padahal di dalamnya terdapat sebuah tragedi cat tinner yang bau). Ya, tak apalah, lagipula gue juga gak mau dikutuk gegara ngelawan Bokap sendiri. huhuhuhu,,

Yosh, inilah hasil kaos Hatsune Miku gue dan temen gue.. (gak keliatan lengannya kalau ada bekas cat tinner)

Sotoy Pembawa Bencana




****
Sotoy atau sok tau adalah hal yang lumrah bagi setiap orang kalau harus dihadapkan pada seseorang yang ingin bertanya atau sekedar ingin tahu. Kalau pun kita menjawab gak tau, pastinya gengsi dong, apalgi gue yang gengsinya selangit ini. Dengan kesotoy-an gue, gue akan menjawab pertanyaan orang-orang yang nanya ke gue dengan sedikit aksen meyakinkan. Dan hasilnya mereka 75% percaya. Alhamdulillah..

Tapi di saat itulah, kesotoy-an gue membawa bencana bagi gue sendiri. Ceritanya berawal pas hari Sumpah Pemuda tahun 2012 kemarin hari Minggu. Dari sekolah gue menyuruh beberapa muridnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan jalan santai (yang diadakan walikota) di GOR Segiri Samarinda. Well, gak Cuma jalan santai biasa doang, kami harus make kostum ala anak seni atau kostum atlet. Nah, karena gue cosplayer gue coba aja ikutan pake kostum Vampire Knight (tapi gak pake wig). Gue udah matching pake blazer putih, rok putih, kaos kaki putih dan make up gue juga udah pas.

Sekolah memberi tahu kalau jalan santainya dimulai jam tujuh. Padahal gue mikir waktu itu, kok jam tujuh sih? Gak kesiangan kah? Namun gue urungkan untuk berkata seperti itu. Gue lebih baik diam dan menunggu temen-temen gue dandan. Ada yang pakai kostum petani, hansip (yang selalu foto-foto dan yang ngefoto adalah gue!), anak SD, anak TK (nah kalau yang ini lebih mirip anak SLB akil baligh. Sumpah, gak matching sangat), ada yang pakai kostum bencong, maling dan lain-lain. Gak lupa spanduk atau lebih tepatnya kertas karton yang ditempel-tempel dengan tulisan “ARTIS PALARAN” udah siap ditangan untuk nanti jadi ikon buat sekolah gue.

Waktu menunjukkan sudah hampir jam tujuh dan para temen-temen cewek gue itu masih aja dandan gak selesai-selesai. Karena gue emang gak biasa menunggu dan  telat kalau datang ke acara apapun, gue sudah mencak-mencak dalam hati sambil tereak “WOII!!! LELET AMAT SIH?! GAK TAU KAH UDAH HAMPIR JAM TUJUH?!!”. Gue emosi. Tapi lagi-lagi gue urungkan niat untuk berkata seperti itu karena gue liat temen gue yang lagi dandan bawa arit dan gue gak mau ngerasain arit itu nancap kepala seseorang. Yakni gue!

Akhirnya karena sudah nyaris telat, kami segera berangkat namun temen gue masih ada aja yang belum selesai dandan. Damn it!. Karena itulah temen-temen gue berrencana untuk menyelesaikan dandanannya di rumah salah satu guru seni kami yang ada di Samarinda. Gue gak sendiri naik motor ke sana, gue diharuskan untuk membonceng salah satu temen dari temen gue yang mengenakan kostum anak SD. Sebut saja namanya Kriwil. Sebenernya gue mau-mau aja barengan sama itu orang, tapi gue males yang ngebonceng. Yang jadi masalahnya dia gak mau bonceng pakai motor orang, dan hasilnya adalah gue yang bonceng dia. Truthly, that’s annoying me so much.

Perjalanan dari Palaran ke Samarinda kurang lebih satu jam dan jam tujuh lewat kami sudah nyampe di sana (rumah guru seni gue). Gue udah ketar-ketir nih telat apa kagak ya? Aduh, kalo telat nanti kan jadi malu. And then, temen gue yang belum selesai dandan itupun cepet-cepet dandan. Namun karena tak ada satupun yang bersedia mendandani dia, akhirnya gue yang turun tangan. Gue gambar matanya jadi kayak nenek sihir (karena dia pake kostum nenek sihir). Dan resultnya lumayan bagus kok. Gak percuma gue sering nonton tutorial make up cosplay di YouTube. Semua sudah selesai, kami pun berangkat ke GOR yang memakan waktu sekitar lima belas menit.

Pelan-pelan gue udah nyampe gate entrance dan dari kejauhan gue udah liat buaaannnnyak banget orang-orang di sepanjang jalan juga dengan banyaknya botol minuman yang berserakan di sekitar mereka. Ada yang duduk, ada yang berdiri, dan ada yang telentang di tengah jalan (ini bohong).  Gue masuk dan diikuti temen-temen gue di belakang. Gue sudah parkirkan motor gue dan temen gue baru aja dapat sms kalau kami harus ke bagian belakang GOR karena temen-temen yang lain sudah ada di sana.

Berbekal nekat dan sedikit malu, gue jalan aja ngelewatin orang-orang yang lagi kecapek’an di sana. Dan akhirnya gue menemukan sebuah truk yang disebelahnya sudah ada temen-temen, adek kelas dan guru-guru gue. Satu hal yang gue sudah duga sebelumnya adalah, guru gue mengatakan bahwa jalan santainya sudah selesai lima menit yang lalu. SIALAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!

Bener apa yang gue pikirkan dari tadi. Orang-orang kecapek’an di sana ternyata udah selesai jalan santai. Jelas gue jengkel, mengingat ini salah siapa coba? Pertama, salah guru gue yang bilang kalau mulainya jam tujuh, dan yang kedua adalah salah temen-temen gue yang lelet dandan. Saat itu gue pengen banget rasanya memakan tiang lampu di sebelah gue dan menelannya tanpa dikunyah... (maaf agak ekstrim).

Tapi enaknya, para guru udah siapkan sarapan buat kami semua. Yah, lumayanlah walaupun makannya beralaskan kertas nasi doang dan gak pake sendok. Cukup membuat kekesalan gue nambah satu. Karena kesel, gue jadi gak mood makan. Gue Cuma numpang makan sama temen gue si Gede dan untungnya dia gak keberatan. Gue bingung habis ini mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu ya? Temen gue yang berkostum bencong pun itu menawarkan ke gue untuk nonton film di 21. Yah, lumayan daripada langusng pulang gak ada kerjaan juga. Gue pun ikut, dan tentunya bareng Kriwil karena dia gak ada tumpangan lain buat pulang kalau dia pulang sekarang juga.

Sebelum itu kami ke rumah guru seni gue lagi buat ganti baju. Yaeyalah, mana mungkin ke mall pake kostum bencong dan hansip?! Setelah semuanya udah siap (kecuali gue yang tetep make rok tapi atasannya pake jaket plus sendal jepit punya guru gue), gue dan temen-temen cabut ke 21.

Dengan uang sebesar 35 ribu, kami akan nonton film (waktu itu kami nonton Sang Martir) dan menunggu cukup lama untuk film yang akan diputar dua jam lagi. Gak tau harus kemana, akhirnya kami duduk-duduk di bangku sebelah Restoran China yang sangat mahal. Kami ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Dan temen gue berkostum hansip (namanya Egi) pun memanggil gue untuk memfoto dirinya bersama sang pacar. So what?! Cuman gue dan Kriwil yang jomblo di situ? Payah! Dan setelah beberapa kali gue encok gara-gara nahan hape buat foto dia, Egi pun minta temen yang lain buat fotoin dia bareng gue. Ya sutralah... jadi kerjaan kami di situ ya foto-foto gaje dan ketawa-ketawa yang gak kalah gaje juga.

Menunggu dua jam untuk film diputar bukanlah sesuatu yang singkat. Sebentar-sebentar berdiri karena capek duduk, begitu sebaliknya. Karena kami duduk di sebelah restoran China, gue dan temen-temen gue ngeliatin aja orang-orang yang keluar masuk itu restoran. Pertama adalah satu keluarga Chinese lengkap dengan kakek nenek dan cucunya keluar dengan wajah kekenyangan dan kemerahan, apalagi yang perempuan (termasuk neneknya) pake rok setengah paha (pahanya juga merah). Apa mungkin di sana mereka makan kepiting rebus bersama dengan airnya yang mendidih? Gue hanya mengira-ngira. Gue bilang sama temen gue, si Zuni “yang keluar orang Cina. Pantes. Orang kaya”. Dan dia langusng mengangguk sambil cekikian.

Setelah tiga kali keluar, yang terlihat hanyalah sekeluarga Chinese dengan wajahnya yang kemerahan. Dan yang kali ini cukup buat gue dan temen-temeng gue rada kaget. Yang keluar adalah satu keluarga India asli dengan bahasanya yang juga pakai bahasa India. Posturnya tinggi besar, kulitnya hitam dan hidungnya mancung sekali. Kalo gue disejajarkan sama mereka mungkin gue sudah kayak segede upilnya mereka. Kecil sekali... Mereka gak cuman ibu bapak adek kakak doang, mereka ternyata juga bawa bayi yang masih tidur di kereta bayi. Temen gue penasaran dan dia pura-pura jalan padahal cuman mau ngeliat gimana rupa si bayi. Apakah sama mancungnya atau tidak?. Dan dia bilang kalau si bayi ternyata lebih mancung dari kedua orang tuanya. WTF! Gue langsung minder dan mengelus-ngelus hidung gue. Betapa hidung gue ini sangat terdiskriminasi oleh hidung orang-orang India.

Dua jam berlalu, kami pun segera ke 21 dan gue gak surprise sih melihat bioskopnya masih sepi. Orang pertama yang masuk ke bioskop cuman kami mengingat filmnya gak terlalu booming. Sudah ada teh dingin dan popcorn asin di sebelah gue. AC mulai dinyalakan sampai full, dan brrrrrr.... dingin banget gilaa!! Untung gue pake jaket. Lima belas menit filmnya diputar, mendadak migren gue kumat dan gue memutuskan untuk pejamkan mata dan ternyata kebablasan tidur sampe dua puluh menit. Setelah otak gue refresh, gue jadi semangat nonton lagi sampai selesai. Film yang diputar kurang lebih dua jam ini mengingatkan gue kalau sekarnag sudah jam empat sore. Parahnya gue belum sholat Dzuhur dan Ashar. Dalam hati gue minta ampun banget,, kenapa gue jadi lupa begini. Dan gue mikir untuk pulang sekarang dan menunaikan keduanya di rumah.

Tapi salah satu temen gue baru aja dapat kabar kalau Bokapnya meninggal di rumah sakit. Temen-temen gue pun segera ke rumah sakit dan gue bareng Kriwil aja yang pulang. Gue nanya sama dia “lo hapal jalan gak?” dia jawab “gak”. Mampus gue! Namun kesotoy-an gue muncul tiba-tiba. Gue jalan aja seenaknya tanpa terasa gue udah muter dua kali di tempat yang sama. Setelah jengkel, gue pun gak sadar kalo gue sudah berjalan lawan arah. Tambah parahnya lagi, kawasan yang gue salah arah itu deket sama pos polisi. JDUUAARRR!!!!!. Akhirnya gue kena tilang.. pak polisi jelek!!!!! Mana motor gue baru lagi, oh Kurohime (motor gue).. maapin mamih yaa~~. Pak polisi pun minta duit 250 ribu dan sial gue cuman punya 150 ribu lebih tiga ribu. Gue minta patungan sama Kriwil buat nambahin 100 ribu sisanya, dan dia bilang “duit gue udah habis tadi buat nonton film”. DOBEL MAMPUS!!! Gue pasang muka melas aja sama itu polisi, dna akhirnya diterima juga duit 150 ribu itu, walaupun dengan berat hati gue memberikannya.

Setelah di kasih tau jalan sama polisi jelek itu, akhrinya gue bisa pulang. Masih kesel karena duit 150 ribu gue lenyap ditelan polisi, gue makin ngebut Magrib Magrib itu. Dan gue baru sadar kalo panah bensin gue udah ke level merah. Bensin gue habis sialan!! Gue masih berterima kasih karena Kurohime gak mati di perjalanan. Gue pun nganter pulang si Kriwil dan gue pun pulang sambil nangis.. “MAKK,, GUE KENA TILANG!!!”

Jadi janganlah sotoy di manapun lo berada. Karena kesotoy-an mampu membawa bencana dan malapetaka bagi lo sendiri. dari sini gue juga udah belajar kalo gue jadi orang yang akan dibonceng, bukan yang ngebonceng.

***

Hidup di SMA Cukup Tiga Tahun, Gak Lebih!




***
Sebelum akhirnya tanggal 15 tiba (baca: dua minggu lagi), gue sempetkan ke warnet langganan untuk memposting ini. Ya, inilah derita gue dan seluruh siswa SMA tahun ketiga angkatan gue. Derita di mana format ujian tahun ini jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Soal-soalnya akan dipersulit dengan tingkatan 10% mudah, 70% sedang, dan 20% sukar. Dan jika soal yang didapat salah cetak atau cacat, itu harus ditukar dan kalo lupa nukar maka harus ngulang dari awal tanpa adanya waktu tambahan. Damn it.

Ujian yang akan dihelat selama empat hari itu mungkin akan menjadi hari-hari pendidihan otak gue, tapi semoga aja migren gue gak tiba-tiba muncul di saat gue ngerjain soal-soal kampret itu. Dari enam pelajaran yang disuguhkan, gue paling ragu sama ability Fisika gue. Bukan karena gue bego atau apa, tapi pengajaran yang dikasih sama guru Fisika gue itu yang jadi masalah. Males juga lagi orangnya, dongkol bener gue dapet guru macam begitu. Heuh,,, memang susah sih Fisika dibanding pelajaran lainnya. Bener kata orang kalo Kimia jauh lebih mudah dibanding Fisika. Tapi ya gue berharap semua pelajaran yang diujikan gue bisa ngerjakan dan dapat hasil yang muasin hati gue.

Berbekal lembaran soal UN tahun lalu yang sekarang dikumpulkan sudah setebal buku ensiklopedia, dan beberapa buku tips&trik menjawab soal UN, gue wajib siap menunggu kedatangan teror UN (kayak didatangin pocong aja). Menteri Pendidikan sangatlah baik untuk tahun 2013 ini. Bapak Menteri dan anak buah mau meluangkan waktunya untuk membuatkan soal sebanyak 20 paket dan yang sama sekali berbeda (jadi atu ruangan soalnya gak ada yang sama). Saran saya nih, pak, sebaiknya Bapak gak usah bikin soal banyak-banyak deh, kan nanti ngoreksinya juga repot. Pasti Bapak nanti capek, ya kan? (dilempar bakiak sebelum ngomong gitu ke Menteri).

Ini benar-benar keterlaluan! Kenapa selalu tahun angkatan gue yang jadi sapi (?) percobaan?! Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? *nanya sama ayam piaraan*. Gue jengah! Gue muak! Gue kebelet boker! (loh?).

Katanya sih kenapa tahun angkatan gue ini paket soal UN dibikin 20 adalah, karena banyak terjadi kecurangan di tahun-tahun sebelumnya (yang setahun lalu itu baru 5 paket). Lebih tepatnya sih, karena banyak yang ketauan nyontek waktu kerjakan soal UN (dan masalahnya PERBUATAN ITU KETANGKAP KAMERA METRO TV !!). Jadi itulah penyebab kenapa Pak Menteri mau-maunya bikin soal 20 paket. Sekalian aja tahun depan satu sekolah soalnya gak ada yang sama! Bengkak dah itu tangan bikin soal 192 paket. Marak’e emosi ae!

Sebenarnya inti dari semua inti pembuatan 20 paket soal UN adalah, supaya kita bisa terbebas dari yang namanya ‘mencuri’ tingkat pelajar a.k.a menyontek. Tapi itu gak adil! Jangan lihat dari sekolah di kota dong, pak! Lihatlah mereka, saudara-saudara kita yang ada di pelosok desa, yang hanya punya murid enam belas. Apakah Bapak yakin masih ingin membuatkan soal dua puluh paket? Padahal muridnya hanya enam belas, pak! Seharusnya Bapak bisa mengerti. Dan apakah Bapak tega membiarkan empat paket yang tersisa nantinya akan dikerjakan oleh sang pengawas? Kan kasihan pak, mereka yang dengan uban putih dirambutnya harus berpikir keras menyelesaikan Ujian SMA untuk yang kedua kali. Gak bisa ngebayangin gue seandainya yang ngawas itu adalah nenek gue dan teman-teman veterannya.

Kalo sudah melewati hari-hari di neraka (baca: Ujian Negara), gue berasa kayak sehelai kapas yang diterbangkan angin sampai ke padang bunga berwarna-warni dan ditemani kupu-kupu yang sedang terbang sambil ngupil. BEBAS BANGET!!! Dunia serasa milik gue dan burung-burung yang lagi ngupil itu. Apalagi kalo sudah tau hasilnya dan gue dinyatakan Lulus tanpa syarat (kayak keluar penjara aja). Widihh,,, si burung pun gak ngupil lagi, tapi boker.

Sejenak gue ngerasakan betapa singkatnya gue berada di SMA. Betapa mudahnya gue masuk waktu itu (tanpa test, hebat kan gue?). Dan betapa cepatnya teman-teman baru gue menjadi sekumpulan orang-orang gak waras (termasuk gue). Mulai dari yang suka gosip sampe yang suka bernapas di dalam aer (yang ini bohong).

Semua orang yang ada di kelas IPA 1 (tak terkecuali wali kelasnya), adalah orang-orang terpilih karena bakatnya yang luar biasa dalam hal Koplak Mengoplak (apaan tuh?). Jauh sebelum Hawa tercipta untuk Adam, gue sudah tau bahwa hidup di SMA itu cukup tiga tahun, gak lebih! (sekolahnya Mpu Gandring juga tiga tahun). Tiga tahun di SMA cukup membuat otak gue rada semrawut. Yang dulunya bulu kaki gue lurus, berubah jadi kriting gantung gini (?). Dan tinggi gue yang dulunya setinggi pohon jambu cangkok’an, sekarang......masih sama. Mengingat temen-temen gue adalah orang-orang unik, jadi mari gue perkenalkan satu-satu, dan mungkin perkenalan ini akan selesai sampai akhir tahun 2080.

Sarif. Orang yang sering kami panggil dengan Sarap eh salah,, Sarip. Lelaki dengan tampang lumayan di kelas. Hobi gambar dan nonton anime (belakangan ini diketahui dia sering nonton anime hentai).

Gintta. Orang yang suka tidur pada saat jam pelajaran berlangsung. Tipe orang yang seperti: kalo-gue-males-ngomong-sama-lo-lebih-baik-gue-tinggal.

Kropon. Weits, ini bukan nama sebenarnya. Nama asilnya Ayu. Orang yang hobi berhijab aneh-aneh dan sudah menjadi rahasia umum bahwa setelah lulus dia akan menikah dengan sang pujaan hati.

Bimbi. Orang yang terlalu heboh sendiri dan hobinya suka bikin puisi (yang isi puisinya cukup membuat gue merinding karena membacanya dengan aksen vibrato).

Nindi. Cewek tinggi yang dikenal karena kebaikannya menolong teman-temannya dan bersedia menumpas kejahatan di bumi bersama Satria Baja Hitam.

Erin. Orang yang gampang ketawa walaupun apa yang diketawain hanyalah sebatas Sugondo (tukang parkir sekolah) melajukan motornya di belakang kelas.

Eva. Tapi kami sering  manggil dia Epa. Orang yang sabar karena sering dihina-hina. Hobinya adalah internetan dan cari cowok ganteng.

Hanif atau biasa kami panggil Hanip. Lelaki berjanggut (walaupun masih SMA) yang ketenarannya sudah melanglang buana sampai ke dasar lubang buaya karena kepiawaiannya bermain gitar sambil ngelawak. (bisa bayangin gak lo, sambil metik gitar dia langsung ketawa-ketawa gak jelas).

Febri atau Pebri. Salah satu manusia terkecil di kelas gue yang otaknya rada encer lah, tidak berbanding lurus sama gue (apa mungkin karena kebiasaan gue yang sering ngumpet di freezer?). Paling hebat kalo sudah ngolokin orang. *ngelus dada*

Ferina atau Ina. Temen sebelah gue yang sabar banget karena sering dihina-hina. Tanpa adanya perlawanan, karena dia malas melawan. Yang ada hanyalah sebuah kutukan mematikan dari mulutnya saat ia dihina.

Ice (baca: I-C-E). Orang timor yang gak punya kulit kayak orang Zimbabwe berjemur di padang mahsyar kebanyakan. Hobinya nyanyi dan itu kebukti dari suaranya yang gak sefals suara gue.

Indri. Cewek penjual krim penghilang daki di kelas yang sering merajuk kalo dijahilin. Akhir-akhir ini dia jadi keranjingan nonton anime.

Isnawati (kalo kurang berkenan, Wati nya bisa dicoret, kok). Orang terkecil di kelas gue dengan badan yang cukup semok. Paling gak bisa diem untuk menghina kalo udah ketemu sama guru Seni kelas gue.

Nenek Karin. Udah kurus, ceking, item, hidup pula! Orang yang hobi cari cowok ganteng dan nangis tiap malam sambil meratapi cowoknya sambil bernyanyi ‘betapa kejamnya kau pada diriku~~’

Laila. Makhluk pucat (sampe gue pernah ngira dia itu kunti berseragam putih abu-abu) yang sering mengklaim dirinya adalah vampire. Hobi berlama-lama di warnet sambil melakukan hal yang lain (misalnya masak nasi dan cuci piring).

Mayke atau Mike. Orang yang suka bergosip dengan gue di pojok kelas. Sangat mencerminkan sekali dari diri seorang ibu RT tukang gosip.

Gede. Sesuai dengan namanya, badannya juga gede. Hobi nonton film dan dia ini termasuk orang ter update di kelas. Jadi kalo ada info apapun, gue gak akan buka internet, karena internet gue adalah dia.

Tika. Orang yang cerewet pada hal apapun. Mengubah kenyataan menjadi sesuatu hal yang bisa bikin gue ketawa. Entah karena (gue dasarnya) gila atau apa, gue bisa aja ketawa gara-gara dia ngomong.

Nova atau Nopa. Orang dengan badan besar namun berhati sensitif. Suka ngeremehin orang dan tingkahnya yang sering buat annoying gue.

Novi atau Nopi (sodara kembarnya Nopa). Gak ding, ngarang. Yang paling cakep di kelas gue, secakep (pembantunya) Arumi Bachsin. Namun terkadang cerewetnya bisa kambuh setiap saat.

Rahma atau panggilan akrabnya adalah Madam. Jauh banget, sumpah. Dialah tukang jaga duit di kelas gue dan addictednya sama kayak gue. Suka warna merah. Walaupun sama-sama suka warna merah, tapi kenapa otak gue gak seencer dia??!!! *meratapi nasib di WC*

Dika. Nama panjangnya Rini Hardika. Tukang bikin heboh di kelas, apalagi tempat duduknya yang strategis (yakni TEPAT DI DEPAN GUE!) jadi memudahkan dia untuk membuat konsentrasi gue pecah ketika sedang khusyuk ngerjain soal.

Eres. Makhluk terlebai yang pernah Tuhan ciptakan di muka bumi ini. Sampai-sampai kelebai-an nya itu bisa membuat ayam gue di rumah bisa kejang-kejang karena dia sudah berjoget ria tak tau tempat.

Zuni atau Juni. Orang berkulit putih (ngalah-ngalahin Laila) yang sering bikin kelakuan aneh. Sedang belajar giat agar kelak cita-citanya tercapai jadi seorang istri tentara.

Santi. Makhluk pendiem yang sekali ngomong bisa melumpuhkan beberapa pasukan densus 88 ketika sedang menggrebek pelaku bom. Bukan karena omongannya, tapi karena dia bawa bom atom buat di lempar ke itu densus.

Sarifa atau Ipeh. Anak kecil paling kecil di kelas. Cerewet dan sering berdialog dengan bahasa Jawa. Hobinya menonton Dunia Lain, Dua Dunia dan acara-acara sebangsanya.

Shella. Salah satu atlet hockey yang terobsesi banget sama Avril Lavigne (penyanyi keroncong tempo dulu).

Aji. Lelaki terakhir yang ada di kelas gue. Kebiasaannya adalah pake kaus kutang di kelas sehabis pelajaran olahraga (menunjukkan ke khalayak umum betapa kerempengnya dia).

Tias. Manusia yang sama kecilnya kayak Pebri namun agak berwarna. (jangan lo bayangin warna badannya dia polkadot warna-warni). Hobinya beli barang-barang di Sophie Martin.

Yenni. Informan di kelas gue yang sering sms info buat kelas (kalo ada sms gratis tentunya).

Eka atau sering dipanggil Jebe. Ahli waris Pincuk United yang gak bisa diam (namun semenjak di kelas tiga ini dia sedikit lebih diam. Alhamdulillah).

Sekarang giliran gue memperkenalkan diri. Apa? Gak boleh? Damn it,.. padahal ini kan blog gue.. *ngacir ke ketek bang Juki*. Pokoknya gue harus dapat bagian. Ehmm, gue adalah manusia bumi berwujud tuyul yang hobi blogging dan nulis cerita-cerita aneh nan vulgar. Ya, itulah gue. Dan yang tadi itu temen-temen gue, numpang lewat aja mereka.

Gue jadi gak sabar pengen cepat-cepat lulus dari sekolah ini. Gue pengen menyebut kuliah dengan sebutan Ngampus, dan tidak lagi dengan sebutan Ngekolah (maksa banget kedengarannya).

What ever lah, yang penting gue lulus (dgn nilai bagus) dan cepet-cepet liburan tiba.. otak gue ini udah meronta-ronta minta di refresh secepatnya.

Minna, temen-temen seperjuangan gue, senpai-senpai yang terhormat, kohai-kohai gue yang ganteng dan cantik, temen-temen author, temen-temen sesama Gazerock Sixthgun, temen-temen Cosplayer, temen-temen Number Six, dan para reader setia fanfic-fanfic gue di mana pun kalian berada, gue minta do’anya supaya gue lulus UN tahun ini. ArigaTora~~~~*tebar menyan*

***